
Terlihat Anto kebingungan mencari keberadaan Ari yang dari semalam menghilang begitu saja, lalu Anto yang kelelahan karena belum istirahat dari semalam memutuskan untuk duduk sebentar di bale pos kampling.
Kemudian pak Sapri yang akan pergi ke sawah nya menghampiri Anto yang sedang duduk dengan menyenderkan kepala nya, terlihat wajah nya sedikit pucat dengan keringat yang mengucur dari atas kening nya.
"To... Apa yang kau lakukan pagi-pagi disini?". Tanya pak Sapri dengan seringai kecil diwajah nya.
"Eh pak Sapri mengagetkanku saja, aku sedang beristirahat disini pak, jujur aku sudah sangat lelah tapi aku harus menyelesaikan tanggung jawabku". Jawab Anto dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Oh iya bagaimana kondisi bu Ema di Rumah sakit". Tukas pak Sapri dengan mengernyitkan dahi nya.
"Justru itu pak yang membuatku bingung, kondisi bu Ema sedang tidak baik saat ini, dan aku harus segera menemui keluarga terdekatnya supaya dapat memberi persetujuan pada Dokter untuk melakukan operasi, tapi aku sendiri tidak tau dimana rumah keluarga bu Ema, satu-satu nya orang yang tau alamat keluarga bu Ema hanya mas Ari, tapi sejak semalam mas Ari menghilang entah kemana bahkan dari tadi aku mencarinya kemana-mana masih belum ketemu juga". Jelas Anto dengan memijat pangkal hidung nya.
"Lebih baik kau minta tolong pada semua warga untuk membantumu mencari Ari, supaya dia cepat ditemukan dan membawa keluarga bu Ema ke rumah sakit". Tukas pak Sapri dengan menepuk pundak Anto.
"Baiklah pak, setelah ini aku akan ke rumah pak RT untuk melaporkan hilang nya mas Ari, jika pak Sapri melihat mas Ari tolong bawalah dia pulang ya pak". Pinta Anto dengan mengusap peluh di kening nya.
Dan setelah perbincangan itu Anto berjalan menuju ke rumah pak RT untuk melaporkan hilang nya Ari dari semalam, lalu pak RT meminta semua warga untuk melakukan pencarian Ari pagi itu juga karena kondisi bu Ema sedang sangat menghawatirkan.
Lalu pak Eko membantu pencarian Ari pagi itu, sementara pak Dahlan yang kaki nya terluka semalam tidak dapat membantu mencari Ari.
Sudah hampir dua jam warga desa mencari keberadaan Ari di seluruh penjuru desa Rawa belatung, tapi tidak ada seorang pun yang dapat menemukan keberadaan Ari.
"Apakah kalian semua yakin sudah mencari Ari ke semua tempat". Ucap pak RT meyakinkan semua orang yang berkumpul didepan pos kampling.
Terlihat semua orang menjelaskan jika mereka sudah mencari ke semua tempat kecuali ke hutan angker yang berada didekat perbatasan desa mereka, karena tidak ada warga yang berani masuk ke hutan angker itu meski sekarang masih pagi.
Jangan-jangan mas Ari nekat memasuki hutan angker itu, batin Anto didalam hati nya.
Lalu pak Budi menyarankan supaya mereka meminta tolong pada mbah Karto untuk mencari Ari di hutan angker itu, karena hanya mbah Karto saja satu-satu nya orang yang berani memasuki hutan angker itu.
"Baiklah pak kalau begitu biar saya saja yang menemui mbah Karto dan meminta tolong padanya, bapak-bapak semua bisa melanjutkan kegiatan nya kembali dan terima kasih sudah membantu saya mencari mas Ari". Seru Anto berbicara pada semua warga yang ada disana.
Setelah itu semua orang meninggalkan pos kampling itu kecuali Anto dan juga pak Eko yang masih berada disana.
"Loh pak Eko kenapa tidak pulang saja, kasihan bapak dari semalam sibuk membantuku". Ucap Anto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Ah tidak apa-apa To, kau juga sama belum istirahat dari semalam, mari aku temani ke rumah mbah Karto". Cetus pak Eko seraya mengajak Anto berjalan ke rumah sesepuh desa itu.
Tok tok tok...
Terlihat Anto mengetuk pintu rumah mbah Karto yang masih tertutup pagi itu, dan terdengar dari balik pintu jika ada seseorang yang berjalan mendekati pintu.
Ceklek...
"Ada apa Le pagi-pagi sudah datang kesini?". Tanya mbah Darmi dengan seringai kecil diwajah nya.
"Anu mbah... Kami ingin bertemu mbah Karto". Jawab Anto dengan menundukan kepala nya.
Selesai membuatkan teh hangat mbah Darmi kembali ke ruang tamu dan menghidangkan singkong rebus untuk menemani teh hangat yang dia suguhkan untuk kedua tamu nya itu.
"Ayo Le diminum teh nya, seadanya ya Le simbah cuma punya singkong rebus saja". Seru mbah Darmi seraya duduk di sebelah Anto.
Kemudian mbah Darmi mengatakan jika semalam hantu sund.l bo.ong Rara datang ke rumah nya dan berusaha mencelakai nya.
"Kok bisa to Le arwah Rara bangkit lagi dan menjelma menjadi manusia". Ucap mbah Darmi dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Aku juga tidak mengerti mbah, sepertinya mas Ari dan bu Ema melakukan ritual gaib supaya arwah mbak Rara bisa menjelma menjadi manusia". Tukas Anto dengan membulatkan kedua mata nya.
Srek srek srek...
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah rumah sesepuh desa itu, dan benar saja mbah Karto muncul dari balik pintu dengan senyum wibawa nya.
"Ono opo Le, kok wes tekan kene meneh (ada apa nak, kok sudah sampai disini lagi)". Tanya mbah Karto dengan mengernyitkan dahi nya.
Setelah itu pak Eko berdiri dan menjelaskan maksud kedatangan nya ke rumah sesepuh desa itu, terlihat mbah Karto hanya menganggukan kepalanya seakan mengerti dengan penjelasan yang pak Eko katakan.
"Baiklah Le, aku mengerti semua nya lebih baik kau pulang saja dulu ke rumahmu, istirahatlah sebentar selagi aku mencari Ari di hutan angker itu". Perintah mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Tapi mbah, aku harus segera kembali ke rumah sakit karena kondisi bu Ema sedang kritis". Cetus Anto dengan wajah cemas nya.
"Kau tidak usah hawatirkan bu Ema Le, dia sudah terlalu banyak membuat masalah di desa ini, jika Tuhan masih memberinya kesempatan untuk melanjutkan hidup nya, insyaallah dia akan bertahan selagi menunggu keluarga nya datang". Ucap mbah Karto dengan mengusap peluh dikening nya.
Setelah itu Anto dan pak Eko pamit pulang pada mbah Darmi dan juga mbah Karto seraya mencium punggung tangan kedua sesepuh desa itu.
Sementara mbah Karto yang memandang langit-langit di rumah nya, terlihat sangat cemas karena perasaan nya kali ini sangat tidak enak.
"Bu ewangono aku dungo marang gusti Allah, koyo ne iki si Ari jalok tulong karo bongso alus (bu bantulah aku berdoa pada Allah, sepertinya ini Ari minta tolong pada makhluk halus)". Ucap mbah Karto dengan menghembuskan nafas yang panjang.
"Iyo pak, awakmu kudu ati-ati ojo sampe salah langkah (iya pak, dirimu harus hati-hati jangan sampai salah langkah)". Ujar mbah Darmi seraya menggenggam erat tangan suami nya itu.
Dan setelah bersiap diri dan berdoa pada Tuhan yang maha kuasa, mbah Karto berpamitan pada mbah Darmi untuk pergi ke hutan angker karena dia harus menemukan Ari secepatnya.
Terlihat guratan cemas diwajah mbah Darmi, beliau enggan melepaskan kepergian suami nya menuju hutan angker itu, dan mbah Karto yang mengerti isi hati istri nya itu berusaha menenangkan nya dan berkata dia akan segera kembali ke rumah dan meminta mbah Darmi mendoakan nya supaya selamat dan kembali ke rumah dengan keadaan yang baik-baik saja.
*
*
...Bersambung....
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan cara like atau komentar ya readers tersayang, dan jika berkenan berikan semangat pada author dengan meninggalkan hadiah atau vote nya ya, terima kasih sudah mampir, sehat selalu buat kalian semua, Love u all 💕...