
Setelah itu mbah Karto pergi ke rumah pak Slamet untuk mengobati nya kemudian mbah Karto meminta Rania dan Wati untuk kembali ke rumah nya dan mengatakan pada simbah jika nanti mbah Karto akan kesana.
Kemudian mbah Karto mulai mengobati mata pak Slamet tapi kondisi mata nya sudah terlalu parah bahkan meski dibawa ke Rumah sakit pun akan percuma.
"Aku tidak bisa mengobati ini dengan mudah, untuk sementara aku hanya bisa mengurangi rasa sakit yang kau rasakan di matamu". Ucap mbah Karto yang terlihat bingung.
"Tapi mbah apa aku akan buta untuk selamanya? ". Tanya pak Slamet dengan cemas.
"Kau perbanyaklah beribadah dan berdoa pada Tuhan supaya kau bisa kembali melihat seperti semula". Jawab mbah Karto dengan mengernyitkan dahi nya.
Sedangkan istri pak Slamet yang mengetahui jika suami nya belum bisa disembuhkan nampak sangat marah dan menghampiri kerumunan warga yang akan menuju ke rumah bu Jamilah untuk meminta pada keluarganya segera membongkar makam pak Kasmuri.
Mbah Karto yang sedang beranjak dari tempat duduknya samar samar mendengar teriakan banyak orang yang mengumpat pada bu Jamilah, lalu mbah Karto melihat dari balik jendela dan sangat terkejut karena banyak orang mendatangi rumah bu Jamilah dan membentaknya.
Semua warga berteriak didepan rumah bu Jamilah dan memintanya keluar dari rumah jika tidak warga akan memasuki rumah nya dengan paksa.
Dan akhirnya bu Jamilah keluar dari rumah dengan anak sulung nya Ari, keduanya bertanya ada apa ramai ramai mendatangi rumahnya.
Bu Ani berteriak dengan nada tinggi meminta supaya makam pak Kasmuri segera dibongkar karena sudah sangat meresahkan warga dan telah membuat mata suaminya menjadi buta.
Tapi bu Jamilah tetap pada pendirianya jika dia tidak percaya kalau suaminya yang menjadi pocong gentayangan di desa ini, karena semua keluarga nya tidak ada yang didatangi pocong itu.
Semua warga mengancam akan membongkar paksa makam pak Kasmuri jika bu Jamilah tetap tidak mau membongkarnya.
Sementara mbah Karto yang baru saja tiba di rumah bu Jamilah menengahi perdebatan di antara keduanya, mbah Karto memberi saran pada bu Jamilah jika dia ingin membuktikan bahwa suaminya lah yang menjadi pocong di desa ini dia harus mau membongkar kembali makam suami nya itu.
"Tapi mbah kenapa kau membela semua orang yang ingin menyudutkanku dan memfitnah suamiku". Ucap bu Jamilah dengan berderai air mata.
"Begini nduk meski aku belum bertemu langsung pocong itu tapi berdasarkan ucapan banyak warga aku bisa mengambil kesimpulan jika memang suami mu lah yang bergentayangan di desa ini". Ujar mbah Karto berbicara perlahan supaya bu Jamilah tidak marah.
"Baiklah nduk nanti malam aku sendiri yang akan membawamu untuk melihat hantu pocong suami mu yang gentayangan setiap malam karena tali pocong nya belum dilepaskan". Jawab mbah Karto dengan menganggukan kepalanya.
Setelah itu mbah Karto meminta semua warga untuk bubar dan kembali ke rumah nya masing masing tapi bu Ani masih bertahan disana dengan menatap tajam pada bu Jamilah, dia mengumpat jika sampai pak Slamet tidak dapat melihat lagi maka dia akan balas dendam pada bu Jamilah supaya dia merasakan apa yang suaminya alami saat ini.
"Tenang nduk jangan emosi lagi, insyaalloh jika Tuhan berkehendak aku bisa menyembuhkan suami mu". Ucap mbah Karto menenangkan bu Ani dan memintanya untuk pulang.
Setelah bu Ani pulang, mbah Karto juga berpamitan pada bu Jamilah karena dia akan ke rumah Rania untuk menemui simbah nya.
"Nduk aku tak pergi dulu, nanti malam aku akan kembali untuk mengajakmu melihat seperti apa wujud suamimu sekarang". Ujar mbah Karto seraya berjalan menuju rumah simbah Rania.
Took took took...
Cekleek...
"Eh mbah Karto akhirnya datang juga, silahkan masuk mbah". Seru bude Walimah seraya mencium punggung tangan mbah Karto dan mempersilahkan nya masuk kedalam.
Lalu bude Walimah pergi ke dapur untuk membuat kopi hitam kesukaan mbah Karto.
Simbah yang baru saja keluar dari kamar nya segera menemui mbah Karto di ruang tamu dan menceritakan berbagai kejadian di desa beberapa hari ini, mbah Karto yang sudah mengetahui sedikit permasalahan nya menjelaskan pada simbah Parti jika dia sudah mendengar semua bahkan sebelum datang ke rumahnya mbah Karto telah melerai perdebatan antara warga dan bu Jamilah.
Simbah terkejut karena mendengar semua warga nampak sangat marah pada bu Jamilah, lalu simbah meminta mbah Karto untuk menemui pak haji Faruk supaya cepat menyelesaikan teror pocong di Desa Rawa belatung.
*
*
Bersambung...