DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kecurigaan pak Jarwo.


"Memangnya mas ini ada perlu apa". Seru pak Sukir dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Saya ingin meminta tolong pak, istri saya sedang di ganggu makhluk gaib". Sahut Ari dengan wajah sendu nya.


"Wah kasihan sekali nasibmu mas, jangan sampai makhluk gaib itu menghamili istrimu, bisa-bisa makhluk gaib itu tidak akan membiarkanmu mendekati istrimu lagi". Celetuk pak Bagio.


"Itulah yang saya hawatirkan pak, jika berkenan bisakah bapak memberi tau saya alamat orang sakti itu?". Tanya Ari dengan mengkerutkan kening nya.


Setelah itu nampak pak Sukir membantu Ari mengantarkan nya ke pondokan mbah Wongso, dan disepanjang perjalanan pak Sukir menceritakan kehebatan mbah Wongso yang baru beberapa bulan ini tinggal di desa nya.


Apakah yang dimaksud bapak ini adalah mbah Wongso yang dulu meninggalkan desa Rawa belatung, batin Ari didalam hatinya.


Sesampainya di pondokan mbah Wongso, nampak pak Sukir mengetuk pintu pondokan itu.


Kreeaaak...


Pintu itu terbuka sendiri tanpa ada yang membukanya.


"Silahkan duduk". Ucap seorang laki-laki tampan dan gagah.


"Eh mas Bima to, saya kira mbah Wongso". Sahut pak Sukir menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ada perlu apa kalian datang kesini?". Tanya Bima seraya duduk didepan meja yang dipenuhi sesajen.


"Ini mas Bima saya mengantarkan mas ini, tadi nya mau ketemu mbah Wongso tapi kalau beliau masih sakit ya sama mas Bima saja tidak apa-apa kan mas". Jawab pak Sukir memandang Ari.


Terlihat Bima hanya menyunggingkan bibirnya dan meminta Ari duduk didepan meja ritualnya, lalu pak Sukir keluar dari pondokan itu menunggu Ari di depan karena Bima meminta pak Sukir keluar.


"Kau berani sekali ya bermain-main dengan dunia gaib". Tukas Bima mengagetkan Ari yang sedang terdiam.


"Ba bagaimana kau tau aku...". Ucap Ari terbata-bata.


"Kau tidak perlu melanjutkan ucapanmu, aku sudah melihat semua yang terjadi didalam hidupmu, jadi kau ingin istri gaibmu itu tetap bersamamu". Seru Bima menyeringai memotong pembicaraan Ari.


Setelah itu nampak Bima membaca rapalan mantra jawa dengan duduk menyilakan kedua kaki nya dan tangan nya sibuk membakar dupa yang mengepul memenuhi pondokan itu.


Ingsun amatek ajiku aji asmoro geni kamahayu.


Ewan ewan pusoko jiwo nyemplung marang dhadaku.


Teko welas teko tresno, teko kedep teko asih saking kersaning jiwo kamahayu.


Setelah itu terlihat gambaran didalam air baskom yang berisi bunga tujuh rupa, didalam air itu nampak seorang laki-laki yang tampan dan gagah memakai baju berwarna putih, dia sedang duduk di atas singgasana emas berhiaskan ayat-ayat suci.


"Lihatlah ini, kau tau siapa yang menjadi sainganmu untuk bersama istri gaibmu lagi, dia adalah seorang jin dari golongan jin muslim Pangeran Asopati nama nya, mungkin akan sulit melawan nya tapi itu bukanlah hal yang mustahil untukku". Tukas Bima dengan mengkerutkan kening nya.


"Tolong tolonglah aku untuk mengalahkan jin muslim itu, aku tidak ingin dia merebut istriku". Seru Ari memohon dan bersimpuh dibawah kaki Bima.


"Apa yang akan kau berikan padaku, jika aku bisa mengalahkan Pangeran itu dan membuatmu bisa bersama istri gaibmu, sedangkan saat ini istri gaibmu sedang mengandung keturunan jin muslim itu". Sahut Bima dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Mungkin aku tidak punya sesuatu yang pantas untuk ku berikan padamu, tapi aku bersumpah akan melakukan apapun yang kau mau asal aku bisa hidup bersama istri gaibku kembali". Cetus Ari yang masih bersimpuh dibawah kaki Bima.


"Ha ha ha baiklah aku akan melakukan apa yang kau mau, tapi ingat kau harus membayar semua dan melakukan apapun yang aku perintahkan". Pekik Bima dengan membulatkan kedua matanya.


Sementara di desa Rawa belatung mbah Karto dan pak Jarwo yang sudah selesai melakukan ritualnya nampak keluar dari dalam kamar khusus itu.


Kreeeaak...


"Ada apa to bu kok terburu-buru jalan nya". Sapa mbah Karto pada istrinya.


"Anu pak dua hari yang lalu Rania datang memberi kabar kalau simbok dan adiknya Kasmi sedang sakit, makanya Jarwo diminta segera pergi ke desa mertuanya karena Kasmi sedang merawat simbok dan adiknya, aku hawatir pak jika sakitnya adik Kasmi ada hubungan nya dengan makhluk gaib". Jelas mbah Darmi dengan wajah yang cemas.


"Astagfirullahaladzim, semoga kecurigaanmu tidak benar-benar terjadi mbah". Ucap pak Jarwo dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Ya sudah Le kau bersiaplah untuk pergi ke desa mertuamu, saat ini mereka lebih membutuhkan bantuanmu, lagipula masalah di desa ini sudah mulai berkurang jadi aku bisa mengatasinya sendiri karena kesehatanku sudah mulai membaik". Ujar mbah Karto dengan mengkerutkan keningnya yang sudah dimakan usia.


"Baiklah mbah aku pamit dulu, setelah urusan disana selesai aku akan bergegas kembali kesini dan mempelajari ilmu batin bersamamu". Tukas pak Jarwo seraya mengecup punggung tangan mbah Karto dan mbah Darmi.


Setelah itu pak Jarwo pergi ke rumah simbah Parti untuk mengemasi barang-barang nya dan berpamitan, nampak simbah Parti sangat mencemaskan kondisi Lala, beliau meminta pak Jarwo untuk memberi kabar secepatnya setelah dia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Dan sesampainya pak Jarwo di desa Randu garut, dia merasakan aura yang berbeda di desa itu, terdapat aura mistis yang kental disana padahal menurutnya sebelum itu keadaan di desa mertuanya jauh dari kesan mistis.


Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini, jangan-jangan semua ada hubungan nya dengan Lala yang sedang sakit, batin pak Jarwo didalam hatinya.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum". Seru pak Jarwo.


"Waalaikumsalam". Sahut Kasmi seraya berjalam membuka pintu rumahnya.


Cekleek...


Nampak Kasmi memandang haru melihat kedatangan suaminya, dia sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


"Kangmas Jarwo akhirnya kau datang juga hu hu hu". Ucap Kasmi berderai air mata memeluk suaminya.


"Kenapa kau menangis dek, sebenarnya simbok dan Lala sakit apa to?". Tanya pak Jarwo seraya menenangkan istrinya yang masih menangis dipelukan nya.


"Lala mas hu hu hu, kasihan sekali adikku itu, aku takut mas jika hal-hal buruk lain nya akan terjadi". Jawab Kasmi terisak dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Tenanglah dulu dek, jangan menangis lagi, ceritakan padaku pelan-pelan saja, lalu bagaimana keadaan simbok dan Lala saat ini". Tukas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Kau lihatlah sendiri kangmas, Lala dan simbok ada di dalam kamarnya". Ucap Kasmi dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Setelah itu pak Jarwo berjalan menuju kamar mertuanya untuk melihat kondisi simbok istrinya itu.


"Simbok sakit apa to, coba aku lihat dulu ya". Sapa pak Jarwo pada mertuanya yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya.


"Aku tidak apa-apa Le, kau lihat saja keadaan Lala, aku lebih menghawatirkan keadaan nya Le". Ucap mbah Sumi terisak.


"Ya sudah aku akan melihat Lala di kamarnya, setelah itu aku akan membuatkan ramuan obat untuk simbok ya". Cetus pak Jarwo seraya bangkit dari duduknya.


Kemudian pak Jarwo melangkahkan kakinya menuju kamar Lala, terlihat aura hitam lebih kental di dalam kamar itu, nampak pak Jarwo menghentikan langkahnya mendadak dan mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi melalui mata batin nya.


Bau apa ini, amis darah dan siapa makhluk tinggi besar itu, kenapa dia selalu berada didekat Lala, batin pak Jarwo didalam hatinya dengan mengaitkan kedua alis matanya.


*


*


...Hai para pembaca kali ini aku mencoba double up untuk setiap hari nya, asalkan dukungan Vote dan hadiah dari kalian juga bertambah di hari ini, kalau Vote dan hadiah tidak naik juga maafkan aku kalau mulai besok hanya satu kali update saja, karena menulis double up itu juga butuh semangat yang lebih tapi kalau kalian saja tidak memberi dukungan yang lebih bagaimana aku bisa terus menulis double bab, dimohon pengertian nya ya terima kasih sudah bersedia mengerti keinginan author recehan ini, semoga kalian sehat selau, Love u all 💕...


...Bersambung....