
Nampak Lala memeluk erat anaknya, dia seakan membagi dukanya pada anak semata wayang nya, Lala menjelaskan pada Seno, jika ibu tiri nya Sekar datang untuk meminta nya, menjauhi romo nya dan mengatakan kebencian padanya.
"Tapi ibu tidak akan sanggup melakukan nya, meski kami sudah lama tidak bersama, tapi ibu masih mencintai romo mu huhuhu." jelas Lala berderai air mata.
"Ibu aku akan selalu menjagamu, aku akan menemui ibu Sekar dan memperingatkan nya, aku tidak mau dia terus mengganggu ibu terus menerus." tukas Senopati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Tidak perlu nak, ibunda tidak mau kau celaka, ibu tirimu itu bisa nekat melakukan apa saja." seru Lala mencemaskan Senopati.
"Percayalah padaku bu, tidak akan terjadi apapun padaku, dan simpanlah ini bu, jika sesuatu terjadi pada ibu, sebutkanlah nama ku sebanyak tiga kali, dengan memegang batu giok itu." ucap Senopati seraya memberikan sebuah batu giok berwarna kemerahan.
Setelah itu Senopati berpamitan pada ibu nya, dia melesat pergi kembali ke alam gaib, untuk menemui ibu tiri nya Mekar, dia ingin menceritakan semua yang di alami ibunda nya di alam manusia.
Sementara Lala kembali ke dapur rumah Anto, Lala melangkahkan kaki nya ke dapur dengan menundukan kepala nya, tanpa dia tau ada Anto yang sedang berjalan ke arah yang sama, kedua nya saling bertabrakan dan memandang satu sama lain, jantung Anto berdegup kencang karena Lala ada didepan mata nya, deru nafasnya tidak beraturan karena kedua mata Lala memandang dirinya tanpa berkedip.
Ehem ehem...
Terdengar suara Wati yabg berdeham mengagetkan kedua nya, yang salibg menjauh satu sama lain, mereka saling mengatakan maaf karena tidak sengaja menabrak.
"Ah aku yang salah La, tidak melihat dengan benar jika ada kau disini." tukas Anto tersenyum malu.
"Iya mas tidak apa-apa, aku juga salah tidak melihatmu disini, bagaimana proses pemakaman nya mas, tidak ada halangan lagi kah disana?." tanya Lala berbasa-basi.
"Alhamdulillah semua sudah berjalan lancar, tapi mulai sekarang rumah ini akan semakin sepi saja, karena hanya aku seorang yang menempatinya." jawab Anto dengan menundukan kepala nya.
"Makanya mas Anto cepetan nikah supaya ada yang menemani di rumah." celetuk Wati menggoda Anto.
"Menikah sama siapa to Wat, pacar saja tidak punya aku ini." sahut Anto membalas godaan Wati.
"Itu Lala juga tidak punya pacar loh mas, memangnya Lala kurang menarik ya mas, kok tidak dilirik sama sekali." goda Wati sekali lagi, membuat kedua nya salah tingkah.
Nampak Rania datang menanggapi godaan Wati, Rania mengatakan jika mas Anto sudah memperhatikan Lala, tapi Lala nya saja yang tidak peka.
"Benar kan mas Anto sering curi-curi pandang memperhatikan Lala." seru Rania dengan menyunggingkan senyumnya lebar.
"Kalian ini bicara apa to, mas Anto itu masih berduka karena kepergian saudaranya, kalian berdua malah menggodanya seperti itu." ujar Lala yang wajahnya memerah.
Kemudian Anto menanggapi ucapan Rania, nampak Anto mengatakan jika yang dikatakan Rania memang benar, meski dia sedang berduka dengan memandang wajah cantik Lala, hati Anto terasa tenang.
"Entah perasaan apa ini yang aku rasakan, tapi hatiku terasa lebih tenang setiap kali aku memandangmu La, kesedihanku seakan berkurang karenamu." jelas Anto dengan menundukan kepalanya.
"Chiye chiye... Mas Anto jatuh cinta ya dengan Lala." seru Wati dengan memandang kedua nya.
Nampak Lala malu-malu dan salah tingkah, dia berjalan terburu-buru sehingga batu giok pemberian Senopati terjatuh ke bawah meja, dengan panik Lala berjongkok seraya mencari batu pemberian anak nya, terlihat Anto ikut berjongkok di bawah meja membantu Lala untuk mencari sesuatu yang dicari nya, tangan keduanya saling menggapai sesuati di bawah meja itu, tapi kedua nya tidak sengaja saling berpegangan tangan, dengan cepat Lala melepaskan genggaman tangan Anto, gadis itu meminta maaf karena tidak sengaja menyentuh tangan Anto.
"Tidak apa-apa La kau tidak usah minta maaf padaku, katakanlah apa yang kau cari biar aku saja yang mencarikan nya untukmu." tukas Anto memandang wajah cantik Lala yang nampak malu-malu.
Seseorang yang sangat berarti, apakah yang dimaksud Lala adalah kekasihnya, batin Anto didalam hatinya, dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Setelah mendengar penjelasan Lala, nampak Anto merunduk ke bawah kolong meja itu, dengan seksama Anto mencari batu giok yang dimaksud Lala, setelah sepuluh menit mencari, akhirnya batu giok itu ditemukan Anto terselip di antara kaki meja.
"Apakah batu ini yang kau maksud La?." tanya Anto seraya menyerahkan batu itu pada Lala.
"Ah iya terima kasih mas Anto, jika kau tidak membantuku menemukan batu ini, mungkin aku akan menyesali kebodohan ku yang ceroboh ini." jawab Lala dengan mata yang berbinar-binar.
Terdengar Rania dan Wati membicarakan kedua nya, menurut mereka Lala dan Anto terlihat cocok, meski Anto adalah pemuda desa yang bekerja sebagai seorang buruh pabrik, tapi dia adalah pemuda yang cekatan dan baik hati, kedua gadis itu berharap jika Lala, bisa membuka hati nya untuk Anto, karena Anto sudah mengungkapkan isi hati nya, jika dia menjadi tenang ketika memandang wajah cantik Lala.
"Aku permisi dulu ya La, mau membersihkan badan karena setelah ini ada tahlilan." terang Anto seraya berjalan ke kamar mandi.
Sedangkan Lala hanya manganggukan kepala nya, dengan menyunggingkan senyum nya tipis, lalu Wati mengatakan pada Lala, jika Anto sepertinya tertarik padanya.
"Apakah kau tidak ingin memberikan mas Anto kesempatan La, kalau diperhatikan baik-baik mas Anto itu, tidak kalah tampan dengan lee min ho." ucap Wati menggoda Lala.
"Hahaha... Benar tuh La yang dikatakan Wati, mas Anto itu sebenarnya tampan, hanya dia kurang memperhatikan penampilan nya." celetuk Rania.
"Kalian berdua itu kenapa sih, jangan menggoda ku seperti itu deh, dan kau Rania setelah mengetahui segalanya tentangku, bagaimana mungkin kau mendukung Wati untuk menggodaku bersama mas Anto." cetus Lala dengan mengkerutkan kening nya.
Setelah mendengar ucapan Lala, Rania melangkahkan kaki nya mendekati Lala seraya merangkulnya, Rania mengatakan pada Lala, jika semua yang terjadi dihidupnya, sudah berlalu dan saat nya untuk Lala membuka lembaran baru.
"Percayalah La semua akan baik-baik saja, ketika kau meninggalkan semua masa lalumu itu." ucap Rania memberi semangat pada Lala.
"Terima kasih Ran, tapi aku sudah memiliki anak, apakah ada lelaki yang mau menerima keadaanku." ujar Lala dengan wajah sendu nya.
Hah Lala sudah punya anak, dimana anak itu kenapa aku tidak pernah melihatnya, batin Wati penuh tanya.
"Sudahlah La kau tau kan alam kalian berbeda, di dunia kita saat ini kau adalah Lala seorang gadis yang masih singel, jadi tidak ada yang perlu kau hawatirkan." cetus Rania.
"Tapi bagaimanapun juga seseorang yang akan bersamaku kelak, harus mengetahui segalanya, apa yang pernah terjadi padaku dimasa lalu." tukas Lala dengan menundukan kepala nya.
Terlihat Wati menggaruk kepala nya yang tidak gatal, dia merasa bingung mendengar percakapan antara Rania dan Lala, ingin sekali Wati bertanya pada keduanya, tapi dia merasa sungkan dan memilih untuk diam dengan pikiran nya yang menerka-nerka.
*
*
...Simak kelanjutan kisah Lala berikutnya, dan jangan lupa baca novel horor Author yang terbaru, berjudul Dendam Perempuan Berjubah Merah, tekan tombol favoritnya untuk mengikuti ceritanya 😉...
...Bersambung....