
Tapi tiba-tiba bayangan Senopati muncul sekilas di pikiran Lala, dan reflek Lala melepaskan diri dari pelukan Satria dan meraih handuknya kembali serta menutup tubuhnya menggunakan handuk itu.
"Maafkan aku mas ini semua salahku, aku permisi ganti baju dulu". Cetus Lala seraya berjalan meninggalkan Satria yang berdiri diam tanpa kata.
Aah sial kenapa aku harus terpancing, dan dia menghentikan semuanya begitu saja, seandainya kau menikmati semuanya, akan ku buat kau melayang sampai tidak mengingat semua dukamu, batin Satria mendengus kesal.
Sementara di dalam kamar itu, nampak Lala mengumpati dirinya sendiri, Lala tidak tau kenapa dirinya sangat tergoda dengan paras Satria yang tampan dan lembut tutur katanya.
Kenapa aku terbawa suasana tadi, duh aku sangat malu pada mas Satria, dia kan orang baik yang mau menolongku tanpa pamrih, dan kenapa tiba-tiba bayangan Senopati muncul di kepalaku, jangan-jangan dia sedang kenapa-kenapa, batin Lala mengkerutkan keningnya.
Dan tidak lama setelah itu Lala keluar dari kamarnya dengan berpakaian santai memakai daster yang agak ketat, membuat seluruh lekuk tubuhnya dapat terlihat.
"Ada apa mas Satria datang kembali kesini?". Tanya Lala dengan menundukan kepalanya.
"Tadi aku mendapat kabar jika anakmu sedang sakit, tapi saat ini romonya sedang menjaganya, aku hanya ingin memberitaumu kabar tentang anakmu, anakmu berpesan untukku selalu bersamamu, sampai dia bisa menemuimu disini". Tukas Satria memandang wajah cantik Lala yang berubah sendu.
"Aku ingin menemui anakku mas, tolong bawa saja aku kembali ke alam gaib itu, lagipula cepat atau lambat makhluk gaib itu akan mengetahui keberadaan ku disini". Ucap Lala berderai air mata.
"Tidak akan ada yang bisa menemukanmu disini, aku sudah membuat pagar gaib yang melingkupi sekitar rumah ini, jadi hanya aku saja yang bisa melihat jika disini ada sebuah rumah, karena dimata makhluk gaib lain nya tempat ini hanya sebuah padang ilalang, itu adalah kekuatan ilusi hanya makhluk tertentu yang bisa melihat rumah ini, itu juga dengan seijin dariku sebagai pembuat pagar gaib". Jelas Satria seraya mengusap lembut air mata Lala.
Nampak keduanya saling memandang dan hanyut dalam pikiran nya masing-masing.
*Kenapa aku sangat menyukai sentuhan mas Satria, seakan aku sudah pernah merasakan setiap sentuhan nya, dan aroma tubuhnya itu mengingatkanku pada laki-laki yang ada didalam mimpiku, tapi aku tidak bisa mengingat wajahnya, batin Lala didalam hatinya.
Lala seandainya kau tau, aku begitu merindukan saat-saat bersamamu, menjamah seluruh tubuhmu yang molek itu, kau benar-benar sudah membuatku gila, seandainya kau adalah milikku seutuhnya, batin Satria seraya menggenggam kedua tangan Lala*.
"Maafkan aku tidak bisa menuruti keinginanmu untuk menemui anakmu, karena nyawamu dan juga anakmu akan dalam bahaya jika kau bertekat kembali kesana". Jelas Satria mengusap lembut bulir-bulir air mata Lala yang menetes.
Sementara di luar rumah itu nampak Evana dan Jansen sedang melesat dan mencari tau keberadaan Lala, mereka berdua dapat mencium aroma manusia disekitar sana, tapi kedua hantu itu tidak dapat melihat Lala dimanapun.
Terlihat Evana mengatakan sesuatu pada Jansen jika mereka harus lebih teliti lagi mencari disana, karena aroma manusia sangat tercium pekat disana.
Jadi kedua hantu londo itu sedang menyelidiki sesuatu, kenapa mereka mencari tau keberadaan seorang manusia, batin Satria yang melihat keluar dari jendela rumah itu.
Setelah itu Lala menghampiri Satria dan menanyakan apakah dia akan pergi sekarang, karena Lala akan memasak makan malam dan Lala ingin Satria makan bersamanya.
"Baiklah aku akan menemanimu makan Lala, apakah kau juga ingin ku temani malam ini". Ucap Satria memandang Lala dengan senyumnya.
"Ah mas Satria ini bisa saja bercandanya, lebih baik mas Satria kembali ke alam gaib saja, tolong sampaikan ucapan rinduku pada anakku Senopati, katakanlah ibundanya ini sangat menghawatirkan nya". Tukas Lala berderai air mata.
"Sudahlah La, kau tidak perlu menahan dukamu seorang diri, aku siap memberikan pundakku sebagai tempatmu melepaskan kesedihan dan dukamu". Cetus Satria seraya memeluk Lala dan mengusap lembut rambutnya.
Nampak Lala berderai air mata melepaskan duka yang selama ini ada di pundaknya, dan Satria pun menenangkan Lala dengan terus menepuk punggungnya lembut.
Nampak Lala tersadar dan melepaskan pelukan nya dari Satria, dia sudah lupa jika saat itu dirinya masih menjadi istri Elang, dam dia tidak ingin menghianati suaminya itu.
"Kenapa La, kenapa kau menjauh dariku?". Tanya Satria dengan mengkerutkan keningnya.
"Maafkan aku mas, aku sempat melupakan jika aku adalah istri dari suamiku, kita harus menjaga sikap satu sama lain". Sahut Lala dengan membalikan tubuhnya.
"Bukankah suamimu juga berhubungan dengan perempuan selain dirimu, kenapa kau terus menjaga perasaan nya sementara dia tidak menjaga hatimu". Seru Satria memeluk Lala dari belakang.
Sedangkan Evana dan Jansen yang sudah mencurigai lokasi dimana Lala berada nampak semakin berusaha untuk menyatukan kekuatan nya suapaya mereka dapat melihat apa yang tidak bisa mereka lihat tapi semua mustahil.
Evana pun mengajak Jansen kembali ke rumah Kasmi, karena disana sudah ada pak Jarwo yang sedang membuat persiapan ritual untuk memancing buto ireng itu keluar dari alamnya.
Wuuussh...
Evana dan Jansen melesat melewati Kasmi yang sedang menyapu di teras rumahnya, nampak Kasmi mengusap tengkuknya karena ada hawa dingin yang melewatinya.
Evana dan Jansen mengatakan semuanya pada pak Jarwo, jika mereka sudah mencari ke seluruh penjuru hutan yang ada disana, tapi mereka tidak melihat Lala dimanapun.
"Tapi meskipun kami tidak bisa menemukan Lala, kami bisa mencium aroma manusia di satu titik hutan itu, tapi disana tidak ada manusia sama sekali, kami sangat bingung dan menyatukan kekuatan untuk mengetahui darimana asal aroma manusia itu, tapi hasilnya sama saja kami tidak dapat menemukan apapun". Tukas Evana dan Jansen.
Dan setelah mendengar perkataan kedua hantu itu nampak pak Jarwo mengkerutkan keningnya.
"Aku semakin curiga jangan-jangan memang ada manusia di tengah hutan itu, tapi ada kekuatan gaib yang melindunginya sehingga kalian tidak bisa melihat dimana manusia itu". Cetus pak Jarwo seraya memejamkan kedua matanya.
Pak Jarwo berusaha melihat melalui mata batin nya tapi sama seperti yang dikatakan Evana dan Jansen jika tempat itu kosong dan tidak ada manusia sama sekali, tapi ada kehidupan manusia disana yang tidak dapat mereka lihat.
Aku harus segera menemui pangeran Asopati dan meminta bantuan nya, batin pak Jarwo didalam hatinya.
"Kalian kembali saja ke hutan dan awasi tempat yang kalian curigai itu, tapi jangan terlalu dekat, aku hawatir jika ada sosok gaib yang kuat sedang berada di sekitar sana". Cetus pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.
Dan setelah semua persiapan yang dibutuhkan untuk ritual selesai nampak pak Jarwo berbicara pada istrinya, jika dia ingin pergi ke gunung yang berada di belakang desa Rawa belatung.
"Tapi pak kau itu baru saja pulang, nanti kau bisa sakit jika kau terus bepergian seperti ini". Cegah Kasmi dengan mengerucutkan bibirnya.
"Tapi dek semua ini ku lakukan untuk adikmu Lala, bukankah kau ingin dia lekas kembali bersama kita, bahkan jiwa simbok juga belum tenang di alamnya, bagaimana aku bisa tenang istirahat di rumah ini". Seru pak Jarwo dengan menghembuskan nafasnya panjang.
*
*
...Bersambung....