DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Bertemu dengan sahabat lama.


Setelah itu Rania memandang ke segala arah, nampak seorang lelaki tengah membunyikan lonceng pertanda jam sekolah sudah berakhir, lalu semua yang ada di dalam ruang kelas itu, bergegas keluar dari sana, sama seperti beberapa pelajar yang sudah menyelesaikan pelajaran sekolah, mereka berhamburan keluar dengan membawa tas nya masing, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiran Rania, ada seorang anak lelaki yang diperhatikan nya selama di dalam kelas tadi, anak lelaki itu berjalan dengan menenteng buku dan tas nya, kepala nya menunduk dengan rambut pirang nya.


Kenapa aku merasa sangat dekat dengan nya ya, tapi aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, batin Rania penuh tanya.


Kemudian Rania melangkahkan kaki nya ke samping anak lelaki itu, gadis itu menghentikan langkah anak lelaki yang merasa dikenalnya, dan ketika dia menolehkan kepalanya menghadap Rania, nampak gadis itu sangat terkejut dengan membulatkan kedua matanya.


"Pe Petter... Kau kau disini." seru Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Rania apa yang kau lakukan disini?." tanya Petter tak kalah terkejutnya.


Nampak Senopati langsung melesat memegang tangan Rania, Seno mengira jika Petter akan mencelakai Rania, tapi Rania mengatakan padanya jika yang ada dihadapan mereka adalah sahabat hantu nya.


"Tenanglah Seno dia adalah sahabatku, dulu dia banyak membantuku, kau tidak perlu hawatir." jelas Rania meyakinkan Senopati.


Setelah mendengar penjelasan Rania, nampak Senopati mulai tenang dan melepaskan genggaman tangan nya, lalu Rania dan Petter saling berbicara dan melepaskan kerinduan, kedua sahabat yang sudah terpisah lama itu, berbagi banyak cerita selama keduanya terpisah, dan Petter pun menanyakan tujuan Rania datang kesana.


"Aku sedang mencari jiwa kak Luna, kau ingat arwah Pardi bukan, dia yang telah membawa jiwa kak Luna pergi ke tempat ini, sudah hampir dua bulan jiwa kak Luna pergi, karena itu lah aku datang kesini untuk membawanya kembali, apakah kau bisa membantuku Petter." seru Rania dengan wajah sendu.


"Jika arwah Pardi menyamar dengan wujud dan wajah orang lain, kita tidak bisa langsung mengenalinya." tukas Petter.


"Kalian tenang saja aku yang akan mengenali wujudnya yang sebenarnya, kita hanya perlu menemukan nya saja." cetus Senopati pada keduanya.


"Kalau begitu kalian harus menemui kepala desa di tempat ini, katakan saja padanya tentang arwah Pardi yang membawa jiwa manusia itu, karena kepala desa itu tau semua penduduk yang menempati desa gaib ini, tapi kita harus bertemu dengan mama dan papa ku dulu, karena mereka yang tau dimana rumah kepala desa itu." ujar Petter.


Setelah itu mereka pergi menemui kedua orang tua Petter, nampak Evana dan Jansen sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan Rania, mereka memeluk Rania bersamaan, nampak raut wajah mereka bahagia bercampur dengan cemas, tapi ketika mereka melihat Rania datang bersama Senopati, ada sedikit pertanyaan yang mengganjal didalam hati mereka, mereka semua takut jika Senopati adalah makhluk jahat yang berusaha menipu Rania, dan membawa jiwa nya pergi, tapi Senopati yang memiliki kemampuan dapat membaca batin, mengetahui jika mereka meragukan dirinya.


"Kalian tenang saja, aku tidak mungkin mencelakai Rania, kalian tidak tau siapa aku yang sebenarnya." celetuk Senopati mengagetkan Evana dan Jansen.


"Eh iya Aunty kalian tidak perlu berpikiran jelek tentangnya." tukas Rania.


"Kami tau yang sebenarnya, kau bukanlah makhluk gaib biasa seperti kami, kau adalah salah satu keturunan bangsawan buto, apa tujuanmu mau membantu Rania, apakah kau yakin tidak bermaksud buruk padanya." seru Evana mengaitkan kedua alis matanya.


"Jangan salah sangka dulu aunty, Senopati ini adalah anak dari Lala sahabatku, dia memang memiliki keturunan buto, tapi dia tidak memiliki watak buruk seperti buto pada umumnya, dia kesini untuk menemani dan menjagaku, apa kau tidak melihat ada simbahku disekitar sini, beliau juga menemani perjalananku, tapi aku tidak melihatnya sama sekali." jelas Rania dengan mengkerutkan keningnya.


Bukankah simbah mengatakan akan selalu berada didekatku, tapi kemana beliau pergi, batin Rania resah didalam hatinya.


Ternyata simbah Parti tengah pergi mencari keberadaan jiwa Luna, beliau mendapatkan info dari salah satu penghuni di alam itu, jika ada jiwa manusia yang hidup berdampingan dengan nya di alam itu, mereka sengaka tinggal di lereng gunung, untuk menyamarkan jiwa Luna, dari para penduduk gaib yang ada di desa lelembut itu, kemudian simbah Parti melesat kesana dan menemukan seorang perempuan tengah berbadan dua, perempuan itu tengah mengandung anak dari makhluk halus, nampak simbah Parti tertunduk dengan wajah sendu, setelah mencari tau siapa perempuan itu yang sebenarnya, ternyata dia adalah Luna, gadis yang jiwa nya dicari oleh Rania cucu nya.


Bagaimana ini bisa terjadi, gadis ini tengah mengandung anak makhluk halus, kasihan dia masa depan nya bisa berantakan, batin simbah Parto dengan menundukan kepalanya.


Tidak lama setelah itu datanglah seorang lelaki, dia memeluk perempuan itu, dan membisikan kata-kata cinta padanya.


"Setelah bayi ini lahir hidup kita akam semakin bahagia Luna sayang, aku akan menjadi lelaki yang paling beruntung karena memiliki keturunan darimu." ucap lelaki itu seraya mengecup kening Luna.


"Tapi aku merindukan ibuku, bisakah kita mengunjungi nya, sejak kita menikah aku belum pernah bertemu dengan ibuku sama sekali." ucap Lala dengan wajah sendu.


Kemudian simbah Parti melesat mendekati mereka, nampak beliau mengatakan pada Luna jika ibu nya sudah tiada, dan dia terlambat untuk menemui ibu nya, nampak Luna mengkerurkan kening nya, memandang simbah Parti dengan penuh tanya.


"Maaf mbah ini siapa, kenapa simbah mengatakan jika ibuku sudah tiada?." tanya Luna memandang simbah Parti.


"Percayalah padaku nduk, lelaki ini sengaja menjauhkanmu dari ibumu, dia ingin membuatmu melupakan ibumu, karena itulah dia membawamu pergi jauh ke tempat ini." jawab simbah Parti menjelaskan pada Luna.


Nampak Luna mengaitkan kedua alis matanya, memandang wajah lelaki yang ada disampingnya, Luna bertanya dengan tegas apakah yang dikatakan perempuan tua itu benar, tapi lelaki itu membantah semuanya, dia mengatakan jika perempuan tua itu, sengaja merusak kebahagiaan mereka.


"Apakah kau lebih percaya dengan perempuan tua yang baru saja kau temui itu." seru nya.


"Tanyakan pada hatimu yang terdalam nduk, pernahkan dia mengingatkanmu tentang ibumu yang sedang sakit beberapa waktu yang lalu, bahkan dia sengaja membuatmu lupa dengan kondisi ibumu itu, tapi kau sudah terlambat karena jiwa ibumu sudah beristirahat dengan tenang di alam keabadian, dan lebih baik sekarang kau kembali ke alam mu yang sebenarnya." tukas simbah Parti dengan mengkerutkan wajahnya.


Apakah benar yang dikatakan simbah ini, siapa yang harus ku percaya, batin Luna resah didalam hatinya.


*


*


...Bersambung....