DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kiriman santet


Bu Jamilah merasakan seluruh badan nya terasa sakit dan dia memuntahkan darah segar beberapa kali.


"Astaga mas ibu kenapa ini". Seru Rara istri dari Ari cemas melihat ibu mertuanya.


"Entahlah Ra mari kiba bantu ibu duduk dulu, jika kondisi nya tidak membaik lebih baik kita membawanya ke Dokter". Terang Ari yang sedang membersihkan darah di badan ibu nya.


"Mas apa ini wajar tiba tiba saja ibu sakit seperti ini?". Tanya Rara dengan curiga.


"Mungkin saja ibu terlalu lelah beberapa hari ini dan kesehatan nya terganggu, cepatlah ambil air hangat untuk ibu". Jawab Ari dengan wajah cemas nya.


Terlihat bu Jamilah sudah lemas dan tidak bisa berkata apa apa lagi semua bagian tubuh nya rasanya sangat sakit dan dia hanya bisa terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur nya.


"Ini bu diminum dulu air nya". Pinta Rara seraya menyerahkan gelas berisi air hangat untuk ibu mertua nya.


Lalu bu Ani meminum nya tapi dia terbatuk dan memuntahkan darah segar lagi, Rara yang melihat ibu mertuanya mengeluarkan darah segar kembali cemas.


"Mas mas Ari mas tolong mas". Seru Rara dengan wajah ketakutan.


"Astaga bu kenapa muntah darah lagi". Pekik Ari terkejut melihat mulut ibu nya bersimbah darah lagi.


Mereka panik dan memutuskan membawa bu Jamilah ke Rumah sakit malam itu juga.


Kemuduan Ari membopong ibu nya masuk ke dalam mobil dan segera membawanya ke Rumah sakit yang ada di kota.


Kriing kriing...


Terlihat pak Dahlan dan pak Eko membunyikan bel di sepeda kayuh nya, dan membuat Ari menghentikan langkah mobil nya.


"Mau kemana Ar malam malam begini kok tumben keluar Rumah?". Sapa pak Dahlan di atas sepeda nya.


"Anu pak saya mau ke Rumah sakit ibu saya sedang sakit pak, sepertinya parah, mari pak saya permisi". Jelas Ari yang buru buru mengemudikan mobil nya kembali.


Sementara bu Ani yang melihat mobil keluarga bu Jamilah melewati depan rumah nya merasa penasaran karena malam sekali keluarga mereka pergi dari rumah nya.


Kemudian pak Dahlan dan pak Eko yang sedang berpatroli melewati rumah bu Ani dihentikan laju sepeda nya.


Lalu kedua hansip itu mengayuh sepeda nya sampai depan rumah bu Ani yang sedang menanti mereka.


"Wah tumben bu malam malam berada diluar rumah?". Tanya pak Eko yang langsung duduk di bangku teras.


"Iya aku sedang menunggu Harto menjemput suamiku di rumah mbakyu nya, tunggu dulu kang tak buatin kopi sebentar". Jawab bu Ani seraya berjalan masuk ke dalam rumah nya.


Tidak lama kemudian bu Ani datang membawa dua cangkir kopi hitam untuk kedua hansip itu.


"Silahkan kang diminum selagi masih hangat, ngomong ngomong tadi aku melihat mobil keluarga bu Jamilah lewat depan rumahku mau kemana to malam malam begini". Selidik bu Ani yang penasaran.


"Oh itu tadi Ari bersama istri nya mau ke kota membawa bu Jamilah ke Rumah sakit katanya sedang sakit, jadi mereka hawatir dan membawa nya malam ini juga". Jelas pak Dahlan dengan meminum kopi buatan bu Ani.


"Oalah lagi sakit to, itu tuh ganjaran buat lintah darat yang suka makan uang haram hasil dari memeras keringat orang kecil". Tukas bu Ani dengan membulatkan kedua mata nya.


"Sudah bu jangan bicara seperti itu, biarkan saja dosanya mereka yang tanggung kita hanya bisa melihat saja". Cetus pak Eko mengakhiri pembicaraan.


Setelah berterima kasih pada bu Ani, kedua hansip itu mengayuh sepeda nya untuk berpatroli keliling desa, dan beberapa saat kemudian Harto bersama pak Slamet dan juga putera nya kembali ke rumah bu Ani.


"Hati hati kang turun nya". Ucap bu Ani yang membantu suami nya turun dari atas motor dan memapah nya ke dalam rumah.


Bu Ani meminta putera nya untuk masuk ke kamar dan tidur, sedangkan Harto beristirahat di kamar nya.


Terdengar oleh Harto jika mbakyu nya sedang membicarakan bu Jamilah yang sedang dibawa ke rumah sakit oleh anak nya, sedangkan pak Slamet yang mendengar cerita dari istri nya tertawa bahagia dengan sesekali menyumpahi keluarga bu Jamilah supaya lebih menderita dari nya.


Ya Tuhan kenapa aku jadi ikut terbawa dengan dosa yang mbakyu ku lakukan, batin Harto dalam hati nya menyesali perbuatan nya membantu mbakyu nya berbuat jahat pada orang lain.


"Kau tenang saja kang, setelah kita membalas semua yang mereka lakukan pada keluarga kita, aku akan berusaha mencari orang pintar untuk menyembuhkan penglihatanmu kembali". Ucap bu Ani pada suami nya yang masih buta.


*


*


...Bersambung....