
Setelah Rania dan Wati memutar mutar keseluruh lorong rumah sakit mereka belum juga menemukan kamar mayat nya.
"Hei Rania kenapa kau hanya diam disitu saja cepatlah jalan", seru Petter membuyarkan lamunan Rania.
"Siapa yang diam saja dari tadi aku dan Wati sudah memutari lorong ini tapi kami kembali ke tempat yang sama berulang kali", ucap Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya kau di jahili oleh perawat tadi", celetuk Petter dengan terkekeh menertawai teman nya yang disesatkan oleh hantu perawat.
Setelah itu Petter menunjukan arah yang benar pada Rania supaya mereka bisa menyerahkan jari jari tangan Sasa secepatnya.
"Permisi pak saya mau menyerahkan ini", ucap Rania dengan memberikan bungkusan plastik.
"Apa ini nak", tanya petugas kamar mayat dengan meraba bungkusan plastik itu.
"Itu potongan jari tangan dari mayat yang ditabrak mobil tadi pagi pak", jawab Rania dengan memandangi Sasa yang ada disebelah pintu.
"Kau dapat darimana nak, pantas saja bapak merasa ada yang kurang dan kami masih menunggu kabar dari polisi untuk menyerahkan jenazah ini ke keluarganya".
"Ehm kami menemukan nya di dekat Tkp pak, karena kami dimintai tolong oleh mayat itu setelah pulang sekolah kami membawa potongan jari itu kerumah sakit ini".
Setelah menyerahkan potongan jari Sasa, Rania dan Wati segera pulang ke rumah nya.
"Rania kau jangan lewat dilorong sebelah sana lagi, nanti kau akan dijahili perawat tadi", ujar Petter yang melesat di lorong lorong rumah sakit.
"Baiklah Petter, tapi kau jangan cepat cepat aku tidak bisa mengikutimu", seru Rania dengan berjalan tergesa gesa menyusul Petter.
"Rania tunggu aku, kaki ku terasa sakit sekali", pekik Wati dengan memegangi lutut nya.
Rania berhenti berjalan dan menunggu Wati yang berjalan pincang, padahal dari tadi kaki Wati bisa berjalan dengan normal meski lututnya sedikit terluka.
"Wati apa kakimu masih sangat sakit", tanya Rania yang memandangi lutut Wati yang nampak membengkak.
"Iya Rania aku tidak tahan jika harus mengayuh sepedaku sampai ke rumah", jawab Wati yang sedang meringis kesakitan.
"Lalu aku harus bagaimana Wati", tanya Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Coba kau telepon ibuku minta dia menjemputku", jawab Wati memandangi wajah Rania.
"Kalau kau pulang bersama bude, bagaimana sepedamu", celetuk Rania yang sedang melihat sepeda Wati.
"Aku bisa mendorong nya dengan dibonceng ibu", ujar Wati.
Setelah itu Rania menghubungi bude Walimah melalui ponselnya, tapi ponsel bude nya itu tidak dapat menerima panggilan Rania, sepertinya tidak ada sinyal di rumah simbah nya.
Rania terus mencoba tapi hasilnya sama saja, akhirnya setelah hujan reda mereka memutuskan untuk berjalan pelan pelan dengan mendorong sepeda nya.
Sampai di depan pohon besar yang sajen nya Wati tabrak tiba tiba suasana berubah mencengkam, Petter yang yang dari tadi banyak tingkah kini melesat menjauhi pohon besar itu.
Wh**uuuuutt whuuuutttt**...
Tiba tiba angin kencang datang membuat Rania dan Wati susah untuk melihat kedepan karena debu yang berterbangan.
"Aaaaaaa toloooooong Raniaaaa tolooong akuuu", pekik Wati yang terhempas kesuatu tempat dan meninggalkan Rania sendirian disana.
Rania yang sudah bisa melihat kesekitarnya mencoba mencari keberadaan Wati tapi dia tidak dapat menemukan nya, yang tertinggal hanya sepeda Wati tergeletak begitu saja.
...* * * bersambung * * *...