DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Petter menghilang tanpa jejak!!!


Rania dan Wati pulang ke rumahnya dengan membawa pertanyaan besar, mereka berdua tidak menyangka jika Lala teman satu kelasnya yang dikenal pintar dan rajin mengaji bisa mengalami nasib yang buruk seperti itu.


Sesampainya mereka di rumah nampak bude Walimah memandangi keduanya yang langsung masuk ke kamarnya masing-masing tanpa ada yang saling bergurau seperti biasa nya.


Anak-anak itu kenapa ya, tumben sekali pulang sekolah tidak berisik seperti biasanya, batin bude Walimah penuh tanya.


Setelah itu bude Walimah menghampiri anak perempuan nya Wati, dia menanyakan kenapa mereka berdua pulang sekolah dengan wajah sendu.


"Hu hu hu ibu, kasihan temanku bu". Ucap Wati terisak memeluk ibu nya.


"Temanmu siapa to nduk, sudah jangan menangis ceritakan pada ibu pelan-pelan?". Tanya bude Walimah dengan mengkerutkan keningnya.


Setelah itu Wati pun menceritakan segalanya yang dia tau tentang Lala, nampak bude Walimah terlihat cemas wajahnya berubah pucat seketika ketika mendengar jika Lala adik ipar pak Jarwo sedang mengandung anak buto ireng.


"Astagfirullahaladzim, malang sekali nasibnya nduk". Seru bude Walimah dengan mata berkaca-kaca.


Sementara itu Rania yang berada di kamarnya sedang memikirkan suatu rencana, dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Lala.


Aku harus meminta tolong pada keluarga Petter, seperti sebelumnya mereka selalu bisa membantuku menyelesaikan misteri yang terjadi di desa ini, gumam Rania pada dirinya sendiri.


Setelah itu Rania bangkit dari duduknya untuk menghampiri keluarga Petter yang berada di dalam gudang, tapi sesampainya disana Rania tidak dapat menemui satupun keluarga Petter.


Dimana mereka, kenapa tempat ini kosong, jangan-jangan Petter benar-benar marah padaku karena aku tidak pernah mendengarkan ucapan nya yang selalu melarangku pergi ke rumah Lala, batin Rania didalam hatinya.


Nampak Rania semakin cemas karena dia tidak dapat menemukan keluarga teman hantu nya itu, dia berlari ke seluruh penjuru rumahnya berharap dapat menemukan keluarga teman hantu nya itu, tapi usahanya tidak berhasil karena Rania tidak dapat menemukan Petter dan juga kedua orang tua nya.


Teelihat wajah Rania berubah menjadi sendu, bulir-bulir air matanya tiba-tiba menetes karena dia tidak dapat menemukan Petter dan juga kedua orang tua nya.


"Hu hu hu Petter kau dimana, apakah kau sangat marah padaku karena aku tidak pernah mendengar ucapanmu lagi, kenapa kau pergi tanpa berpamitan padaku". Ucap Rania berderai air mata di depan pintu rumahnya.


Suara tangisan Rania terdengar di telinga simbah Parti yang sedang tidur di kamarnya, lalu beliau menghampiri cucu perempuan nya yang sedang duduk di lantai dengan berderai air mata.


"Kau kenapa nduk, pulang sekolah malah menangis begini". Tukas simbah Parti seraya memeluk cucu perempuan nya.


"Petter dan orang tuanya tidak ada mbah, mereka pergi tanpa berpamitan padaku". Seru Rania sesegukan.


"Memangnya mereka mau pergi kemana, bukankah Jansen dan Evana sudah mengatakan jika mereka akan pergi ke alam keabadian setelah kau dewasa nanti, mana mungkin mereka berbohong nduk". Ujar simbah Parti mengusap air mata Rania.


"Itu karena Petter mbah, dia marah padaku karena aku tidak mau mendengarkan ucapan nya". Jelas Rania yang masih sesegukan.


"Sudah ayo berdiri dulu, ini minum air putihnya supaya kau tenang, coba ceritakan pada simbah pelan-pelan apa yang sebenarnya terjadi". Ucap simbah Parti seraya memberikan segelas air pada Rania.


Kemudian Rania menceritakan segalanya tentang Petter yang selalu melarangnya pergi ke rumah Lala, padahal Rania hanya ingin menjenguk Lala saja, tapi Petter selalu melarangnya dengan alasan keselamatan Rania, tapi tadi Petter sangat kecewa karena Rania lagi-lagi tidak mendengarkan ucapan nya dan dia pergi tanpa berpamitan.


"Aku pikir Petter hanya marah untuk sesaat saja, makanya aku membiarkan dia pergi begitu saja tanpa berpamitan, tapi setelah aku kembali ke rumah dia dan orang tua nya tidak ada lagi disini mbah hu hu hu". Cetus Rania terisak kembali.


"Sudah nduk tenang dulu, mungkin mereka semua sedang mencarimu ke rumah Lala". Tukas simbah Parti menenangkan Rania.


"Mana mungkin mbah, dan lagi kondisi Lala saat ini benar-benar menyedihkan hu hu, Lala sudah dinodai buto ireng mbah, makanya Petter melarangku untuk pergi ke rumah Lala". Ucap Rania menggetarkan hati simbah Parti.


"Astagfirullahaladzim, bagaimana mungkin itu bisa terjadi nduk, bukankah Lala itu anak yang sholehah, bagaimana bisa dia sampai dinodai makhluk gaib seperti itu". Pekik simbah Parti dengan mata berkaca-kaca.


"Aku juga tidak tau mbah, makanya aku mau meminta tolong pada Petter untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi ternyata dia sudah pergi tanpa berpamitan padaku". Ujar Rania dengan mengusap air matanya.


"Ya Allah aku sampai lupa Wati, tunggu sebentar aku mau ganti baju, setelah itu kita langsung ke rumah mbah Karto". Seru Rania seraya berjalan masuk ke kamarnya.


Kemudian Rania dan Wati berjalan ke rumah mbah Karto, disepanjang jalan nampak Rania memandang ke segala arah sembari mencari tau keberadaan teman-teman hantunya.


"Kau sedang mencari apa Ran, aku perhatikan dari tadi kau seperti orang yang kehilangan sesuatu". Tukas Wati dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku sedang mencari Petter dan orang tua nya Wati, mereka semua menghilang dari rumah kita, padahal aku ingin meminta tolong pada mereka semua". Jelas Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Memangnya teman-teman hantumu sudah kembali ke alam keabadian?". Tanya Wati dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Semoga saja mereka tidak kesana sebelum berpamitan padaku". Jawab Rania dengan wajah sendu nya.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum". Seru Rania dan Wati bersamaan.


"Waalaikumsalam". Sahut mbah Darmi yang bergegas membuka pintu rumahnya.


Cekleek...


"Eh kalian nduk, ayo masuklah pasti kalian akan menyampaikan sesuatu ya". Ucap mbah Darmi menerka-nerka.


"Ehm iya mbah, kami membawa pesan untuk mbah Karto". Jelas Rania dengan menundukan kepalanya.


Dan tidak lama setelah itu nampak mbah Karto keluar dari dalam kamar khususnya, kening mbah Karto mengkerut seakan memikirkan sesuatu.


"Aku mengetahui sesuatu, jika kedatangan kalian berdua kesini dengan membawa kabar buruk, benarkan nduk tebakanku" Tukas mbah Karto memandangi Rania dan Wati.


Kemudian Rania menjawab tebakan mbah Karto, Rania mengatakan jika pak Jarwo sedang sakit dan membutuhkan bantuan nya.


"Jika mbah Karto berkenan pak Jarwo meminta mbah Karto berkunjung ke desa Randu garut, karena kondisi Lala benar-benar menghawatirkan". Cetus Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Aku pasti akan datang kesana nduk, aku sudah tau semuanya tapi aku butuh waktu untuk memecahkan misteri siapa orang yang ada dibalik kejadian buruk yang menimpa Lala". Tegas mbah Karto dengan mendongakan kepalanya ke atas.


"Tapi mbah ada hal lain yang ingin aku tanyakan". Cetus Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Ada apa lagi nduk". Seru mbah Karto memandang wajah sendu Rania.


"Petter dan orang tuanya menghilang mbah, apakah mereka sudah pergi ke alam keabadian?". Tanya Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa kau bertanya begitu nduk, bukankah Petter dan orang tuanya selalu menjagamu". Jawab mbah Karto mengkerutkan kening nya.


Setelah itu nampak mbah Karto memejamkan kedua matanya, berusaha mencari tau dimana keberadaan teman-teman hantu Rania.


*


*


...Udah mau lebaran aja nih kak, author minta maaf ya jika ada kesalahan penulisan atau kesalahan yang lain nya, dan menjelang idul fitri mohon maaf jika nanti agak slow update ya, dimohon pengertian nya 😊🙏...


...Bersambung....