
Malam semakin mencekam makhluk utusan mbah Sapto sedang melakukan aksi nya dia membuat perut Rara semakin membesar dan berdenyut seperti orang yang sedang hamil.
"Aaduuuh perutku". Pekik Rara kesakitan memegangi perut nya.
Sementara Ari suami nya menatap istri nya dengan penuh rasa heran, karena dalam waktu sekejap perut ustri nya membesar seperti orang yang sedang hamil.
"Kau kenapa dek? kenapa perutmu tiba tiba membesar begini". Ucap Ari yang terbelalak melihat kondisi istri nya yang berubah mengerikan.
"Aku tidak tau mas tolong a aku". Seru Rara dengan nada terbata bata karena kesakitan merasakan perut nya yang sangat sakit itu.
Terlihat Ari sangat panik dia mengambil es batu untuk mengompres perut Rara, tapi apapun yang dia lakukan itu tidak ada guna nya karena rasa sakit yang istri nya rasakan tidak berkurang sedikitpun.
Sementara bu Ani yang masih ada didepan teras nya tersenyum puas tujuan nya akan segera terlaksana, sedangkan Harto yang tidak berdaya menasehati mbakyu nya itu nampak tertunduk tak bedaya.
Tidak berselang lama terlihat Ari mengendarai motor nya seorang diri keluar dari rumah nya.
Ternyata Ari ingin meminta bantuan pada mbah Karto, tapi sesampainya disana Ari tidak dapat bertemu dengan mbah Karto karena dia sedang tidak ada di rumah.
Apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau nasib istriku sama seperti ibu, batin Ari didalam hati nya.
Terlihat dia sangat frustasi mengacak ngacak rambut nya dengan kasar serta berteriak mengeluarkan gundah yang ada didalam pikiran nya.
"Aaaaarrgggh". Pekik Ari ditengah kegelapan malam.
Kemudian Ari pulang tanpa hasil ke rumah nya, tapi sesampainya dia di rumah nya keadaan nya sangat hening sudah tidak ada suara teriakan dari mulut Rara.
Perlahan Ari berjalan masuk ke kamar nya, ketika pintu kamar nya sudah terbuka lebar Ari terkejut badan nya kaku ditempat dia melihat istri nya dengan kondisi yang sangat mengerikan.
Tubuh Rara terbaring di atas tempat tidur dengan punggung yang berlobang, sepertinya perutnya semakin membesar dan meledak lewat punggung nya.
Ari menangis histeris menatap tubuh istri nya yang sudah tidak bernyawa, sementara itu diluar rumah beberapa warga yang kebetulan melintas didepan rumah Ari terkejut mendengar teriakan nya.
"Ada apa mas". Tanya pak Rudi yang panik melihat Ari menangis histeris.
Tanpa berkata Ari mengarahkan jari telunjuknya ke arah tempat tidur nya, terlihat Rara istri nya yang sudah terbaring tidak bernyawa dengan punggung yang berlobang mengeluarkan belatung dan juga darah yang berhamburan di lantai.
Semua warga yang ada disana terkejut mata nya terbelalak melotot menyaksikan apa yang terlihat didepan mata mereka.
Beberapa dari mereka muntah muntah melihat dengan rasa takut dan juga jijik.
"Aa apa yang sebenarnya terjadi Ar". Ucap pak Rudi dengan terbata bata.
"Aku tidak tau apa apa pak, tadi istri ku masih baik baik saja tiba tiba perut nya membesar seperti orang yang sedang hamil tua, kemudian aku keluar rumah untuk meminta bantuan dari mbah Karto tapi ternyata beliau tidak ada di rumah dan saat aku kembali ke rumah ini, aku sudah melihat istriku dengan kondisi yang seperti itu". Tukas Ari dengan berlinang air mata.
Semua warga kebingungan mereka menyarankan untuk memanggil pak haji Faruk.
"Baiklah pak tolong bawa beliau ke rumah ku, aku harus mengurusi jenazah istriku". Ucap Ari dengan terisak.
Lalu Ari bersama beberapa warga mengangkat jenazah Rara ke ruang tamu supaya mudah dibersihkan jenazah nya.
Beberapa warga keluar dari rumah Ari melewati rumah bu Ani yang sedang ada di teras.
"Pak darimana malam begini". Sapa bu Ani setengah berteriak memanggil bapak bapak yang berjalan didepan rumah nya".
Terlihat beberapa warga yang mual dan muntah disana.
Hueekks...
"Lho kenapa itu pak Saipul". Tanya bu Ani yang heran melihat mereka seperti orang mabuk yang mau muntah.
"Anu bu itu pokoknya serem deh". Tukas pak Rudi yang tidak bisa melanjutkan kata kata nya.
Tanpa bertanya lagi bu Ani hanya bisa membayangkan kondisi Rara yang sudah meninggal karena santet yang dia kirimkan.
"Ya sudah bu kami permisi dulu mau ke rumah pak haji Faruk, karena jenazah nya harus segera di urus malam ini juga". Seru pak Rudi berjalan tergesa gesa meninggalkan bu Ani didepan rumah nya.
Kemudian para warga menjelaskan pada pak haji jika kematian Rara sangat tiba tiba dan tidak beres, lalu pak haji Faruk bergegas ke rumah Ari.
Sesampainya di rumah Ari nampak rumah itu sudah dipenuhi warga yang nampak takut mendekati jenazah Rara.
"Lho ibu ibu kenapa jenazah nya belum dibersihkan". Tanya pak haji yang menutupi hidung nya karena bau anyir dari darah yang masih menetes dari punggung Rara yang bolong.
"Kami takut pak haji". Jawab bu Siti yang tidak berani mendekati jenazah itu.
"Ibu ibu kita harus segera mengurusi jenazah ini kasihan kalau di tunda tunda karena itu juga akan menyebabkan dosa untuk kita yang masih hidup". Cetus pak haji Faruk yang berusaha membujuk ibu ibu untuk membantu membersihkan jenazah Rara malam itu juga.
Terlihat guratan wajah takut dari ibu ibu yang akan membersihkan jenazah Rara, tapi istri pak haji Faruk membantu mereka sehingga rasa takut mereka bisa teratasi.
Setelah jenazah dimandikan dan akan di kafani darah dari punggung Rara masih saja keluar dan membasahi kain kafan yang akan dipakaikan pada jenazah nya.
Sementara Ari yang tidak kuasa menahan kesedihan nya karena kehilangan yang berturut, membuatnya seperti orang linglung dia hanya terdiam tanpa berkata apapun pandangan mata nya kosong, dia sama sekali tidak bisa di ajak berkomunikasi.
Pak haji Faruk yang mengerti kondisi Ari yang terguncang memintanya untuk istirahat di kamar saja dan adik laki laki nya yang akan menggantikan nya mengurusi proses pemakaman kakak ipar nya itu.
"Mas kau istirahat di kamar dulu, aku harus ke kantor pemakaman untuk mengurusi administrasi pemakaman untuk istrimu". Ucap Anto pada Ari yang hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun.
Hari sudah menjelang pagi jenazah Rara akan dikuburkan pagi itu juga, terlihat kedua orang tua Rara yang baru saja datang dari kota nampak terkejut mengetahui anak perempuan nya meninggal dengan cara yang tidak wajar.
Semua orang menenangkan kedua orang tua Rara, lalu beberapa warga mengangkat jenazah Rara menuju tempat pemakaman.
Suasana haru sangat terasa di rumah Ari saat itu, semua keluarga mengiringi jenazah Rara menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Beberapa warga yang mengiringi jenazah Rara nampak berbisik membicarakan kondisi jenazah nya yang sangat mengerikan itu, mereka semua berkata jika kematian bu Jamilah dan Rara adalah akibat perbuatan orang yang tidak suka pada keluarga nya
"Ssstt jangan bicara seperti itu disini ada kedua orang tua nya kasihan jika mereka mendengar ucapan kalian". Seru bu Siti menghentikan ibu ibu yang sedang bergunjing itu.
Tidak berselang lama jenazah Rara tiba di area pemakaman, tukang gali kubur sudah selesai membuat lubang kuburan dan membantu para pelayat menurunkan jenazah nya ke liang lahat.
Tapi kedua tukang gali kubur itu mendadak melompat ke atas saat tangan mereka menyentuh bagian punggung jenazah Rara, terlihat dari wajah kedua tukang gali kubur itu jika mereka sangat ketakutan mengetahui jika bagian punggung jenazah itu berlubang.
*
*
...Bersambung....