
Dan di hutan wingit sana nampak pangeran Asopati menerawang dengan kekuatan nya untuk mencari buto yang dimaksud pak Jarwo tadi, tapi buto itu telah pergi meninggalkan pendopo istana itu.
"Aku sudah mencarinya tapi dia meninggalkan tempat ini, dan aku belum bisa membantumu mencarinya sekarang, karena aku harus bersama Sukma". Tukas pangeran Asopati dengan wibawanya.
"Baiklah pangeran kau nikmati saja waktumu dengan tuan putri Sukma melati, aku harus pamit kembali ke alamku karena ada yang mengganjal didalam hatiku". Jelas pak Jarwo seraya pergi meninggalkan keramaian di acara hajatan itu.
Setelah itu pak Jarwo pergi ke rumah mbah Karto tapi beliau tidak ada disana, dan mbah Darmi mengatakan jika suaminya sedang pergi ke desa Randu garut.
Untuk apa mbah Karto tiba-tiba kesana, jangan-jangan ada masalah disana, batin pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Dengan langkah gontai pak Jarwo melangkahkan kaki nya menuju rumah Anto, untuk memintanya mengantarkan nya kembali ke rumah, namun bu Siti memberitau pak Jarwo jika Anto sedang berada di rumah sakit.
"Lho Anto sakit apa bu?". Tanya pak Jarwo.
"Bukan Anto pak, tapi si Ari yang sedang dirawat disana". Jawab bu Siti yang sedang menyapu halaman rumahnya.
"Loh Ari kenapa lagi to bu, bukan nya dia hanya dibawa ke dokter ahli jiwa". Ucap pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.
"Oalah pak mending kalau ke dokter jiwa, sekarang itu Ari sedang kehilangan ingatan nya, kalau yang warga dengar si Ari itu marah dan membenturkan kepalanya ke tembok yang ada di kamarnya". Jelas bu Siti membuat pak Jarwo terkejut.
"Astagfirullahaladzim, mereka ada di rumah sakit mana bu, biar aku saja yang memastikan kondisi Ari". Seru pak Jarwo menghembuskan nafasnya panjang.
Setelah itu pak Jarwo bergegas pergi ke rumah sakit, dan sesampainya disana nampak Anto sedang duduk seorang diri di depan sebuah ruangan rawat inap.
"Assalamualaikum To, bagaimana keadaan Ari?". Tanya pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Waalaikumsalam alhamdulillah jauh lebih baik pak, tapi ingatan mas Ari masih belum kembali". Jawab Anto dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Ya kita sama-sama berdoa saja supaya semua baik-baik saja, lagipula istri gaib Ari sudah menikah lagi dengan makhluk sejenisnya, jadi mereka tidak akan bertemu lagi, kecuali Ari mendapatkan ingatan nya kembali dan mencarinya". Tukas pak Jarwo seraya menepuk punda Anto.
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam ruangan dimana Ari dirawat, nampak di dalam sana Ari tengah berbaring dengan tatapan mata yang kosong, perlahan pak jarwo mendekati Ari dan melihat melalui mata batin nya.
Dan didalam penglihatan batin pak Jarwo melihat sebelumnya Ari telah bertemu dengan Sukma melati, dan Sukma mengakhiri hubungan nya yang membuat Ari tidak terima dan frustasi, lalu membenturkan kepalanya ke tembok, dan disaat Ari sudah tergeletak tidak berdaya ternyata Sukma melati berjanji akan menemuinya diam-diam.
Gawat ternyara Sukma masih menginginkan Ari, jika saat ini Ari tidak mengingat segalanya dan Sukma menemuinya diam-diam apa yang akan terjadi setelah itu, aku tidak bisa membayangkan kemarahan pangeran Asopati jika dia mengetahui perbuatan Sukma dibelakangnya, batin pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.
Dan tiba-tiba terdengar suara kegaduhan di luar ruangan itu, seketika Anto dan pak Jarwo bergegas keluar dan melihat ada apa disana, ternyata ada beberapa polisi yang sedang menyelidiki sebuah kasus kematian seseorang, tapi di belakang polisi itu nampak ada tiga hantu yang sedang melesat mengikuti beberapa anggota kepolisian itu.
Dan pak Jarwo memanggil salah satu dari ketiga hantu itu dan berbicara melalui mata batin nya.
"Kau mau kemana Jansen". Sapa pak Jarwo pada hantu londo itu.
Kemudian Jansen menjelaskan jika dia sedang membantu arwah gadis yang mati penasaran karena disiksa dan dilecehkan oleh ayah tirinya sendiri, dan salah satu polisi itu memiliki bakat seperti Rania yang bisa melihat makhluk tak kasat mata, dan arwah gadis itu mengatakan segalanya pada pak polisi yang bisa melihat makhluk sejenisnya.
"Lalu jika pihak keluarga nya tidak menyetujui kenapa polisi datang ke rumah sakit ini Jansen?". Tanya pak Jarwo mengkerutkan keningnya.
"Itulah kenapa kami mengikuti polisi itu sampai ke rumah sakit ini, aku tidak tau apa yang akan dilakukan polisi itu". Jawab Jansen yang berdiri mengambang.
"Kalau begitu pergilah dan bantu arwah gadis itu untuk mengungkap kebenaran atas kematian nya". Tukas pak Jarwo pada Jansen.
Tapi sebelum Jansen pergi dari sana, nampak Jansen mengatakan pada pak Jarwo jika saat ini Lala telah kembali ke rumahnya, ternyata perempuan yang Rania lihat tempo hari benar Lala, dam selama ini Lala telah kembali ke alam manusia karena dia telah disiksa oleh suami buto nya, dan ada makhluk gaib yang menyembunyikan keberadaan Lala di tengah hutan, makhluk gaib itu menggunakan ilusi untuk menyembunyikan Lala dibalik padang ilalang itu, sehingga tidak akan ada yang bisa melihat jika Lala ada disana, tapi malam itu Lala keluar dari dalam rumah ilusi nya dan kedua hantu itu melihat wajah Lala dengan jelas.
"Setelah itu kami melesat mendekati Lala untuk memastikan jika dia memang Lala yang selama ini kita cari, dan aku memintanya untuk pulang tapi Lala sempat menolak karena dia sedang menunggu kedatangan anaknya, dan aku terpaksa mengatakan pada Lala jika simboknya telah tiada dan menjadi arwah penasaran karena menunggunya pulang ke rumah, Lala yang terkejut mendengar kabar tentang kematian simboknya langsung bergegas pulang dan melihat dengan mata kepalanya sendiri jika simboknya telah tiada dan menjadi arwah". Jelas Jansen dengan menundukan kepalanya.
"Baiklah terima kasih banyak Jansen, kau telah membantuku membawa Lala kembali ke rumah, kau bisa pergi sekarang". Ucap pak Jarwo seraya membuka kedua matanya kembali.
Nampak Anto sedang menatap bingung ke arah pak Jarwo yang sedari tadi menutup kedua matanya.
"Ada apa pak Jarwo, aku lihat kau sangat cemas melihat rombongan polisi tadi lewat". Tukas Anto dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah tidak ada apa-apa To, aku hanya penasaran saja dengan kasus yang sedang diselidiki bapak-bapak polisi itu". Sahut pak Jarwo dengan senyum ramahnya.
"Oalah pak tak kira ada apa, lalu bagaiman dengan mas Ari pak, apakah aman jika aku membawanya kembali ke rumah, karena lusa dokter sudah memperbolehkan mas Ari pulang dan rawat jalan saja". Ucap Anto dengan wajah yang cemas.
"InsyaAlloh semua akan baik-baik saja To, jangan lupa berdoa dan ibadahnya jangan bolong-bolong, semoga Alloh melindungimu dan juga kangmasmu itu dari berbagai marabahaya". Cetus pal Jarwo.
Kemudian pak Jarwo berpamitan pada Anto untuk pulang, karena dia sudah tidak sabar untuk melihat Lala di rumahnya.
"To aku pamit pulang dulu ya, jika ada apa-apa telepon saja ya, kemungkinan mbah Karto saat ini juga sedang berada di desa Randu garut, jika setelah kau membawa Ari pulang ada masalah di desa Rawa belatung kau hubungi saja aku, tidak perlu mencari mbah Karto, kasihan beliau sudah sepuh tapi harus mengurisi segalanya, apalagi sudah beberapa hari aku tidak ada". Tukas pak Jarwo dengan memijat pangkal hidungnya.
"Iya pak jika ada apa-apa aku akan menghubungimu". Ujar Anto seraya memberi salam pada pak Jarwo yang sedang bersiap pergi dari sana.
Lalu pak Jarwo melangkahkan kakinya melewati lorong-lorong panjang yang ada di rumah sakit, pikiran nya menerka-nerka tentang misteri Lala yang selama ini bersembunyi ditengaj hutan.
Sebenarnya ada misteri apa lagi ini, kenapa Lala memutuskan bersembunyi ditengah hutan, padahal dia bisa kembali ke rumah dan aku ataupun mbah Karto bisa menolongnya, dan kemarin aku juga mendengar jika buto itu sedang ada masalah dengan istrinya, apakah istri yang dimaksud buto itu adalah Lala, batin pak Jarwo didalam hatinya.
Braaaks...
Nampak pak Jarwo tidak sengaja bertabrakan dengan Dudung, ayah tiri Ayu yang saat itu sedang bersama Yati, mereka mendapat panggilan dari polisi untuk datang ke runah sakit saat itu juga.
*
*
...Bersambung....