DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Misteri kematian Icha.


Lalu Rania berjalan kembali ke aula, tempat dimana perayaan besar di kampus itu, banyak mahasiswa menampilkan pertunjukan dan bakatnya, sampai pada akhirnya ada seorang perempuan memakai topeng dan baju khas jawa, yang akan menari tarian jaipong, tapi di tengah-tengah pertunjukan, perempuan itu menangis sesegukan, dia meminta tolong supaya kematian nya terungkap.


"Katakan pada semua orang, jika kau lah yang telah mendorongku Santi huhuhu." seru perempuan yang memakai topeng itu.


"Astagfirullohaladzim perempuan itu sepertinya kerasukan, cepat panggil pak Komar untuk mengeluarkan arwah itu." seru Wati dengan wajah panik.


Nampak Rania membulatkan kedua matanya, gadis itu sangat tau jika yang merasuki tubuh perempuan penari itu adalah arwah Icha, tapi Rania tidak dapat berkata apa-apa selain diam, dan memandang ke segala arah mencari perempuan yang diduga Rania, adalah teman dekat Icha yang berdebat dengan nya di atas gedung tempo hari.


Plaak...


"Kau kenapa Ran, wajahmu seperti nya cemas sekali." seru Lala yang menepuk pundak Rania.


"Ehm La sebenarnya aku tau siapa yang merasuki perempuan itu." jelas Rania dengan mengkerutkan keningnya.


Tapi tiba-tiba terdengar suara tangisan perempuan penari itu, dia menangis mengiba dan mengatakan jika Santi harus mengatakan kebenaran atas kematian nya pada semua orang.


"Siapa kau sebenarnya, cepatlah keluar dari tubuh gadis ini." seru pak Komar yang komat-kamit membacakan sesuatu.


"Tidaaak, aku tidak akan keluar dari tubuhnya, sebelum dia mengakui segalanya." pekik arwah Icha yang bersemayam didalam tubuh gadis penari itu.


Lalu Wati berlari ke atas panggung, dia membuka topeng yang dikenakan penari itu, nampak wajah Wati berubah sangat cemas.


"Ya Alloh Santi sadar san, ini aku Wati." seru Wati dengan membulatkan kedua mata nya.


"Huhuhu Wati aku juga temanmu, apakah kau lupa kita sering ke kantin bersama, dan aku datang kembali untuk menuntut keadilan." ucap nya dengan suara parau.


Siapa sebenarnya yang dimaksudnya, batin Wati didalam hatinya.


Belum sempat Wati menemukan jawaban yang mengganjal didalam hatinya, nampak pak Komar berhasil mengeluarkan arwah itu dari dalam tubuh Santi, yang ternyata memakai topeng untuk memberikan pertunjukan tari di acara kampus nya.


"Astaga pantas saja arwah Icha masuk ke dalam tubuh perempuan itu, ternyata Icha sengaja merasuki tubuhnya, supaya semua orang mengetahui kebenaran atas kematian nya." ucap Rania dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Jadi perempuan yang kerasukan itu, memang pelaku pembunuhan Ran?." tanya Lala dengan menatap tajam ke arah arwah Icha melesat pergi.


"Tidak La, sebenarnya dia tidak sengaja mendorong teman nya itu, tapi dia juga bersalah karena tidak mengatakan yang sebenarnya pada semua orang, kalau sudah seperti ini polisi akan menetapkan dia sebagai tersangka, karena itulah arwah Icha meminta tolong padaku, supaya Santi mau mengatakan yang sebenarnya, supaya hukuman yang akan dijalani nya tidak terlalu berat, bagaimanapun juga Santi sudah mendorong Icha sampai jatuh dan tewas, meski dia tidak sengaja melakukan nya." jawab Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Tanpa mereka sadari, Wati sudah berdiri tepat dibelakang mereka, nampak Wati terkejut dan menghentikan langkah kaki nya mendadak, Wati sangat terkejut memdengar ucapan Rania, tentang kedua sahabatnya Sabti dan juga almarhum Icha, nampak Wati berjalan menghampiri Rania, dan menanyakan kejelasan cerita yang dia bicarakan pada Lala.


"Rania apakah kau yakin dengan yang kau katakan barusan." ucap Wati dengan detak jantung yang berdegup kencang.


"Ehm Wati lebih baik kita tidak bicarakan ini disini, kau tolong saja dulu Santi, dan kalau bisa kau singgung saja Santi tentang Icha yang meninggal karena terjatuh dari atas gedung itu." ujar Rania dengan memijat pangkal hidung nya.


Terlihat Wati sedang menamani Santi di sebuah ruangan, nampak Wati memberikan minuman pada Santi yang sudah tersadar, dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Wati ada apa denganku rasanya kepala ku sakit sekali." tukas Santi dengan memijat pangkal hidung nya.


"Ehm Santi tadi kau kerasukan, dan menurut Rania arwah Icha yang sudah merasuki tubuhmu." jelas Wati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Ap apa maksudmu Wat, pasti Rania asal menebak saja, Icha kan sudah meninggal, untuk apa dia datang kembali." sahut Santi gagap.


"Apakah sebelum Icha meninggal, kalian pernah berdebat atau apa San, karena arwah yang merasukimu mengatakan, jika kau lah yang telah membuatnya tewas, jadi bukan Rania yang mengatakan itu, tapi kau sendiri yang mengatakan nya, disaat kau kerasukan arwah itu." cetus Wati menatap tajam wajah Santi yang nampak panik.


"Mana mungkin aku melakukan perbuatan kriminal macam itu Wat, apalagi Icha itu sahabatku sendiri, kau jangan asal menuduhku." bentak Santi dengan membulatkan kedua mata nya.


"Ya Alloh Santi bukankah sudah ku katakan, kau sendiri yang mengatakan semuanya, kalau kau tidak percaya padaku, tanya saja pada semua orang yang ada di aula sekarang, mereka semua mengetahui segalanya, karena itulah aku bertanya padamu, tentang kebenaran nya, jika kau ingin membagi masalahmu itu padaku, mungkin aku bisa membantumu San, apalagi kau dan Icha adalah sahabat terdekatku di kampus ini." ucap Wati meyakinkan Santi.


Apakah Wati mengatakan yang sebenarnya, jika arwah Icha yang telah merasukiku, batin Santi didalam hatinya resah.


Nampak Wati meyakinkan Santi untuk menceritakan segalanya, mengingat hubungan baik ketiganya, dengan perlahan Wati menjelaskan pada Santi untuk membagi beban yang ada dipundak nya.


"Percayalah padaku Santi, aku dan Rania akan membantumu, Rania bisa melihat semua yang terjadi sebelum Icha ditemukan tewas, dia tau jika kau tidak bermaksud menyakiti Icha, tapi kau harus menjelaskan yang sebenarnya padaku, supaya tidak ada orang yang salah paham dengan perbuatanmu, karena jika kau terus bungkam, dan polisi menemukan bukti jika kau terlibat dalam kasus tewasnya Icha, kau bisa terjerat pasal berlapis." tegas Wati dengan memeluk Santi yang masih lemas di atas sofa.


Nampak Santi menghembuskan nafasnya panjang, gadis itu seakan berat mengatakan segalanya, tapi dia terpaksa menceritakan semuanya pada Wati, karena dia takut dituduh telah membunuh sahabat nya sendiri, lalu perlahan Santi menceritakan segalanya pada Wati.


"Sebenarnya aku dan Icha memang berdebat di atas gedung itu Wat, tapi percayalah padaku, aku tidak sengaja mendorong Icha, sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke bawah." jelas Santi dengan berderai air mata.


"Tapi kenapa kau diam saja selama ini San, apakah kau tau arwah Icha gentayangan selama ini, dia mengikutimu kemanapun kau pergi San." tukas Wati dengan wajah sendu.


"Huhuhu aku takut Wati, aku tidak sengaja mendorongnya, seandainya Icha tidak menghianatiku, pasti semua ini tidak akan terjadi." seru Santi terisak pilu dengan menutupi wajahnya.


"Menghianatimu, apa yang kau maksud San, apa yang Icha lakukan padamu?." tanya Wati dengan mengkerutkan keningnya.


*


*


...Terima kasih yang sudah mendukung Author sejauh ini, berikan boom like sebanyak mungkin dan hadiah yang kalian punya, karena ada kejutan dari Author buat kalian yang sudah memberikan dukungan terbanyak di novel ini, ditunggu boom like nya ya kak, Author bakal tau mana yang uda kasih boom like atau tidak 😉...


...Bersambung....