
Keesokan hari nya Kasmi yang sudah bersiap untuk pergi ke desa Rawa belatung nampak bimbang untuk meninggalkan rumahnya, karena saat ini simboknya juga jatuh sakit setelah kejadian semalam, sedangkan Lala yang masih kehilangan kesadaran nya hanya bisa melamun di dalam kamarnya dengan sesekali merintih merasakan sakit di tubuhnya.
"Nduk kau di rumah saja ya jaga simbok sama adekmu, karena bapak harus pergi ke sekolah Lala untuk memberitahu guru nya jika Lala sedang sakit dan tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah untuk waktu yang belum di ketahui". Tukas bapak Kasmi dengan menundukan kepalanya.
"Baiklah pak, tadi nya aku mau menemui kangmas Jarwo dan mengajaknya kesini, tapi sepertinya simbok tidak bisa ditinggal apalagi kondisi Lala yang seperti itu". Ucap Kasmi dengan wajah sendu nya.
Kemudian pak Abdul bergegas pergi ke sekolah Lala dan meminta ijin pada guru nya, dan di sekolah itu pak Abdul tidak sengaja bertemu dengan Rania dan Wati yang ternyata adalah teman satu kelas Lala.
"Assalamualaikum, bapak ini orang tua nya Lala safitri kan?". Tanya Wati seraya mengecup punggung tangan pak Abdul disusul dengan Rania yang tadinya sibuk berbicara dengan Petter.
"Waalaikumsalam nduk, iya aku bapaknya Lala kalian berdua teman satu kelasnya Lala to". Jawab bapak Lala dengan tersenyum kecil.
Setelah itu nampak Petter mengatakan pada Rania jika dia mencium aroma ilmu hitam ketika dekat dengan nya, Rania yang merasa aneh dengan sikap Petter hanya diam tidak menanggapi ucapan teman hantu nya itu, lalu Rania pun bertanya pada pak Abdul kenapa Lala tidak berangkat sekolah pagi itu, padahal hari ini ada ulangan di sekolahnya.
"Iya nduk Lala nya sedang sakit, tolong ya kalau ada waktu pinjamkan buku catatan nya supaya Lala dapat belajar di rumah, karena dia belum bisa berangkat sekolah dulu". Jelas pak Abdul dengan menundukan kepalanya.
"Lho Lala sakit apa pak, jika boleh nanti sepulang sekolah kami ingin menjenguk Lala dan meminjamkan buku catatan pelajaran hari ini". Cetus Rania dengan mengkerutkan kening nya.
Aku sengaja ingin menjenguk Lala sepulang sekolah nanti untuk membuktikan ucapan Petter tentang aroma ilmu hitam yang ada di tubuh bapaknya Lala, batin Rania didalam hatinya.
Kemudian pak Abdul pun pulang ke rumah nya sementara Rania dan Wati masuk ke kelas nya untuk melanjutkan pelajaran nya, sedangkan Petter yang jiwa ingin tahu nya besar memutuskan untuk mengikuti pak Abdul sampai ke rumah nya.
Dan sesampainya di rumah itu nampak Petter memperhatikan semua orang yang ada disana, tapi pandangan nya tertuju pada Lala yang sedang duduk di atas ranjang nya dengan tatapan mata yang kosong seperti dalam pengaruh sihir.
Ketika Petter akan mendekati Lala dia terperanjat karena melihat sesosok makhluk tinggi besar yang ada didalam kamar itu sedang memandangi gadis yang ada di atas tempat tidurnya.
Siapa makhluk menyeramkan itu, lebih baik aku kembali ke sekolah Rania dan melarangnya untuk datang kesini, aku tidak mau jika nyawa Rania terancam lagi, batin Petter didalam hatinya seraya melesat meninggalkan rumah itu.
Wuuush...
Petter melesat kembali ke sekolah Rania dan memberitahu nya untuk tidak datang ke rumah teman nya itu.
"Kau jangan pergi kesana Ran, karena disana ada sesosok makhluk yang menyeramkan, aku tidak mau kau kenapa-kenapa, bahkan kedua orang tua ku menunda kepergian kami ke alam keabadian karena mereka hawatir padamu Ran, jadi lebih baik kau tidak kesana". Ucap Petter yang terbang mengambang.
"Aku harus kesana Petter, aku ingin melihat keadaan Lala". Seru Rania seraya berjalan tergesa-gesa.
Nampak Petter sangat kesal karena Rania tidak mau mendengarkan ucapan nya, dia terpaksa mengikuti Rania kembali ke rumah Lala.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum". Seru Rania dan Wati bersamaan.
"Waalaikumsalam". Sahut Kasmi seraya membuka pintu rumahnya.
Cekleek...
"Loh nduk kalian ini kan cucu nya simbah Parti to?". Tanya Kasmi dengan mengkerutkan kening nya.
"Ehm iya bu, ibu ini istrinya pak Jarwo kan". Jawab Wati mengaitkan kedua alis matanya.
Setelah itu Kasmi mempersilahkan Rania dan Wati masuk ke dalam rumahnya, mereka mengatakan jika ingin meminjamkan buku catatan pelajaran sekolah supaya Lala dapat mempelajari nya dan tidak ketinggalan materi pembelajaran, tapi Kasmi justru bersedih dan meneteskan air mata karena dia sangat tau jika Lala tidak mungkin bisa mengikuti pembelajaran di sekolah nya lagi.
"Nduk kalian bawa saja buku itu, jika Lala sudah sembuh biar dia yang akan meminjamnya pada kalian". Jelas Kasmi dengan wajah sendu.
Kemudian Petter menjelaskan pada Rania, jika teman nya itu tidak sakit tapi dia sedang di guna-guna oleh seseorang dam Petter meminta Rania untuk tidak ikut masuk ke dalam kamar Lala, tapi Rania mengacuhkan ucapan Petter dan mengikuti Kasmi yang mengajaknya bersama Wati masuk ke dalam kamar Lala.
Kreeaak...
Terdengar suara pintu kamar Lala terbuka, lalu mereka semua memasuki kamar itu, dan disana ada Lala yang duduk terdiam di atas tempat tidur dengan tatapan mata yang kosong.
Dan disaat Rania memandang ke seluruh penjuru kamar itu nampak dia sangat terkejut ketika dia melihat sesosok makhluk tinggi besar dengan bulu-bulu lebat berwarna hitam dan mulut yang menganga tengah berdiri memandangi Lala dengan sorot mata yang menyeramkan.
"Astagfirullah". Seru Rania seraya menutup kedua mata nya menggunakan tangan nya.
"Ada apa Ran". Celetuk Wati yang menyadari jika sepupunya itu telah melihat sesuatu yang tak kasat mata.
Kemudian Rania membalikan badan nya membelakangi makhluk menyeramkan itu, dia tidak mengatakan yang sebenarnya karena hawatir jika Wati ketakutan dan meminta pulang saat itu juga.
"Lala sakit apa bu, kenapa tidak meminta bantuan pak Jarwo saja". Ucap Rania dengan menyentuh tangan Lala yang sangat dingin.
"Nah itu nduk, aku tidak bisa menghubungi suamiku, aku minta tolong pada kalian ya nduk jika kalian pulang nanti sampaikan pada pak Jarwo untuk ke rumah orang tua ku, dan bilang saja simbok dan Lala sedang sakit". Cetus Kasmi dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Lala kau cepat sembuh ya, aku dan Wati pulang dulu, lain kali kami akan menjengukmu lagi". Tukas Rania seraya memeluk Lala yang tetap terdiam tanpa jawaban.
Setelah itu Rania dan Wati bergegas pulang ke rumah nya di ikuti Petter yang selalu berada di dekat Rania, dan sesampainya mereka di desa Rawa belatung, Rania menceritakan apa yang dia lihat pada simbah Parti.
"Ya Allah gusti nduk, jangan-jangan temanmu di ganggu makhluk gaib itu". Seru simbah Parti dengan membulatkan kedua matanya.
Kemudian simbah Parti meminta Rania untuk menyampaikan pesan Kasmi pada pak Jarwo, supaya Lala dapat segera ditolong.
Sementara Petter yang menceritakan hal yang sama pada Jansen dan Evana semakin berat hati jika harus meninggalkan Rania tanpa pengawasan dari mereka lagi.
Lalu Jansen mengambil keputusan jika mereka semua akan tetap bersama Rania sampai dia dewasa dan menemukan jodohnya, supaya kelak ada yang menggantikan mereka untuk menjaga Rania dari berbagai macam makhluk gaib yang dapat dia lihat.
Tok tok tok...
Terlihat Rania mengetuk pintu rumah mbah Karto, karena sudah beberapa hari pak Jarwo berada disana.
"Assalamualaikum mbah". Seru Rania.
"Waalaikumsalam nduk, masuklah". Sahut mbah Darmi seraya berjalan menghampiri Rania.
"Pak Jarwo nya ada mbah?". Tanya Rania dengan mengecup punggung tangan mbah Darmi.
"Sudah dari semalam mbah Karto dan Jarwo melakukan ritual dan belum keluar dari kamar itu". Jawab mbah Darmi dengan mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah ruangan yang tertutup pintu nya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada pak Jarwo mbah". Ucap Rania dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Memang ada apa nduk, kalau ada yang penting sampaikan saja padaku, nanti biar aku yang akan menyampaikan nya pada Jarwo, setelah dia menyelesaikan ritualnya". Tukas mbah Darmi dengan mengkerutkan kening nya yang sudah dimakan usia.
*
*
...Bersambung....