
Ternyata ada seorang pelayan istana yang membawa pesan untuk Sukma melati, penguasa gaib itu meminta Sukma untuk meyiapkan dirinya karena setelah ini romonya akan mengadakan pertemuan dengan pangeran Asopati.
*Kenapa harus secepat ini, romo kau benar-benar membuatku gelisah dengan keinginanmu, batin Sukma melati dengan menghembuskan nafasnya panjang*.
Setelah itu Sukma melati merapikan dirinya berdandan cantik dan mengenakan baju khas jawa membuatnya nampak cantik dan anggun.
"Apakah kita harus menemuinya sekarang romo?". Tanya Sukma melati dengan menundukan kepalanya.
"Iya Sukma lebih cepat akan lebih baik, kau akan segera memasuki istana jin muslim itu dan bisa mempengaruhi semua yang ada disana untuk mengikuti jejak keyakinan kita". Jelas penguasa hutan wingit dengan suara beratnya.
Kemudian penguasa gaib itu bersama Sukma melati melesat ke perbatasan hutan untuk menemui pangeran Asopati, terlihat pangeran Asopati mengajak pak Jarwo bersamanya.
Kemudian mereka saling memandang satu sama lain dengan pikiran nya masing-masing.
"Kenapa kau membawa seorang manusia untuk bertemu denganku?". Tanya penguasa hutan wingit pada pangeran Asopati.
"Aku hanya ingin dia menjadi saksi atas pinanganku pada putrimu Sukma melati, karena aku tidak ingin Sukma kembali berhubungan dengan suami manusianya itu". Jawab pangeran Asopati dengan tatapan tajamnya.
"Pangeran Asopati kau harus percaya padaku, karena saat ini aku telah mengandung bayimu, aku tidak akan menghianatimu". Tukas Sekar memandang pangeran Asopati.
Kemudian mereka membicarakan acara pernikahan yang akan digelar tujuh hari tujuh malam di dua tempat sekaligus, acara hajatan makhluk gaib itu akan berlangsung di hutan wingit dan juga di atas gunung sana.
Nampak pak Jarwo mengkerutkan keningnya memandang wajah Sukma melati yang nampak sendu.
Kenapa aku merasa jika perempuan gaib itu sedang menyembunyikan sesuatu, batin pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.
Setelah kesepakatan terjadi penguasa hutan wingit meminta beberapa wilayah kekuasaan pangeran Asopati sebagai mahar pernikahan putrinya, pangeran Asopati pun menyetujuinya dan mengatakan pada penuasa hutan wingit untuk mempercepat acara pernikahan nya.
"Baiklah dua malam lagi adalah malam bulan purnama ke delapan di tahun ini, aku akan menikahkan putriku denganmu". Tukas penguasa hutan gaib.
Terlihat wajah sendu Sukma melati mendengar kesepakatan keduanya, dan pak Jarwo pun masih memperhatikan reaksi Sukma yang nampak tidak semestinya.
Kenapa wajahnya berubah sendu, apakah Sukma melati terpaksa menerima kesepakatan ini, batin pak Jarwo mengkerutkan keningnya.
"Kami permisi dulu penguasa hutan wingit, dua malam lagi bersiaplah untuk menyambut rombonganku di istanamu". Ucap pangeran Asopati berpamitan pada penguasa hutan itu.
Kemudian pangeran Asopati kembali ke istana nya bersama pak Jarwo dan juga satu ajudan nya.
"Pangeran maafkan aku jika lancang berbicara seperti ini padamu, menurutku tuan putri Sukma melati terlihat sedih karena harus menerima pinanganmu". Ucap pak Jarwo dengan menundukan kepalanya.
"Kau tidak salah mengatakan itu, karena aku juga menyadarinya tapi aku yakin bisa membuat Sukma kembali mencintaiku seperti dulu, dan kau harus memastikan manusia sesat itu tidak mengganggu hubunganku dengan Sukma melati, karena setelah ini aku akan membantumu menemukan keluargamu yang telah dibawa buto itu". Tukas pangeran Asopati dengan mendongakan kepalanya.
Sementara itu di desa Rawa belatung mbah Karto yang mendengar tentang Ari, yang dibawa ke rumah sakit karena cidera di kepalanya nampak sangat hawatir, mbah Karto meminta Rania untuk mengantarnya ke rumah sakit yang ada di kota.
Dan Rania segera mengendarai sepeda motornya untuk mengantar sesepuh desa nya ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit nampak Anto dan pak Sapri sedang duduk di depan ruang operasi.
"Bagaimana Le keadaan kangmasmu?". Tanya mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Mas Ari mengalami gegar otak mbah, dan menurut dokter dia bisa saja mengalami hilang ingatan". Jawab Anto dengan mata berkaca-kaca.
"Astagfirullahaladzim, aku akan menerawang dengan mata batinku, apa yang telah dilakukan Ari sebelum ini". Tegas mbah Karto seraya memejamkan kedua matanya dan membacakan rapalan mantra.
Setelah itu nampak di penglihatan mbah Karto jika Ari baru saja bertenu dengan istri gaibnya Sukma melati, dan Sukma berniat mengakhiri hubungan mereka, dan Ari yang tidak bisa menerima keputusan Sukma memilih untuk mengakhiri hidupnya, sampai dia merasa frustasi lalu membenturkan kepalanya ke tembok sampai dia tidak sadarkan diri.
Kemudian mbah Karto pun membuka kedua matanya dengan mengkerutkan keningnya, Anto dan pak Sapri yang penasaran nampak berdiri memandang wajah mbah Karto dengan penuh tanya, sedangkan Rania yang tidak terlibat dalam pembicaraan orang dewasa itu memilih untuk berjalan-jalan di sekitar rumah sakit.
"Ada apa mbah, apa yang sebenarnya terjadi dengan mas Ari". Seru Anto dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Ternyata kangmasmu itu telah bertemu istri gaibnya, dan mereka harus berpisah karena suatu tragedi, tapi Ari tidak bisa menerima keputusan istri gaibnya yang berniat mengakhiri hubungan mereka, setelah itu Ari yang merasa frustasi dan tidak bisa menerima semuanya membenturkan kepalanya ke tembok beberapa kali, sampai akhirnya dia tergeletak di kamarnya". Jelas mbah Karto dengan menggelengkan kepalanya.
"Ya Alloh gusti To, si Ari itu kok nekat banget sih, kenapa dia menyakiti dirinya sendiri ya". Ucap pak Sapri dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara itu Rania yang sedang duduk di kursi taman rumah sakit, melihat ada seorang perempuan yang sedang berdiri di depan pintu ruang IGD, perempuan berambut panjang sebahu itu terdengar sedang menangis pilu di depan pintu IGD yang masih tertutup dari dalam, lalu Rania memutuskan untuk menghampirinya.
"Permisi mbak maaf jika aku mengganggu, tadi aku mendengar jika mbak sedang menangis, semoga keluarga mbaknya cepat pulih ya". Tukas Rania berusaha memberikan semangat pada perempuan itu.
Kemudian perempuan itu membalikan tubuhnya yang nampak pucat dengan berbagai luka memar di tubuhnya, perempuan itu nampak menatap Rania dengan wajah yang pilu dan air mata yang membasahi wajahnya.
"Astagfirullahaladzim". Seru Rania dengan menutup kedua matanya.
Plaaak...
Ada seorang perawat yang menepuk pundak Rania dari belakang, dan Rania yang semakin terkejut malah berteriak histeris.
Aaaaaaa toloooong...
Teriak Rania memekakan telinga perawat yang ada dibelakangnya, dengan jantung yang berdegup kencang Rania memberanikan diri untuk membuka kedua tangan nya.
"Ya Alloh suster mengangetkanku saja". Ucap Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Maaf saya ingin masuk ke dalam, tapi kamu malah berdiri di depan pintu, memangnya ada yang sedang kau cari dek?". Tanya perawat itu dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Ah tidak ada sus, silahkan jika suster mau masuk ke dalam". Jawab Rania tidak mengatakan yang sebenarnya.
Kemudian suster itu masuk ke dalam ruang IGD, tapi tidak berselang lama banyak suster dan dokter lain nya berlarian masuk ke dalam ruangan itu, Rania yang jiwa ingin tau nya besar kembali berjalan ke depan pintu IGD.
Setelah itu nampak pintu itu terbuka lebar, dan ada seorang pasien yang terbaring di brankar dengan ditutupi seluruh tubuh dan wajahnya.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, batin Rania didalam hatinya.
"Permisi sus, apakah pasien yang meninggal itu seorang perempuan berambut panjang?". Tanya Rania dengan mengkerutkan keningnya.
"Iya dek, apakah kau mengenalnya". Jawab perawat itu dengan sebuah pertanyaan.
*
*
...Bersambung....