DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Simbah tua berwujud siluman kuda.


Braak...


Tabib pendopo itu sudah merubah wujudnya kembali menjadi seorang laki-laki tua, dia nampak terjatuh dari kursi panjang yang ada di ruang tamu ibu itu.


"Ya Allah gusti simbah kok saged dawah teng mriki to (ya Allah gusti simbah kok bisa jatuh disini to)". Seru ibu yang bernama Ratih itu.


"Aduh nduk sikile simbah ora iso di lurusne maneh (aduh nak kaki simbah tidak bisa diluruskan lagi)". Ucap laki-laki tua itu meringis kesakitan dengan memegangi lutut nya.


Setelah itu bu Ratih membantu simbah itu untuk kembali duduk di atas kursi panjang, lalu membalur kaki nya menggunakan minyak gosok supaya kaki simbah itu dapat diluruskan kembali.


Samar-samar terdengar suara mesin mobil yang mendekati rumah bu Ratih.


"Nduk koyo ono suoro mobil, tulong di inguk sopo ngerti kui putune simbah (nak kaya ada suara mobil, tolong di lihat siapa tau itu cucunya simbah)". Pinta simbah itu dengan mengusap peluh di kening nya.


Assalamuallaikum bu, seru seorang laki-laki diluar sana.


Waalaikumsallam, sahut bu Ratih seraya membuka pintu rumah nya.


Terlihat suasana bahagia melingkupi rumah bu Ratih, suami dan anak laki-laki nya baru saja pulang dari rumah sakit untuk menjemput cucu dan menantu nya.


"Bagaimana nduk keadaanmu setelah melahirkan?". Tanya bu Ratih pada menantu nya Mira.


"Alhamdulillah bu, Mira langsung pulih dengan cepat makanya Dokter sudah mengijinkanku pulang". Jawab Mira dengan menggendong bayi perempuan nya.


Lalu Anang datang masuk kedalam rumah nya dengan membawa ari-ari bayi nya, tabib siluman itu mencium bau ari-ari yang dari tadi dia cari, bibir nya menyeringai dengan wajah menyeramkan.


"Lho Le opo iku seng mbok gowo mlebu ( lho nak apa itu yang kau bawa masuk)". Seru bu Ratih dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Iki lho bu ari-ari ne bayi ku (ini lho bu ari-ari nya bayi ku)". Sahut Anang dengan menenteng bungkusan berisi plasenta bayi nya.


"Ya Allah Le ndang dikubur, bahaya nek kesuen iso ngundang makhluk alus moro rene (ya Allah nak cepat dikubur, bahaya jika kelamaan bisa mengundang makhluk halus datang kesini)". Celetuk bu Ratih dengan wajah cemas nya.


Setelah itu Anang bergegas ke samping rumah nya untuk menguburkan ari-ari bayi perempuan nya, sedangkan Mira yang masih ada di ruang tamu nampak bingung dengan kehadiran seorang laki-laki tua di rumah mertua nya.


Kemudian bu Ratih menjelaskan pada Mira jika simbah itu sedang tersesat dan saat ini menunggu cucu nya datang untuk menjemput nya, entah kenapa Mira merasakan sesuatu yang berbeda dengan kehadiran laki-laki tua itu, tapi Mira tidak mengatakan apa-apa pada ibu mertua nya, lalu Mira menghampiri simbah tua yang sedang duduk di kursi panjang dan mengecup punggung tangan nya yang sudah berkerut karena dimakan usia.


Simbah tua itu hanya tersenyum dingin tanpa mengatakan apapun, lalu Mira memilih masuk ke dalam kamar nya untuk istirahat.


Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat, sore hampir berganti malam tapi simbah tua itu masih berada di rumah bu Ratih, bu Ratih yang tidak tega melihat simbah tua itu berniat memberikan nya sebuah kamar untuk tempatnya beristirahat malam ini karena menurut bu Ratih cucu simbah itu bisa jadi tidak datang hari itu juga.


Kemudian bu Ratih meminta bantuan suami dan anak laki-laki nya Anang untuk memapah simbah tua itu ke kamar tamu yang berada di pojok rumah nya, tanpa bu Ratih sadari dia sedang membawa bencana ke dalam keluarga nya sendiri.


"Simbah sare teng mriki riyin nggih, mangke nek enten tiyang madosi simbah, kulo jak teng mriki mawon (simbah tidur disini saja ya, nanti jika ada orang mencari simbah, aku akan mengajaknya kesini saja)". Tukas bu Ratih dengan senyum ramah nya.


"Iyo nduk suwun (iya nak terima kasih)". Sahut simbah tua itu dengan seringai di wajah nya.


Suami bu Ratih memandang aneh pada guratan wajah laki-laki tua itu.


Kenapa perasaanku tidak enak dengan kehadiran simbah ini ya, batin suami bu Ratih.


Sedangkan Anang yang tidak memiliki kecurigaan apapun memilih untuk duduk santai didepan teras rumah nya.


Samar-samar terdengar suara adzan magrib dari masjid yang lumayan jauh dari rumah bu Ratih, tapi siluman kuda itu dapat mendengar suara adzan itu dan dia merasa kepanasan karena mendengar suara adzan, tidak lama kemudian dia berubah wujud menjadi manusia dengan badan setengah kuda mata nya terbelalak berwarna merah dengan empat kaki kuda nya kemudian siluman kuda itu meringkik beberapa kali seraya mendepakan keempat kaki nya ke lantai rumah bu Ratih.


Tepok tepok tepok...


Seisi rumah bu Ratih terperanjat mendengar suara yang tidak biasa itu, nampak Mira keluar dari dalam kamarnya dengan menggendong bayi perempuan nya.


"Bu tadi aku mendengar suara seekor kuda meringkik dan baru saja aku juga mendengar suara depakan kaki nya". Seru Mira dengan wajah ketakutan.


Nampak Anang langsung memelum istrinya dan mengatakan itu hanya perasaan nya saja, karena sesungguh nya semua orang di rumah itu mendengar hal yang sama dengan Mira tapi mereka semua tidak ingin Mira menjadi banyak pikiran dan ketakutan, setelah itu Ari memilih menemani istri nya di kamar sementara kedua orang tua nya melakukan shalat berjamaah di masjid.


Karena suasana yang sepi dan sudah tidak terdengar suara adzan ataupun lantunan ayat suci, tabib pendopo itu segera melakukan aksi nya.


Kali ini dia merubah wujudnya menjadi suami bu Ratih, supaya tidak ada yang mencurigai nya ketika menggali ari-ari bayi di samping rumah.


Ketika dia baru melangkahkan kaki nya sampai di ruang tamu tiba-tiba Anang keluar dari kamar nya menuju ke dapur.


"Loh bapak tidak jadi jamaah di masjid to?". Tanya Anang dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Ini baru mau berangkat". Jawab bapaknya datar.


Kemudian Anang berlalu meninggalkan bapaknya, setelah sampai di dapur Anang mengkerutkan kening nya dia berpikir kenapa bapaknya sudah ganti baju lagi, tapi Anang memilih tidak menghuraukan itu lagi.


Sedangkan siluman kuda itu dengan wujud suami bu Ratih sedang sibuk menggali ari-ari yang telah terkubur didalam sebuah tanah di samping rumah mereka, tanpa memperdulikan siapa pun siluman itu terus menggali tanah yang ada dihadapan nya, kemudian tetangga di samping rumah bu Ratih menyapa siluman dengan wujud suami bu Ratih itu.


"Lho pak magrib-magrib kok bawa pacul to, apa ari-ari bayi nya baru mau dikuburkan". Seru pak Wawan tetangga samping rumah nya.


"Iya pak". Sahut nya seperlu nya saja.


Dan siluman itu terus melanjutkan kegiatan nya menggali tanah itu, nampak pak Wawan mengkerutkan kening nya, dia berpikir aneh saja magrib-magrib menggali tanah bukan nya shalat.


Setelah siluman kuda itu selesai menggali tanah, dia meraup sesuatu yang telah terbungkus kain berwarna putih dengan bau anyir darah, terlihat air liur nya menetes membasahi kain putih yang sedang dia pegang.


Tanpa siluman kuda itu sadari bu Ratih bersama suami nya telah kembali dari masjid, samar-samar bu Ratih melihat bayangan hitam disamping rumah nya, lalu dia mengajak suami nya untuk melihat siapa yang ada disana.


Plak plak plak...


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke samping rumah itu, bu Ratih dan suami nya sangat terkejut karena ada seseorang yang membongkar ari-ari cucu nya.


"Hei siapa kau". Seru suami bu Ratih dengan membulatkan kedua mata nya.


*


*


...Bersambung....


...Sampai jumpa nanti lagi readers, jika kalian berkenan tolong berikan semangat pada author dengan memberikan like, hadiah atau vote nya dan jangan lupa rate bintang ⭐ 5 supaya aku semakin semangat 🔥 melanjutkan cerita ini terima kasih semua kesayanganku 💕...