
Nampak wajah Ari berubah sangat cemas ketika melihat Rara jatuh pingsan didepan nya.
"Istriku bangunlah, apa yang terjadi padamu". Seru Ari dengan mata berkaca kaca.
Karena tidak ada respon dari Rara, kemudian Ari bangkit dari sana dan berlari menemui ibu mertua nya untuk memberi tau jika Rara sedang tidak sadarkan diri.
"Bu tolonglah Rara, tadi ketika aku sedang melakukan ritual tiba tiba saja ada angin kencang yang datang dan menghempaskan tubuh Rara hingga membentur tembok dan tidak sadarkan diri". Tukas Ari dengan mata berkaca kaca.
Setelah mendengar penjelasan menantu nya itu, kedua nya langsung berlari untuk menghampiri Rara didalam sebuah kamar yang gelap dan ketika mereka berdua sampai disana dan menyalakan lampu, keduanya nampak terkejut ketika mengetahui Rara sudah tidak ada disana.
"Kemana istrimu Le?". Tanya bu Ema dengan mata berkaca kaca.
"Ta tadi Rara ada disini bu". Jawab Ari dengan mengarahkan jari telunjuknya ke pojokan ruangan.
Tiba tiba ada seseorang yang mengagetkan keduanya dengan suara langkah kaki nya, tanpa beranj menoleh mereka berdua saling memandang seakan memberi isyarat jika mereka berdua takut kalau itu adalah suara langkah kaki Anto.
"Bu... Mas Ari, kalian sedang apa". Sapa seorang perempuan dengan suara lembutnya.
Seketika Ari membalikan badan nya dan melihat Rara istri nya sedang berdiri memandang ke arah nya.
"Istriku... Kau darimana saja". Seru Ari dengan meneteskan air mata nya.
Terlihat bu Ema sudah tidak dapat membendung kebahagiaan nya lagi ketika melihat anak perempuan nya sudah kembali seperti dulu lagi, bu Ema berjalan setengah berlari menghambur ke pelukan anak perempuan nya itu.
"Anakku sayang akhir nya kau kembali lagi nduk". Seru bu Ema dengan berderai air mata.
"Ibu jangan bersedih lagi, bagaimana pun aku ini sudah meninggal bu, jadi aku tidak bisa bersama kalian selama nya". Ucap Rara seraya membalas pelukan ibu nya.
Lalu nampak Ari tidak terima mendengar ucapan Rara dan membentaknya.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu sayang, aku sudah melakukan segalanya untukmu supaya kau bisa selalu bersamaku". Celetuk Ari dengan mengacak kasar rambut nya.
Kemudian Rara berjalan menghampiri suaminya itu dan memeluknya.
"Tidak bisa begitu mas, apa kau tidak ingin melihatku tenang di alamku, setelah bapak membangkitkanku dari alam kubur aku gentayangan menjadi hantu yang penasaran kini kau dan ibu ingin menahanku di alam yang fana ini". Seru Rara dengan wajah sendu nya.
Ketika mereka semua sedang berdebat di ruang tamu tiba tiba terdengar suara sepeda motor Anto yang mendekati halaman rumah mereka, nampak bu Ema sangat panik dan meminta Ari untuk membawa Rara kedalam kamar nya.
"Cepat Le bawa istrimu ke kamar dan kunci pintu nya". Perintah bu Ema dengan wajah yang sangat cemas.
Lalu bu Ema segera berlari untuk mengunci pintu tempat Ari melakukan ritual nya.
Cekleek...
Terdengar Anto membuka pintu rumah nya, membuat bu Ema menjadi salah tingkah untuk melakukan sesuatu.
"Eh bu ada yang bisa saya bantu". Tanya Anto dengan seringai kecil di wajah nya.
"Tidak ada kok Le ibu habis masak, cepatlah makan". Jawab bu Ema dengan memegangi gagang sapu dan membawanya kedalam kamar.
"Loh ibu tidak mau makan bersamaku dulu". Ucap Anto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Kau duluan saja ya Le, ibu mau istirahat sebentar". Tukas bu Ema seraya berjalan memasuki kamarnya.
Loh katanya mau istirahat kok membawa sapu kedalam kamar ya, gumam Anto pada dirinya sendiri.
Malam itu suasana rumah nya berubah semakin sunyi karena penghuni di rumah nya berada didalam kamar nya masing masing, sedangkan Anto yang masih berada di ruang tamu dengan memainkan gawai nya merasa aneh dengan suasana malam itu.
Lalu dia memutuskan untuk menemui kangmas nya yang berada didalam kamar.
Tok tok tok...
"Mas apa kau sedang sakit?". Tanya Anto dari balik pintu itu.
"Aku tidak apa apa To, apa kau membutuhkan bantuanku". Jawab Ari dengan menggaruk rambut nya yang tidak gatal.
"Ah tidak ada kok mas, aku hanya menghawatirkanmu karena tumben saja jam segini kau mengurung diri didalam kamar". Seru Anto dengan wajah penasaran.
"Sebentar To kau tunggu saja di ruang tamu, nanti aku akan menemuimu". Sahut Ari dengan memijat pangkal hidung nya.
Setelah itu Anto kembali ke ruang tamu nya dan menunggu kedatangan kangmas nya itu.
"Istriku sayang kau tunggulah didalam kamar, aku akan mengunci pintu dari luar supaya Anto tidak dapat menemukanmu disini". Ucap Ari seraya mengecup kening Rara.
Kemudian Ari menemui adik laki laki nya itu dengan membawa papan catur.
"Ayolah kita bermain catur saja To". Tukas Ari dengan meletakan papan catur itu ke atas meja.
Kemudian mereka berdua bermain catur dengan membicarakan banyak hal, sampai pada ketika Anto membahas tentang seorang teman kerja nya yang bersekutu dengan iblis untuk mendapatkan kekayaan nya.
"Kau tau tidak kang ditempatku bekerja ada seorang laki laki yang memuja nyai blorong, dia harus menjadi budak pemuas birahi siluman itu dan tadi pagi dia ditemukan tewas dipatuk ular raksasa". Cetus Anto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Lalu apa yang terjadi dengan kekayaan nya". Seru Ari dengan menatap bidak catur nya.
"Kekayaan nya lenyap begitu saja mas, ketika semua orang sedang mengurusi jenazah nya tiba tiba saja listrik di rumah nya konslet dan melahap habis harta benda nya". Tukas Anto yang dikalahkan oleh Ari dalam permainan catur nya.
"Skakmat". Seru Ari dengan seringai kecil di wajah nya.
"Wah kau curang mas, kau memintaku bercerita dan kau memakan rajaku". Seru Anto dengan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Sudahlah To, jika kau kalah terima saja, besok lagi kita lanjutkan sekarang aku harus tidur karena besok aku harus berangkat pagi untuk bekerja". Jelas Ari dengan berdiri meninggalkan adik laki laki nya itu.
Nampak Anto membulatkan kedua mata nya ketika melihat Ari membuka pintu kamar nya dari luar dengan kunci yang ada didalam kantong celana nya.
Kok tumben sekali mas Ari keluar kamar saja pakai mengunci pintu segala, batin Anto didalam hati nya.
Disaat Anto sedang tenggelan dalam pikiran nya tiba tiba bu Ema keluar dari kamar nya dan menepuk pundak Anto dari belakang.
"Kau sedang apa Le disini sendirian?". Tanya bu Ema dengan mengernyitkan dahi nya.
"Tadi aku bermain catur bersama mas Ari bu, tapi baru saja dia kembali ke kamar nya". Jawab Anto dengan memijat pangkal hidung nya.
Nampak bu Ema ingin tau apa yang sedang Anto pikirkan karena dia seperti sedang mencemaskan sesuatu, dan ketika bu Ema bertanya pada Anto tentang apa yang membuatnya hawatir, Anto menjelaskan jika dia merasa aneh dengan sikap kakak laki laki nya itu, karena tidak biasa nya Ari keluar kamar dengan mengunci pintu nya dari luar seperti ada yang sedang kakak nya sembunyikan darinya.
Lalu bu Ema berpura pura tidak tau dan berkata pada Anto jika dia tidak perlu menghawatirkan kakaknya, karena mungkin saja Ari sedang mengerjakan sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh penghuni rumah yang lain nya.
*
*
...Bersambung....