
"Apa yang sedang kau pikirkan Mekar?". Tanya Elang dengan mendongakan dagu Mekar.
"Kangmas aku tidak bermaksud berburuk sangka atau asal menuduh, tapi menurutku ada yang sedang menjebak Lala mas, bukankah sebelumnya Lala tidak pernah bertingkah aneh, semenjak dia pergi ke bukit untuk membantu mbakyu Sekar mencari ramuan obat-obatan, dia tiba-tiba mengenal seorang laki-laki lain di alam kita, bukankah hanya sedikit laki-laki yang mengetahui keberadaan Lala di alam ini". Jelas Mekar pada Elang.
"Kau benar juga Mekar, aku terlalu marah sampai tidak berpikir seperti itu, lalu bagaimana sebaiknya, aku tidak bisa berpikir jernih lagi karena Lala menghilang entah kemana, rasanya seperti sebagian hidupku hancur". Tukas Elang dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Kangmas Elang harus mencari tau yang sebenarnya, jangan sampai hubungan kalian hancur karena ulah seseorang". Jelas Mekar dengan senyum ramahnya.
Sementara itu Sekar meminta seorang pelayan istana untuk mengantar ramuan obat yang Mekar berikan tadi padanya, karena sebelum itu Sekar sudah mencampurkan racun ke dalam gelas ramuan obat.
Setelah anak manusia itu meminum ramuan yang sudah ku campur racun, dia akan tersiksa dan sekarat, batin Sekar dengan seringai diwajahnya.
Kemudian pelayan istana itu bergegas ke kamar Senopati dan memberikan ramuan obat itu, nampak Senopati sedang terlelap sehingga ramuan itu tidak langsung diminumnya.
Sedangkan Sekar yang melihat melalui mata batin nya nampak kesal, karena ternyata Senopati belum meminum ramuan yang dicampur racun itu, dan dari arah belakang Mekar menepuk pundak Sekar yang tidak tau jika Mekar ternyata datang menghampirinya.
"Mbakyu sedang apa, apakah ramuan obatnya sudah diminum Seno?". Tanya Mekar dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Tadi aku memberikan nya pada pelayan, karena aku harus menemui romoku sekarang juga, aku permisi dulu ya Mekar". Jawab Sekar seraya melesat menjauh dari Mekar.
Kenapa mbakyu Sekar bertingkah aneh ketika aku menyebut nama Seno, ya sudahlah aku akan ke kamar Senopati untuk memastikan dia meminum ramuan obat itu, batin Mekar didalam hatinya.
Ketika Mekar sampai di kamar Senopati, nampak anak malang itu sedang tertidur dengan badan yang gemetar, lalu Mekar yang sangat cemas membangunkan nya.
"Nak bangunlah minum ramuan obat ini dulu ya, sepertinya ibundamu tidak bisa datang untuk merawatmu, jadi aku yang akan menggantikan nya merawatmu". Tukas Mekar seraya memberikan segelas ramuan obat dari tabib istana.
Terlihat Senopati meneguk habis ramuan itu, tanpa dia sadari ramuan itu sudah dicampur racun oleh Sekar.
"Kau istirahat lagi ya nak, aku akan sering menjengukmu". Ucap Mekar dengan mengecup kening Senopati.
Tapi tiba-tiba Senopati memuntahkan darah berwarna hitam pekat dengan sedikit warna kemerahan, nampak Mekar terkejut dan membulatkan kedua matanya.
"Kau kenapa to No, sebenetar aku akan memanggilkan tabib istana". Seru Mekar seraya melesat meninggalkan Senopati yang masih memuntahkan isi perutnya.
Kemudian tabib istana pun datang dan memeriksa kondisi Senopati, sedangkan Elang yang mendengar kabar tentang anak bungsu nya yang makin parah sakitnya semakin cemas dan mendatangi kamar anaknya.
"Mekar ada apa sebenarnya, bukankah kau sudah meminta tabib untuk mengobatinya, tapi kenapa dia bisa jadi seperti ini". Tukas Elang dengan wajah yang cemas.
"Aku sudah meminta tabib memeriksa nya tadi pagi, dan Senopati menjadi seperti itu setelah meminum ramuan obat yang tabib itu berikan". Jelas Mekar dengan wajah sendu.
Lalu tabib itu menghampiri Elang dan menjelaskan jika anaknya Senopati telah meminum ramuan obat yang dicampur racun, dan itu adalah jenis racun yang dimiliki makhluk gaib tertentu, jadi hanya makhluk gaib yang memberikan Seno racunlah yang bisa mengobatinya.
Terlihat Elang menjadi sangat murka ketika mendengar ada yang berniat mencelakai anaknya, Elang tidak menyangka ada yang berani meracuni anaknya di istana nya sendiri.
"Kurang ajar siapa yang berani melakukan itu pada anakku". Pekik Elang murka dengan gigi taring nya yang mencuat keluar begitu saja.
"Sudahlah kangmas, kau jangan terbawa amarahmu kembali, yang terpenting kita harus menemukan pelakunya, supaya dia dapat memberikan penawar racun itu pada Senopati". Ucap Mekar dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi siapa yang sudah berani melakukan semua ini, aku akan mencari tau dalang dari masalah ini". Ucap Elang dengan suara beratnya.
"Iya kangmas kau harus mencari pelakunya, tapi kau jangan melakukan apapun padanya, karena kita membutuhkan penawar racun itu darinya". Cetus Mekar menenangkan Elang.
Kemudian Elang duduk dan menghembuskan nafasnya panjang, Elang menatap sendu anaknya yang terbaring tidak berdaya dengan wajah yang membiru.
Siapapun yang sudah membuat anakku menjadi menderita begini, aku akan membalasnya, batin Elang sangat murka.
Sedangkan Sekar yang baru saja kembali ke istana mendengar kabar jika Senopati sedang sakit keras, nampak hatinya sangat senang dia menyeringai di depan pelayan istana, dan pelayan itu mengkerutkan keningnya, setelah melihat reaksi Sekar yang nampak senang dengan berita yang dia sampaikan.
"Ini untukmu pergilah". Tukas Sekar seraya memberikan segepok emas pada pelayan istana itu.
Aku harus berpura-pura simpati dihadapan kangmas Seno, supaya tidak ada siapapun yang mencurigaiku, batin Sekar seraya melesat ke arah kamar Senopati.
"Kangmas bagaimana keadaan Senopati, dan dimana Lala kenapa dia tidak disini untuk menjaga anaknya". Seru Sekar berlagak memperhatikan Seno.
"Aku tidak tau dimana Lala, dia tidak ada dimanapun, aku sudah mencarinya ke seluruh tempat tapi dia tidak ada, entah kemana dia pergi meninggalkan anaknya yang sakit seperti ini, sebenarnya aku tidak percaya jika Lala pergi meninggalkan anaknya yang sedang sakit". Jelas Elang dengan memijat pangkal hidungnya.
Benar juga kata kangmas Elang, tidak mungkin Lala pergi begitu saja meninggalkan anaknya, jangan-jangan semua ini adalah perbuatan Bagaskara, batin Sekar mengkerutkan keningnya.
"Entahlah Mekar, aku tidak tau apapun karena semalam aku sedang menghabiskam malam bersama kangmas Elang". Jawab Sekar dengan seringai diwajahnya.
Apa jangan-jangan Lala melihat kangmas Elang bersama mbakyu Sekar, dan dia pergi dari istana ini, tapi kemana Lala bisa pergi, dia hanyalah manusia biasa yang tidak mempunyai kesaktian apapun, batin Sekar memikirkan semuanya.
"Kangmas bisakah kita berbicara berdua saja". Tukas Mekar memandang wajah Elang yang sendu.
Kemudian mereka berdua berjalan agak menjauh dari Sekar, dan Mekar menanyakan kenapa dia menghabiskan malam bersama Sekar, bukankah dia sudah berjanji pada Lala jika dia hanya akan bersama Lala setiap malam.
"Aku tidak bermaksud mengingkari janjiku padanya, tapi entah apa yang terjadi padaku malam itu, aku tidak dapat mengingatnya karena tiba-tiba aku terbangun di kamar Sekar". Jelas Elang dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Apakah kangmas yakin tidak mengingatnya, mungkin saja Lala melihat kalian berdua bersama sehingga Lala menjadi sangat terluka dan memutuskan untuk pergi meninggalkan istana ini". Ujar Mekar menatap tajam pada Elang.
Howeeek howeeek...
Tiba-tiba terdengar Senopati yang memuntahkan isi perutnya kembali, kini tubuh Seno semakin melemah dan sangat tidak berdaya.
Senopati yang masih kecil lupa jika ibundanya sudah tidak ada disana, dia memanggil ibundanya berkali-kali dan ingin menemuinya.
"Anakku ibundamu juga sedang sakit di kamarnya, kau harus sembuh jika ingin menemui ibundamu" Tukas Elang seraya memeluk tubuh Senopati yang sangat lemah itu.
Kemudian tabib istana datang untuk memeriksa kondisi Senopati, nampak tabib itu menggelengkan kepalanya, dan dia berkata pada Elang jika obat penawar racun untuk Senopati belum bisa dia temukan, dan nyawa anaknya itu tidak akan bertahan lama, hanya dalam beberapa hari saja racun yang ada didalam tubuhnya yang setengah keturunan manusia akan semakin melemah dan dia bisa tiada kapan saja.
Dengan hati yang gundah Elang memberikan pengumuman ke semua penghuni di istana nya, jika ada yang bisa menemukan obat penawar racun untuk Senopati, Elang bersedia memberikan apapun sebagai imbalan nya.
Nampak Sekar tersenyum puas mendengar pengumuman Elang, dia memikirkan sebuah rencana untuk memojokan Elang.
Baiklah kangmas, kau yang memberiku ide gila ini, aku akan memberikanmu obat penawar racun itu, hanya dengan dua pilihan saja, bersiaplah untuk nemilih di antara keduanya, gumam Sekar dengan tertawa puas di dalam kamarnya.
Setelah itu Sekar melesat ke kamar Mekar untuk berbicara padanya, Sekar akan melakukan sandiwaranya di depan Mekar yang polos itu.
"Mekar apakah kau sudah mendengar pengumuman kangmas Elang di sidang istana tadi?". Tanya Sekar dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Iya mbakyu aku sudah tau, dengan begitu akan lebih banyak lagi yang akan membantu mencarikan penawar racun itu, sesuai petunjuk tabib istana mereka semua akan lebih mudah mencari ramuan obat penawar racun itu.
"Bagaimana jika kita ikut mencari obat penawar racun untuk Senopati, jika kita berhasil mendapatkan obat penawar racun itu, kangmas Elang akan memberikan apapun yang kita minta". Cetus Sekar memandang Mekar.
"Mbakyu kita memang harus membantu mencari obat untuk Seno, tapi untuk apa kita mengharapkan sesuatu dari kangmas Elang, bukankah kita sudah memiliki segalanya". Jelas Mekar.
Sial aku tidak mungkin mengatakan pada Mekar jika mengharapkan sesuatu dari kangmas Elang, nanti Sekar bisa mencurigaiku, batin Sekar didalam hatinya.
Kemudian Sekar pergi meninggalkan Mekar di kamarnya, dan di luar sana nampak Bagaskara sedang melesat ke sebuah pendopo, Sekar yang penuh tanya ingin berbicara dengan Bagaskara, lalu Sekar melesat menghampiri Bagaskara yang sedang duduk di pendopo itu.
"Mbakyu kau mengagetkanku saja". Seru Bagaskara dengan mengusap peluh dikeningnya.
"Kau darimana saja Bagaskara, apa semua ini adalah ulahmu". Tukas Sekar memandang Bagaskara dengan penuh curiga.
"Apa maksudmu mbakyu, aku baru saja kembali tapi kau mengatakan hal yang tidak masuk akal". Sahut Bagaskara mendengus kesal.
"Apakah kau sudah tau jika Lala pergi meninggalkan istana ini, dan tidak ada yang tau dimana, bahkan kangmas Elang sudah mencarinya kemana-mana tapi dia tidak bisa menemukan Lala di alam kita, apakah kau sudah membawanya ke suatu tempat?". Tanya Sekar menatap tajam pada Bagaskara.
"Aku tidak melakukan itu mbakyu, dan jika aku yang melakukan nya sudah pasti suamimu itu akan mengetahuinya bukan, karena dia bisa melihat melalui mata batin nya". Bantah Bagaskara.
"Kau benar juga, lalu siapa yang melakukan semuanya, bahkan saat ini Senopati juga sedang jatuh sakit, dan kau tidak akan menyangka apa yang telah terjadi pada bocah itu". Tukas Sekar menyeringai.
"Itu karena perbuatan nya sendiri mbakyu, bocah itu sendiri yang telah mengirim ibunya pergi jauh dari alam kita, maka dari itu kangmas Elang tidak bisa mencari Lala dimanapun, karena keturunan nya sendiri yang telah menjauhkan nya dari istri tercintanya". Cetus Bagaskara mengejutkan Sekar yang membulatkan kedua matanya.
*
*
...Yang mau aku up dua kali jangan lupa berikan dukungan Vote dan hadiahnya, terima kasih 🙏...
...Bersambung....