DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Jiwa Rania kembali pada raga nya.


Whhuuuut... Whuuuuttt...


Terdengar suara angin yang kencang, perlahan kedua mata Rania terbuka dan melihat kedua orang tuanya sudah disampingnya.


"Mama papa aku rindu kalian berdua tolong bawa aku pulang hu hu hu", Rania terisak memeluk kedua orang tuanya.


"Apa maksudmu sayang kau sudah pulang kerumah lihatlah ada simbah, bude dan Wati juga disini", jawab mama Rania dengan mengecup kening putri kecilnya.


Semua orang nampak bahagia jiwa Rania sudah kembali tanpa memberikan syarat yang diminta, ternyata suara suara perempuan mengaji itu memang benar suara mama Rania yang sedang mendoakan Rania.


Mbah Karto tersenyum bahagia karena Rania bisa menemukan jalan pulangnya sendiri dibantu oleh Petter teman hantunya.


Setelah mbah Karto mendengar penjelasan dari Petter, ternyata Rania dan Petter berhasil mengembalikan nisan sesepuh gunung kalijati dan sebagai imbalan nya Rania dan Petter diantar kembali ke dunia manusia.


Dan kepala desa kampung gaib akan segera menerima hukuman karena telah mencuri nisan itu untuk keuntungan nya sendiri.


Rania beristirahat untuk mengembalikan tenaganya yang sudah beberapa hari terbuang banyak di alam gaib.


Petter tanpa lelah selalu disamping Rania membantunya tanpa pamrih, sampai suatu waktu Petter teringat kedua orang tuanya yang dulu meninggal karena dibunuh bangsa Jepang.


Selama ini Petter menantikan kedua orang tuanya untuk menjemputnya, maka dari itu jiwa Petter terus gentayangan menantikan kedua orang tuanya datang.


"Petter kenapa kau terlihat sedih dengan muka pucat seperti itu, bukankah kau akan menakuti ku dengan wajahmu itu", ucap Rania menggoda Petter.


"Aku akuu merindukan kedua orang tuaku Rania, aku juga ingin dipeluk sama sepertimu".


"Oh Petter sahabatku seandainya aku bisa membantumu, kemarilah aku akan memelukmu".


"Baiklah kita harus mencari tau dimana orang tuamu, apakah kau tau sedikit saja informasi tentang keberadaan mereka terakhir kalinya".


"Nay, aku tidak tau Rania".


"Oke aku akan meminta bantuan mbah Karto untuk mencari tau dimana orang tuamu dan kita akan mencarinya", ucap Rania memberikan semangat pada Petter.


"Benarkah kau akan membantuku Rania".


"Tentu saja aku akan membantumu Petter, bukankah selama ini kau yang terus menolongku sesekali boleh lah aku membantu mu", jawab Rania dengan memainkan kedua alis matanya keatas dan kebawah.


"Terima kasih Rania kau memang sahabat terbaikku", ucap Petter yang berlari memeluk Rania tapi selalu saja menembus badan sahabatnya itu.


Keduanya tertawa geli karena merasa bodoh ingin saling berpelukan meski mereka sudah tau hal itu mustahil.


Beberapa hari setelah itu Rania berbicara pada mbah Karto jika dia ingin membantu Petter menemukan kedua orang tuanya yang terpisah.


Meski itu sulit tapi bukanlah hal yang mustahil untuk mbah Karto, Rania terus memohon sampai akhirnya mbah Karto tidak tega dan menyetujui permintaan Rania itu.


Kemudian mbah Karto memanggil Petter dan melihat gambaran masa lalu dimana Petter dan keluarganya tinggal dulu sampai hari dimana dia dan orang tuanya tewas ditangan bangsa Jepang.


Mbah Karto menatap iba pada Petter, meski dulu bangsa Belanda yang menjajah Indonesia tapi anak kecil seperti Petter ini tidak tau apa apa dan dia menjadi korban kekejaman bangsa Jepang yang ingin mengambil alih kekuasaan Belanda.


Mbah Karto mengingat betul wajah kedua orang tua Petter dan meminta tolong pada semua penguasa dialam gaib untuk memberitahunya dimana keberadaan orang tua Petter sekarang.


...Bersambung. ...