
Nampak kedua polisi itu memperhatikan gelagat pak Rahmat, dia terlihat ketakutan dan sangat panik setiap kali polisi-polisi itu memperhatikan nya.
"Ada apa pak." seru polisi itu memandang wajah pak Rahmat yang terlihat sangat gusar.
"Tidak ada apa-apa pak polisi, saya hanya tersandung dan menjatuhkan beberapa mangkok saja." jelas pak Rahmat dengan menelan ludahnya kasar.
Lalu pak Jarwo pun mengatakan pada pak Rahmat, jika dirinya mengetahui semua perbuatan pak Rahmat dan memintanya untuk berbicara jujur pada polisi itu.
"Apakah kau yakin tidak ingin mengatakan sesuatu pada mereka?." tanya pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Apa maksudmu pak, kita tidak saling mengenal dan kita juga tidak pernah bertemu sebelumnya, kenapa kau berbicara seakan kau mengenalku dengan baik." jawab pak Rahmat dengan memalingkan wajahnya.
Nampak dari kejauhan kedua polisi itu mengamati pak Rahmat, yang sedang merapikan perkakas di dapur, sementara pak Jarwo berbicara dengan nada yang pelan, sehingga kedua polisi itu tidak begitu mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Mungkin pak Rahmat tidak mengenalku, tapi aku tau semua yang bapak lakukan pada Bambang dan juga Pardi, jika aku mau aku bisa mengatakan semua pada kedua polisi itu, tapi akan lebih baik jika bapak sendiri yang mengakui semua kejahatan yang telah bapak lakukan, aku bahkan tau pak Rahmat memakai penglaris untuk usaha bakso ini, dan Bambang mati menjadi tumbal untuk penglaris usaha bapak ini." jelas pak Jarwo menatap nanar ke arah pak Rahmat.
Terlihat pak Rahmat menelan ludahnya kasar, seraya mengusap peluh dikeningnya, dia tidak pernah menyangka ada seseorang yang mengetahui segala perbuatan nya, dan kini pak Rahmat nampak ketakutan berada disamping pak Jarwo.
Apa yang harus ku lakukan, laki-laki ini mengetahui segalanya, sebenarnya siapa orang ini kenapa dia bisa mengetahui semua yang ku lakukan selama ini, batin pak Rahmat dengan badan yang mulai bergetar.
"Kau tidak usah ketakutan seperti itu, lebih baik kau berkata jujur, dengan begitu hukumanmu akan lebih ringan." tukas pak Jarwo dengan seringai diwajah nya.
Dan setelah semua selesai dibereskan, pak Rahmat segera menutup warung baksonya dan masuk ke dalam mobil polisi, nampak pak Jarwo berpamitan pada kedua polisi itu.
"Saya permisi pulang pak jika ada yang bisa saya bantu, insyaAlloh saya bersedia membantu apapun itu." ucap pak Jarwo yang menjabat tangan kedua polisi itu.
Kemudian kedua polisi itu masuk ke dalam mobil, dan mengemudikan mobilnya ke kantor polisi, nampak pak Rahmat berkeringat dingin dan sangat ketakutan, pikiran nya sedang sibuk menerka-nerka kenapa kedua polisi itu datang mencarinya.
Sesampainya di kantor polisi pak Rahmat segera dibawa masuk, untuk bertemu dengan komandan nya, dan di dalam ruangan itu terdengar pak Rahmat di cerca berbagai pertanyaan, nampak seluruh tubuhnya bergetar karena ketakutan.
"Pak Rahmat sebaiknya jujur saja, dan katakan apa yang sebenarnya bapak lakukan di perkebunan pagi itu." seru seorang polisi yang berperawakan tinggi besar dengan kumis lebat yang menghiasi wajahnya.
"Saya hanya membeli sayuran disana pak, tidak ada lagi yang saya lakukan selain itu." ujar pak Rahmat dengan menundukan kepalanya.
"Lalu jelaskan kenapa ada noda darah di lengan baju yang bapak pakai saat itu." tukas polisi itu dengan suara beratnya.
"Saya tidak tau apa-apa pak, noda darah apa yang bapak maksud." sahut pak Rahmat dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Tiba-tiba ada seorang polisi masuk ke dalam ruangan itu dan membisikan sesuatu, ternyata ada seorang saksi yang melihat pak Rahmat sedang menikam perut seorang laki-laki, yang di duga adalah mayat yang ditemukan di perkebunan rambutan.
"Bawa saksi itu masuk ke dalam, supaya dia bisa melihat langsung wajah pelaku itu, apakah sama dengan bapak ini atau tidak." perintah polisi itu.
...🍁 Flashback on 🍁...
Seperti biasanya sebelum adzan subuh berkumandang, bu Wardah pergi ke sumur untuk menimba air yang akan digunakan mandi dan memasak setelah sholat subuh, disaat bu Wardah berjalan ke arah sumur tiba-tiba terdengar suara orang yang sedang berdebat, lalu bu Wardah mengurungkan niatnya untuk berjalan ke arah sumur, dan memilih untuk kembali ke rumah, karena bu Wardah tidak mau ikut campur urusan orang lain, tapi tiba-tiba bu Wardah mendengar suara seseorang yang berteriak jangan bunuh aku, disaat itu lah bu Wardah berusaha mendekati sumber suara itu, yang berasal dari dekat sumur dan bu Wardah pun mengintip dari balik rerimbunan pohon.
Nampak di depan sumur itu ada dua orang laki-laki yang sedang berbicara, dan salah satu nya sedang memegang pisau yang sudah ada bekas darahnya, dan seorang laki-laki yang ada dihadapan nya tiba-tiba tumbang dan tergeletak bersimbah darah, seraya memohon ampun supaya dia tetap hidup, tapi laki-laki itu menghujamkan pisau ke perut laki-laki yang sudah tergeletak itu berkali-kali sampai dia tewas disana.
...🍁 Flashback off 🍁...
"Demikian yang saya lihat pak, bapak itu lah yang menusuk laki-laki itu sampai dia tewas, dan bapak itu menyeret mayatnya entah kemana, karena saya ketakutan setelah melihat pembunuhan itu, saya akhirnya mengurung diri di dalam rumah, karena saya takut jika bapak itu mengetahui jika saya ada disana dan melihat semua yang dia lakukan, tapi setelah mendengar keramaian warga yang berbicara tentang penemuan mayat, saya jadi makin kepikiran apakah saya harus mengatakan yang saya lihat atau tidak, kemudian saya mengatakan semuanya pada suami, dan suami saya membawa saya ke kantor polisi ini, untuk memberi keterangan pada bapak polisi." cetus bu Wardah yang menundukan kepalanya tidak berani memandang pak Rahmat yang sedang menghadap ke arahnya.
"Jadi pak Rahmat apakah anda masih mau menyangkal semua perbuatan anda, sebelum kami menemukan bukti yang lain, dan autopsi pada jenazah dilakukan, lebih baik bapak mengakui segalanya, karena itu akan meringankan hukuman yang akan bapak terima nanti." terang bapak polisi itu dengan mengkerutkan keningnya.
Terlihat pak Rahmat hanya menundukan kepalanya, nampak keringat dingin bercucuran dikening nya, lidahnya seakan kelu dan tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
Setelah itu komandan polisi meminta bu Wardah, untuk ke ruangan lain guna menanda tangani berkas laporan, dan polisi yang lain nya di minta mencari barang bukti pisau yang di duga sebagai alat untuk menghabis nyawa korban.
"Bagi petugas di tiga lokasi, karena terduga masih diam saja dan tidak mau mengatakan sesuatu, kalian harus menemukan barang bukti di sekitar perkebunan, warung bakso, atau pun tempat tinggal terduga." tegas komandan polisi dengan wibawa nya.
Setelah itu pak Rahmat dibawa ke ruangan khusus, karena statusnya masih terduga jadi polisi belum bisa memasukan nya ke dalam sel tahanan, dengan berjalan gontai pak Rahmat hanya bisa terdiam seribu bahasa.
Aku tidak mau mengakui semua perbuatanku, tapi jika aku tetap diam hukuman yang ku terima akan semakin berat, apa yang harus aku lakukan sekarang, batin pak Rahmat didalam hatinya.
Kemudian salah seorang di ruangan yang sama dengan pak Rahmat, memberitau jika dia sudah berada di ruangan itu, tidak akan lama lagi status nya akan berubah menjadi tersangka, dan lebih baik dia mengakui semua perbuatan nya sebelum terlambat, karena ketika berkas nya sudah naik dan tersangka tidak mengakui kejahatan nya sendiri, maka hukuman nya bisa bertambah semakin lama.
"Tapi aku tidak melakukan apapun, apa yang harus ku akui pada mereka semua." pekik pak Rahmat dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Setelah itu nampak pak Rahmat duduk menjauh dari orang yang telah menasehatinya, didalam hati pak Rahmat masih ada kepercayaan jika pisau yang menjadi barang bukti itu tidak akan ditemukan polisi, dan polisi tidak mungkin menahan nya hanya karena laporan dari seseorang.
Aku sudah membuang pisau itu di tengah perjalanan, sewaktu aku akan kembali ke warung, jadi polisi-polisi itu tidak akan mungkin bisa menemukan nya, dan mereka tidak mungkin menetapkanku menjadi tersangka, hanya karena tuduhan perempuan tadi, apalagi mereka tidak memiliki barang bukti, batin pak Rahmat didalam hatinya.
*
*
...Dukung author yuk dengan memberikan like, hadiah, atau vote nya terima kasih semua pembaca tercinta 😊🙏...
...Bersambung....