
Keesokan hari nya Harto yang sudah mengantar mbakyu nya kembali ke rumah suami nya sedang duduk di teras depan, samar samar dia mendengar pembicaraan tetangga disebelalah rumah membicarakan pertengkaran bu Ani dengan bu Jamilah.
Karena penasaran Harto pun menguping pembicaraan tetangga mbakyu nya itu, mereka mengatakan jika bu Ani sepertinya sangat dendam setelah suami nya menjadi buta dan tidak dapat bekerja lagi apalagi setelah kejadian di pemakaman saat menantu bu Jamilah menampar wajah bu Ani wajar saja jika bu Ani semakin marah.
Tapi tiba tiba bu Ani sudah kembali setelah mengambil tanah di halaman rumah bu Jamilah.
"Harto apa yang kau lakukan disana". Seru bu Ani mengagetkan adiknya yang sedang mendengarkan percakapan warga tentang mbakyu nya yang sedang bertengkar dengan warga yang lain nya.
"Oalah mbakyu bikin kaget saja, ngomong ngomong mbakyu darimana to? ". Tanya Harto dengan mengernyitkan dahi nya.
"Tadi aku ada perlu penting". Jawab bu Ani seraya berjalan masuk kedalam rumah.
Lalu Harto menyusul mbakyu nya masuk kedalam, dia memberanikan diri untuk bertanya tentang apa yang tadi dia dengar.
Kemudian bu Ani menceritakan semua kejadian yang suami nya alami karena di ludahi pocong suami nya bu Jamilah dan sekarang kondisi suami nya menjadi buta, setelah itu kemarin dirinya ditampar dihadapan banyak warga oleh menantu nya bu Jamilah dan membuat bu Ani semakin sakit hati dan ingin balas dendam.
Bu Ani mengatakan pada adiknya jika dia ingin mengirimkan santet pada keluarga bu Jamilah supaya mereka merasakan penderitaan yang sama dengan diri nya.
Tapi Harto menasehati mbakyu nya supaya jangan membalas dendam dengan cara gaib seperti itu, karena perbuatan itu dilarang agama.
"Kau diam saja Har kalau tidak tau apa apa, sekarang keluarga ku jadi menderita itu semua karena keluarga mereka". Ucap bu Ani dengan mata berkaca kaca.
"Aku paham mbak tapi semua bisa diselesaikan baik baik, kalau kau membalas dengan cara gaib seperti itu takut nya semua itu bisa berbalik pada dirimu sendiri". Tukas Harto menasehati mbakyu nya yang sudah termakan dendam itu.
"Aku tidak perduli Har, darah harus dibayar dengan darah". Seru bu Ani dengan mengepalkan jari tangan nya.
Setelah itu bu Ani meminta Harto untuk segera kembali ke desa orang tua nya, karena dia harus bertemu dengan mbah Sapto secepatnya.
Meski Harto dengan berat hati menuruti perintah mbakyu nya itu, dia tetap mengantarkan nya menuju ke desa orang tua nya untuk bertemu dengan mbah Sapto.
Sesampainya di desa orang tua nya, bu Ani langsung menuju ke gubuk tua mbah Sapto untuk melaksanakan tujuan nya itu.
Seperti biasa nya pintu gubuk mbah Sapto selalu terbuka sendiri setiap kali ada orang yang akan masuk ke dalam.
"Masuklah nduk". Ujar mbah Sapto dari dalam gubuk nya.
Lalu bu Ani berjalan perlahan memasuki gubuk tua yang sedikit gelap meski hari masih siang, sementara Harto yang menunggu di atas motor nya merasa bulu kuduk nya meremang.
*
*
"Ini mbah tanah yang mbah minta". Ucap bu Ani Seraya menyerahkan bungkusan plastik hitam yang berisi tanah di halaman rumah bu Jamilah.
"Baiklah nduk aku akan mengerjakan nya nanti malam besok pagi kau kembali lah kesini untuk membawa syarat yang akan kau gunakan untuk mengirimkan santet pada orang yang kau mau". Tukas mbah Sapto dengan seringai kecil di wajah nya.
Setelah itu bu Ani keluar dari gubuk tua itu, dan mengajak Harto untuk kembali ke rumah orang tua mereka.
Disepanjang perjalanan di hutan itu banyak sekali burung gagak yang beterbangan seperti mengiringi perjalanan mereka berdua keluar dari area hutan angker itu.
"Mbakyu kenapa perasaanku tidak enak begini ya". Ucap Harto yang nampak hawatir dengan yang akan mbakyu nya lakukan.
"Sudahlah Har tidak usah berprasangka buruk, semua akan baik baik saja". Jelas bu Ani dengan tatapan tajam.
*
*
Bersambung.