DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Menerima kabar buruk!!!


Rania bertanya pada Yudistira tentang kesenian daerah yang dia tau, dan diluar dugaan lelaki itu mengetahui banyak hal tentang berbagai tradisi jawa, Rania yang merasa aneh hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tapi tiba-tiba ponsel Rania bergetar, ada panggilan masuk dari mbah Karto, beliau mengabarkan jiwa Luna bersama ibu nya mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke kota.


"Tolong ya nduk kau dampingi mereka di rumah sakit dulu, karena saat ini tubuh tua ku mendadak lemas tidak bertenaga, setelah mendapatkan kabar dari polisi, mungkin sore nanti aku akan meminta Anto mengantarku ke rumah sakit." jelas mbah Karto di seberang telepon sana.


"Baiklah mbah setelah ini kami semua akan ke rumah sakit, mbah Karto istirahat di rumah saja ya, biar kami yang akan mendampingi kak Luna dan tante Wulan." sahut Rania meyakinkan mbah Karto.


Setelah itu Rania menutup panggilan telepon itu, nampak dia menjelaskan pada Lala jika Luna dan ibunya mengalami kecelakaan, dan sedang dirawat di rumah sakit, tapi mbah Karto tidak bisa datang sekarang, karena mendadak kesehatan nya menurun.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang saja Ran, bukankah kau sudah tidak ada kelas lagi." seru Lala dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Tapi kan Wati masih ada kelas La, apakah kita pergi berdua saja." tukas Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setelah mempertimbangkan segalanya, Rania dana Lala sepakat pergi ke rumah sakit saat itu juga, Rania mengirimkan pesan singkat pada Wati, yang menjelaskan jika dia dan Lala akan pergi ke rumah sakit, untuk melihat kondisi Luna dan ibu nya yang mengalami kecelakaan.


"Yudistira kami pergi dulu ya, sampai jumpa besok lagi." tukas Lala seraya bangkit dari duduknya.


"Bagaimana jika aku saja yang mengantar kalian." ujar Yudistira dengan menyunggingkan senyum nya.


"Ehm tidak perlu Yud, kami naik motor saja." cetus Lala seraya berjalan meninggalkan Yudistira.


Terlihat Rania berjalan gontai dengan pikiran nya yang menerka-nerka, sementara Lala yang sedang kasmaran dengan Yudistira, nampak tersenyum bahagia dengan membayangkan wajah tampan lelaki itu.


Plaak...


"Kau kenapa La, tumben sekali tersenyum-senyum sendiri." seru Rania dengan menepuk pundak Lala.


"Ehm tidak ada apa-apa Ran, aku hanya teringat mahasiswa baru itu, entah kenapa aku merasa jika dia tertarik padaku." jelas Lala dengan wajah memerah.


"Lalu kau juga menyukainya La?." tanya Rania dengan mengkerutkan kening nya.


"Aku hanya senang saja, ternyata masih ada lelaki tampan yang melirikku." jawab Lala dengan menyunggingkan senyum nya.


Setelah itu mereka bergegas mengendarai sepeda motornya, Rania memiliki firasat yang buruk pada Luna, dia mengira kecelakaan yang dialami Luna ada sangkut pautnya dengan arwah Pardi.


Sepertinya aku harus menerawang melalui batinku, jangan-jangan memang benar lagi, jika kecelakaan itu ada hubungan nya dengan arwah Pardi, batin Rania didalam hati nya.


Chiit...


Terlihat Rania mengerem motornya mendadak, gadis itu memejamkan kedua matanya seraya membaca ayat-ayat suci, dan didalam batin nya nampak terlihat jika Luna menabrak mobil yang ada didepan nya, karena Luna menghindari kucing hitam yang akan menyebrang.


Ternyata ini semua murni kecelakaan, aku pikir kejadian itu karena ulah Pardi lagi, batin Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Kemudian Rania melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, sesampainya disana kedua gadis itu berjalan ke IGD, terlihat disana ada seorang suster jaga, suster itu menjelaskan pada Rania, jika Luna belum sadarkan diri, sementara ibu nya harus menjalani operasi besar dibagian kepalanya.


"Apakah adik-adik ini keluarga dari pasien?." tanya suster itu.


"Kami membutuhkan tanda tangan persetujuan dari pihak keluarga, apakah ada keluarga selain kalian yang bisa datang ke rumah sakit secepatnya." tukas suster itu.


"Mungkin sore nanti sus, apakah operasi ini sangat mendesak sus, bagaimana kalau kami saja yang mewakilkan tanda tangan itu." ucap Rania dengan wajah cemas.


"Berkas persetujuan harus ditanda tangani oleh orang dewasa, yang sudah berumur minimal dua puluh empat tahun, dan sepertinya adik-adik ini belum cukup umur." jelas suster itu dengan mengkerutkan kening nya.


Bagaimana ini sepertinya kondisi tante Wulan sangat buruk, jika aku menghubungi mbah Karto dan mengatakan segalanya, aku takut beliau terkejut dan jantungnya kambuh lagi, batin Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudahlah Rania kita harus memberitau mereka, apa kau mau jika tante Wulan terlambat diberi pertolongan." seru Lala dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Nampak Lala mengambil ponsel didalam tas nya, gadis itu menghubungi pak Jarwo, dan memberitau segalanya.


"Tapi nduk mbah Karto sedang tidak sehat, mungkin lebih baik mbah Darmi saja yang memberi keputusan itu, setelah ini aku akan ke rumah beliau dan memberi kabar lebih lanjut." jelas pak Jarwo seraya menutup panggilan telepon itu.


Kemudian pak Jarwo bergegas ke rumah mbah Karto, nampak disana beliau sedang berbaring di atas ranjang nya, jantung beliau terasa sesak setelah menerima kabar jika keponakan nya beserta ibu nya mengalami kecelakaan, lalu pak Jarwo menghampiri mbah Karto dan menanyakan kondisi sesepuh desa itu.


"Aku baik-baik saja kok Le, entah kenapa jantungku sering sakit, jika menerima kabar buruk." jelas mbah Karto dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Mungkin tubuh mbah Karto sudah lelah, dan membutuhkan istirahat, setelah ini mbah Karto tidak perlu mengurusi semua masalah yang ada di desa ini, biarkan aku saja yang akan membantu, lagipula letak rumahki tidak terlalu jauh dari desa ini, mbah Karto harus lebih banyak di rumah." jelas pak Jarwo membujuk sesepuh desa itu.


"Bagaimana mungkin kau bisa mengurusi semuanya Le, aku akan tetap membantumu, meski tidak bisa sesering sebelumnya." tukas mbah Karto dengan suara beratnya.


"Iya mbah aku mengerti, lagipula ada Rania yang bisa sedikit membantu, semenjak dia bertambah dewasa, dia sudah bisa mengendalikan kemampuan yang dimilikinya, sehingga dia bisa membantu orang lain yang dalam kesusahan." ucap pak Jarwo meyakinkan mbah Karto.


Setelah itu nampak pak Jarwo berjalan menghampiri mbah Darmi, pak Jarwo menjelaskan pada mbah Darmi tentang kondisi adik ipar dan keponakan nya Luna, pak Jarwo meminta mbah Darmi pergi bersama Anto ke rumah sakit, untuk menanda tangani berkas persetujuan operasi.


"Tapi bagaimana jika mbah Karto bertanya aku mau kemana Le, aku tidak mungkin membohonginya." ujar mbah Darmi dengan wajah sendu.


"InsyaAlloh aku yang akan menjelaskan segalanya pada mbah Karto, lebih baik mbah Darmi bersiap dulu, sebentar lagi Anto akan datang menjemput mbah Darmi." cetus pak Jarwo dengan memijat pangkal hidung nya.


Setelah menjelaskan pada mbah Darmi, nampak pak Jarwo mendekati mbah Karto, yang masih terbaring di atas tempat tidurnya, pak Jarwo mengatakan pada mbah Karto, jika lebih baik mbah Darmi saja yang menjenguk Luna dan juga ibu nya.


"Mbah Karto istirahat di rumah saja, besok jika kondisi lebih baik, aku yang akan menemani mbah Karto ke rumah sakit." cetus pak Jarwo dengan menundukan kepalanya.


Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka, aku merasakan jika Jarwo menyembunyikan sesuatu dariku, batin mbah Karto didalam hati nya.


*


*


...Yuk kak mampir baca di novel horor Author yang bejudul Dendam Perempuan Berjubah Merah, ceritanya semakin seru loh, jangan lupa tinggalkan Vote dan hadiahnya juga, Love u all 💕...


...Bersambung....