
Hari berganti hari tanpa terasa sudah hampir dua bulan penyamaran Bagaskara, tapi dia belum bisa mendapatkan hati Lala, meski Lala sudah terbiasa tanpa suami gaib nya didalam hati kecilnya masih tersisa cinta untuk suami gaibnya itu.
Bagaskara yang kelimpungan berusaha merebut hati Lala, semakin kesal karena setiap hari nya Senopati selaly datang menemui ibunda nya, tidak hanya sekedar datang Senopati selalu menyampaikan salam dari romo nya, nampak Senopati ingin memperbaiki hubungan kedua orang tua nya, karena semenjak pertemuan mereka yang terakhir kali nya, Lala dan Elang sama-sama tidak pernah berhubungan kembali.
"Ibunda untuk sesekali apakah kau tidak menjenguk ibu Mekar, romo juga terlihat sangat merindukanmu, bahkan sampai sekarang romo belum bisa memaafkan ibu Sekar, karena dia sudah bersekongkol dengan pangeran Bagaskara, entah apa tujuan nya merusak kebahagiaan kalian, padahal dulu aku sangat dekat dengan nya, tapi sekarang dia sudah menjadi musuhku." tukas Senopati dengan mendengus kesal.
"Sudah lah nak jangan kau turuti amarahmu itu, mungkin memang ini sudah jalan hidupku, aku dan romo mu memang tidak seharusnya bersama." ucap Lala dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Tapi itu tidak berarti jika pangeran Bagaskara akan menggantikan posisi romo kan bu, dia tidak pantas menggantikan romoku, aku ingin ibunda hidup bahagia dengan sesama manusia, dan berikanlah aku seorang adik yang akan menemani ibu di alam manusia, aku pasti akan sangat bahagia bu." ujar Seno seraya memeluk ibunda nya.
Cekleek...
Terlihat Rania membuka pintu kamar Lala, semenjak kondisi mbah Karto membaik, pak Jarwo bersama istri nya memutuskan untuk kembali ke rumahnya, sementara Lala tetap tinggal bersama Rania dan Wati.
"Ehmm maaf La jika aku mengagetkanmu, apakah kau masih berbicara dengan anakmu, aneh ya hanya dia satu-satunya makhluk gaib yang tidak bisa ku lihat selama ini." celetuk Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu karena dia memiliki sebagian darah manusia dariku Ran, jadi dia itu berbeda dari makhluk gaib lain nya, sebenarnya Senopati bisa menjadi manusia seutuhnya, tapi karena dia anak lelaki, dia harus meneruskan keturunan dari romo nya, dan dia harus tetap tinggal bersama makhluk gaib lain nya." jelas Lala dengan menyunggingkan senyumnya.
Nampak Senopati mengatakan pada ibunda nya jika dia akan kembali ke alam gaib, karena romo nya memanggil, Lala pun hanya menganggukan kepalanya seraya menyunggingkan senyumnya, melepas kepergian sang anak kembali ke alam nya.
"Eh iya Ran ngomong-ngomong ada apa kau mendatangiku selarut ini." seru Lala dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Tadi aku sempat melihat ke masa lalu, ada beberapa orang yang melakukan perjalanan gaib ke dimensi lain, mereka melakukan itu untuk menjemput seorang anak yang diculik kalong wewe, bagaimana kalau kita menggunakan cara ini, untuk mencari jiwa kak Luna yang tersesat di dimenai lain." cetus Rania dengan wajah serius.
"Apakah kau yakin cara ini bisa berhasil, lalu siapakah yang akan pergi kesana, apa kita meminta bantuan mbah Karto saja."
"Jangan La mbah Karto sudah terlalu tua, untuk bepergian ke dimensi gaib, justru aku berpikiran kenapa tidak aku saja yang pergi kesana." tukas Rania dengan mengkerutkan keningnya.
"Jangan Ran itu sangat berbahaya untukmu, aku sudah meminta pada Seno untuk mencari kak Luna, tapi itu sedikit rumit Ran, karena kak Luna pergi hanya membawa jiwa nya saja, raga nya masih tergeletak di rumah sakit, berbeda dengan Wati yang pernah menghilang, bisa dikatakan kak Luna seperti arwah gentayangan, dia hanyalah jiwa tanpa raga yang bersembunyi diantara arwah-arwah yang lain nya, dan dia juga tidak sadar jika dia tidak berada di dunia nya, aku hanya tidak tega padanya, setelah dia sadar kembali pasti kak Luna akan mencari ibu nya, padahal ibu nya sudah sebulan meninggal dunia." ucap Lala dengan wajah sendu.
"Ehm kalau begitu bagaimana jika aku dan anakmu Senopati pergi bersama ke dimensi gaib, untuk mencari keberadaan jiwa kak Luna, selain aku akan aman bersamanya, dia juga akan lebih mudah menemukan kak Luna, karena ada aku yang akan menemani nya La, bagaimanapun aku akan pergi meninggalkan ragaku, itu artinya aku hanyalah jiwa tanpa raga sama seperti kak Luna, dan hanya aku saja yang dapat mengenalinya dengan mudah." cetus Rania dengan menyunggingkan senyumnya.
"Ah kau benar juga Ran, lebih baik kita bicarakan dulu dengan mbah Karto dan juga mas Jarwo, aku tidak ingin kita melakukan sesuatu tanpa persetujuan keduanya." tukas Lala memantapkan tekatnya.
*
*
"Kau yakin Ran tidak ingin mengatakan nya pada mbah Karto terlebih dulu?." tanya Lala menatap serius wajah Rania.
"Jika aku mengatakan pada mbah Karto terlebih dulu, aku yakin beliau tidak akan mendukungku, tapi jika aku menjelaskan ini pada pak Jarwo terlebih dulu, beliau lah yang akan meyakinkan mbah Karto, jadi aku tidak sulit membujuk mbah Karto." jawab Rania.
Plaak...
"Kalian mau kemana sepagi ini." seru Wati seraya menepuk pundak keduanya.
"Eh kau Wat mengagetkan saja, kami ada urusan sebentar, dan kau mempunyai tugas khusus dari ku, tetaplah berada didekat bude Walimah, kau harus menjaganya dari hantu suster jahat itu kan, jadi lebih baik kau di rumah saja." cetus Rania mengaitkan kedua alis matanya.
"Aku kan tidak bisa apa-apa Ran, jika kalian berdua pergi meninggalkanku sendiri, apa yang akan ku perbuat jika hantu jahat itu datang." seru Wati dengan wajah ketakutan.
Kemudian Rania dan Lala mengatakan pada Wati, jika dia harus membaca ayat-ayat suci, karena hanya doa saja yang dapat melindunginya dari hantu itu.
"Kau tidak perlu takut Wat, percayalah ada Alloh yang akan selalu bersamamu, lagipula kami pergi hanya sebentar, aku ingin menyelamatkan kak Luna Wat, kasihan dia sudah lama tidak sadar dari koma nya, apalagi ibu nya sudah tiada sekarang." jelas Rania dengan wajah sendu.
"Baiklah Ran kalian pergi saja, insyaAlloh aku akan baik-baik saja, karena kak Luna lebih membutuhkan pertolongan kita, kalian berdua hati-hati ya lekaslah kembali." ujar Wati seraya memeluk Rania dan Lala bersamaan.
Setelah Rania dan Lala pergi ke rumah pak Jarwo, nampak Bagaskara mencari tau kemana Lala pergi saat itu, Bagaskara menggunakan kesaktian nya untuk mengetahui apa yang akan dilakukan Lala bersama Rania.
Jadi mereka ingin pergi ke dimensi lain, apakah sebaiknya aku menolong mereka, dengan berpura-pura mengenalkan nya pada simbahku, supaya aku dapat membantu mereka menemukan gadis yang dicarinya, dan Lala akan merasa berhutang budi padaku, dan dia akan lebih dekat denganku, batin Bagaskara dengab berbagai rencana liciknya.
*
*
...Berikan Vote dan hadiahnya ya kak, jangan lupa baca Novel terbaruku, Dendam perempuan berjubah merah, akan segera update kembali setelah ini 😉...
...Bersambung....