DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kembalinya seseorang di masa lalu.


Sementara istri pak Jarwo yang telah kembali ke rumah orang tua nya karena merajuk pada suami nya menjadi lebih hawatir, karena sudah beberapa bulan di desa orang tua nya tinggal sering terjadi kematian beruntun dalam beberapa bulan ini, nampak wajah cemas menghiasi wajah istri pak Jarwo memikirkan nasib kedua orang tua nya dan juga adik perempuan nya Lala.


"Nduk kau mau tinggal disini berapa lama, apa kau sudah ijin pada suamimu?". Tanya mbah Sumi pada anaknya Kasmi.


"Entahlah mbok kangmas Jarwo nya juga tidak tau kok aku berada disini". Jawab Kasmi istri pak Jarwo dengan mengerucutkan bibirnya kesal.


"Loh kenapa gak pamit to nduk, memangnya kalian sedang ada masalah apa". Selidik mbah Sumi.


"Anu ito mbok kangmas Jarwo nya sudah tidak mau mendengarkanku lagi, dia lebih perduli pada orang lain, dan kemarin aku mengancamnya untuk kembali pulang ke rumah bapak ibu saja jika dia tidak mau ikut aku pulang, tapi kangmas Jarwo nya tidak memperdulikan ucapanku dan berkata jika kau mau pergi aku tidak bisa melarangmu, ya sudah to mbok aku pulang kesini saja". Jelas Kasmi menghembuskan nafasnya panjang.


"Memangnya suamimu itu ada urusan apa to nduk sampai dia tidak mau mendengarkanmu lagi, memang di desa tetanggamu itu ada masalah besar to". Ucap mbah Sumi penasaran.


"Sebenarnya di desa tetangga ku sedang ada masalah besar mbok, hampir semua warga desa nya di teror oleh makhluk gaib, bahkan sesepuh desa mereka sampai dibawa ke alam gaib, dan kangmas Jarwo berusaha menyelamatkan jiwa sesepuh desa itu dan juga warga yang lain nya, sampai sekarang sudah berjalan tiga minggu kangmas Jarwo tidak pulang ke rumah kami, makanya mbok aku datangi dia di rumah simbah Parti yang masih ada hubungan keluarga sama kangmas Jarwo, tapi dia malah menolak pulang bersamaku dan ingin menyelesaikan semua masalah disana dulu". Tukas Kasmi mendengus kesal.


"Oalah gitu to nduk, seharusnya kau senang suamimu itu masih bisa membantu orang lain yang sedang kesusahan, biarkan saja to nduk dia membantu warga desa itu jika semua sudah membaik pasti dia akan pulang ke rumah kalian, lebih baik besok kau pulang ke rumahmu saja ya". Cetus mbah Sumi membujuk anak perempuan nya.


"Tidak usah mbok, aku disini saja dulu lagipula jika di rumah aku hanya seorang diri, biar kangmas Jarwo menjemputku ke rumah simbok aja". Jelas Kasmi mengaitkan kedua alis mata nya.


Tapi tiba-tiba di luar rumah mbah Sumi terdengar warga yang berteriak meminta tolong karena cucu nya belum pulang dari siang tadi.


"Toloong hu hu hu bantu cari cucu ku Beni dia belum pulang dari sekolah tadi". Seru mbah Warni berderai air mata.


Kemudian warga yang mendengar teriakan mbah Warni pun mulai berdatangan, karena merasa iba pada janda tua yang hanya tinggal berdua dengan cucu nya yang masih sekolah dasar itu.


"Sudah to mbah tenang dulu, biar kami semua membantu mencari Beni di rumah teman sekolahnya, mungkin saja dia main sampai lupa waktu". Ucap Asti tetangga sebelah rumah nya.


"Aku takut to As kalau si Beni di jadikan tumbal seperti warga lain nya". Sahut mbah Warni terisak.


Kemudian istri pak Jarwo pun mengkerutkan kening nya memikirkan berbagai hal gaib yang terus terjadi di sekitar hidupnya.


"Lho mbok sejak kapan ada tumbal manusia di desa ini?". Tanya Kasmi lirih pada ibu nya.


"Sudah beberapa bulan ini nduk, tapi kami semua tidak tau siapa yang menganut ilmu hitam sudah beberapa warga desa yang menghilang misterius dan beberapa lain nya yang ditemukan selalu dalam keadaan meninggal dunia, makanya yu Warni jadi was-was memikirkan cucu nya yang belum pulang sekolah dari tadi siang". Jawab mbah Sumi mengkerutkan kening nya.


"Kok ada-ada saja to mbok dimana-mana ada hubungan nya dengan hal gaib". Celetuk Kasmi menggelengkan kepala nya.


"Ya nama nya kita hidup di desa to nduk hal klenik semacam itu pasti sudah menjadi makanan sehari-hari". Tukas ibu nya seraya berjalan mendekati mbah Warni yang masih menangisi cucu satu-satu nya.


Kemudian mbah Sumi mengajak mbah Warni untuk masuk ke dalam rumah nya dan memberikan air putih supaya beliau sedikit tenang.


Setelah mbah Warni meminum air itu, beliau nampak melihat Kasmi dengan tatapan iba lalu dia meminta Kasmi untuk memberitau suami nya supaya dapat menolong nya mencari cucu nya.


"Kas tolonglah beritau suamimu untuk datang kesini dan membantu mencari cucuku, aku sudah mendengar tentang suamimu yang mempunyai ilmu sakti". Ujar mbah Warni mengiba.


"Halah mbah siapa yang bilang suamiku sakti, dia hanya manusia biasa yang sedikit memiliki kelebihan saja kok, yang penting sekarang kita tunggu kabar dari warga yang lain nya dulu, siapa tau Beni nya ketemu". Sahut Kasmi menenangkan hati mbah Warni.


Sedangkan di sebuah pondokan yang ada di pinggir hutan nampak seorang laki-laki tua tengah tertawa bahagia karena dia telah memberi makan pujaan nya, dia adalah seorang laki-laki tua yang memiliki ilmu hitam yang tinggi sebenarnya dia bisa saja menjadikan ilmu nya untuk perbuatan baik tapi karena ketamakan dan sifat tidak puas nya membuat dia semakin menjadi dan tidak pernah berubah.


Laki-laki tua itu adalah mbah Wongso adik kandung mbah Karto yang telah melarikan diri dari desa Rawa belatung beberapa tahun yang lalu, sebelumnya dia sempat ingin menumbalkan Rania yang baru saja pindah di desa itu, tapi beliau salah sasaran karena ternyata Rania memiliki indera keenam sehingga dia dapat melihat makhluk halus yang tak kasat mata dan berhasil membongkar perbuatan buruknya pada semua warga desa, dan mbah Wongso pun berhasil dikalahkan oleh kakaknya sendiri yaitu mbah Karto.


Dan setelah mbah Wongso melarikan diri, beliau sempat memperdalam ilmu nya dengan memuja beberapa makhluk gaib sehingga kekuatan nya sekarang hampir sejajar atau bisa dibilang lebih tinggi dari mbah Karto.


Lalu dia berpindah dari satu desa ke desa lain nya setiap tahun nya, supaya tidak ada yang dapat mengetahui perbuatan nya yang telah menumbalkan nyawa warga desa tempat nya tinggal, bahkan semua warga desa menganggap nya sebagai orang yang baik dan kerap membantu kesusahan mereka.


Lalu salah seorang warga disana mengusulkan untuk meminta tolong pada mbah Wongso supaya dapat melihat keberadaan Beni dimana, dan mbah Warni pun juga menyetujui usul itu.


Kemudian beberapa warga bergegas pergi ke pondokan tempat mbah Wongso berada.


Tok tok tok...


Kreeaaaak...


Pintu pondokan itu terbuka sendirj, dan terlihat mbah Wongso yang tengah duduk dengan menyilakan kedua kaki nya, dan mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Duduklah aku sudah menunggu kedatangan kalian dari tadi". Tukas mbah Wongso menyeringai pada mereka semua.


"Anu mbah kami ingin minta tolong". Jelas pak Manto dengan wajah yang cemas.


"Aku sudah tau maksud kedatangan kalian kemari, tadi aku sudah melihatnya ada seorang anak laki-laki yang di sesatkan oleh kalong wewe yang bersembunyi di hutan sana". Cetus mbah Wongso dengan mengarahkan jari telunjuknya ke selatan.


Nampak semua warga duduk saling berhimpitan setelah mendengar penjelasan mbah Wongso, mereka semua tidak tau jika laki-laki didepan nya lah yang menyebabkan semua malapetaka di desa nya.


*


*


...Bersambung....