
Keesokan harinya beberapa polisi dengan anjing pelacak diturunkan, untuk mencari barang bukti yang diduga sudah dibuang oleh pak Rahmat di suatu tempat.
Setelah menunggu hampir setengah hari, salah seorang polisi datang dengan membawa barang bukti kejahatan, nampak komandan polisi itu sangat senang, karena anak buahnya bekerja sangat cepat untuk menemukan barang bukti itu.
Lalu polisi segera menginterogasi pak Rahmat, karena barang bukti sudah ditemukan dan sidik jari yang tertinggal sama dengan sidik jari pak Rahmat.
"Lebih baik anda mengaku sebelum kasus ini naik ke pengadilan, bisa-bisa anda akan di vonis lebih berat." tukas komandan polisi itu.
Nampak pak Rahmat berkeringat dingin, dengan tubuh yang bergetar hebat, lidah nya terasa kelu tidak dapat mengucapkan sesuatu.
Terdengar suara pak polisi yang membentak pak Rahmat, dan memintanya untuk berbicara, tapi pak Rahmat hanya menundukan kepalanya dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, akhirnya beberapa polisi datang dan membawanya ke sebuah ruangan tertutup, dan di dalam sana nampak polisi-polisi itu memberikan beberapa pukulan pada pak Rahmat, supaya dia mau mengakui semua kejahatan nya.
Akhirnya setelah beberapa hantaman yang mendarat di beberapa anggota tubuhnya, pak Rahmat pun mengakui semua perbuagan nya.
"Ampun pak ampun, saya mengaku bersalah karena telah melenyapkan nyawa Pardi, saya khilaf pak ampuni saya." seru pak Rahmat berteriak setengah meringis menahan sakit ditubuh nya.
"Kenapa tidak mengaku saja dari kemarin, percuma saja kau mengelak hukum akan terus berjalan sesuai prosedur, kau sendiri yang menginginkan untuk di siksa seperti ini, ayo ikut kami untuk memberikan pengakuan pada jaksa." tukas seorang polisi yang menarik kasar pak Rahmat ke sebuah ruangan yang tersembunyi.
Lalu seorang laki-laki memakai baju rapi menggunakan jas berwarna hitam, datang dan duduk didepan pak Rahmat seraya menanyakan beberapa pertanyaan tentang alasan nya menghabisi nyawa Pardi.
"Lebih baik bapak mengatakan yang sejujurnya, dengan berkata jujur bapak dapat membantu pihak kepolisian serta meringankan hukuman bapak selama di penjara." ucap laki-laki yang di duga adalah seorang jaksa.
Lalu pak Rahmat menundukan kepalanya dan menghembuskan nafasnya panjang, nampak dia mengatakan jika dia terpaksa menghabisi nyawa Pardi.
"Maafkan aku pak, aku terpaksa membunuhnya, karena dia ingin membongkar rahasia yang selama ini kami sembunyikan." seru pak Rahmat dengan wajah sendu nya.
"Rahasia apa yang telah bapak sembunyikan, sampai bapak nekat menghabisi nyawa saudara Pardi?." tanya laki-laki itu.
Apakah aku harus mengatakan padanya, tentang usahaku yang memakai penglaris dan nyawa Bambang yang sudah ku tumbalkan pada pocong sesembahanku itu, batin pak Rahmat didalam hatinya gelisah.
Dengan berat hati akhirnya pak Rahmat menceritakan semua yang elah disembunyikan nya selama ini, pak Rahmat mengakui jika beberapa tahun ini dia berdagang menggunakan penglaris, dan makhluk halus sesembahan nya meminta tumbal nyawa, seharusnya Pardi lah yang akan dijadikan tumbal, tapi karena pegawainya yang bernama Bambang terlalu ingin tau, akhirnya nyawa Bambang sendiri melayang menjadi tumbal penglaris.
"Karena Pardi yang pertama kali menemukan Bambang telah menjadi mayat, Pardi sangat ketakutan dan dia berpikir akan dituduh menjadi pembunuh, karena Pardi ketakutan aku menghasutnya, untuk menyembunyikan mayat Bambang di suatu tempat, karena aku sadar jika mayat Bambang ditemukan di warung bakso, maka usaha bakso ku lah yang akan menjadi sepi, karena itu lah aku dan Pardi membawa mayat Bambang ke suatu tempat dan menguburkan nya disana, tapi akhir-akhir ini Pardi sering bertingkah aneh, dia sering ketakutan dan berteriak tidak jelas, lalu dia ingin mengatakan semua rahasia tentang Bambang ke pihak yang berwajib, karena itu lah aku marah dan khilaf ingin melenyapkan nyawa Pardi, supaya rahasia ku tetap aman bersamanya, tapi Alloh berencana lain meski Pardi telah tewas, akhirnya aku sendiri yang menceritakan seluruh rahasia ku pada kalian." ujar pak Rahmat dengan mata berkaca-kaca.
"Lalu apa penyebab Bambang sampai tewas di warung bakso itu." seru laki-laki yang menatap tajam ke arah pak Rahmat.
"Dia mati karena menjadi tumbal oleh pocong peliharaan ku pak, kematian nya karena kehabisan darah setelah dia tergeletak dengan banyak pisau dan garpu yang menancap ditubuhnya, tapi demi Tuhan pak bukan aku yang membunuhnya, aku dan Pardi hanya menguburkan mayat nya saja." jelas pak Rahmat seraya mengusap peluh dikening nya.
"Lalu kenapa kalian tidak langsung menghubungi keluarganya saja, kau malah mengusulkan untuk menyembunyikan mayat itu, apa kau pikir perbuatanmu tidak akan diketahui siapa pun." bentak polisi yang ada disana.
"Aku hanya takut usahaku hancur pak, dengan susah payah aku membangun bisnis berjualan bakso, karena aku hampir bangkrut dan tidak tau harus berbuat apa, akhirnya aku mendatangi seorang dukun yang memberikanku ilmu penglaris itu, dan aku terpaksa menumbalkan nyawa beberapa pegawaiku, dan semua mayatnya sudah ku kuburkan di tempat yang sama dengan mayat Bambang." ucap pak Rahmat terpaksa mengatakan semuanya.
Dan tidak jauh dari pak Rahmat duduk, ada arwah Bambang yang berdiri mengambang, mendengarkan semua pengakuan jahat mantan juragan nya, nampak Bambang hanya menundukan kepalanya dengan wajah sendu nya.
Akhirnya jazadku akan segera disempurnakan, dengan begitu aku bisa meninggalkan dunia ini untuk selamanya, tapi kedua orang tua ku pasti akan sangat sedih, batin Bambang didalam hatinya.
Wuuush...
Datanglah Petter yang melesat menghampiri Bambang, terlihat Petter menenangkan hati Bambang supaya dia ikhlas meninggalkan semua urusan duniawi nya.
"Kau percaya saja pada Tuhan mu, Dia akan menjaga kedua orang tuamu dengan baik, yang terpenting adalah jazadmu akan segera ditemukan, dan kau bisa kembali ke alam keabadian dengan tenang." ucap Petter menghibur Bambang.
"Entahlah aku juga tidak tau, semua terserah pada Pardi, jika dia ikhlas menerima kematian nya, mungkin dia bisa kembali ke alam keabadian, tapi jika Pardi tidak menerima kematian nya, dan memiliki dendam di dalam hatinya, mungkin saja dia akan menjadi arwah penasaran seperti kita saat ini." tegas Petter dengan mengkerutkan keningnya.
Sedangkan dihadapan mereka ada pak Rahmat yang sedang diborgol polisi, nampak pak Rahmat diminta menunjukan lokasi dimana mayat Bambang dan beberapa pegawai lain nya dikuburkan, dan pak Rahmat pun menunjukan tempat dimana dia, menguburkan semua mayat pegawainya.
"Kau mengubur beberapa mayat di tempat umum macam ini, kau kira ini tempat pemakaman umum, pasal yang menimpamu akan semakin berlapis, secara tidak langsung kau sudah melakukan tindak pidana yang direncanakan." cetus komandan polisi yang berdiri menatap tajam ke arah pak Rahmat.
Aku terpaksa mengakui segalanya supaya hukumanku lebih ringan, tapi ternyata pengakuanku tidak mengurangi vonis hukuman yang akan ku jalani, sial aku dijebak oleh polisi-polisi ini, batin pak Rahmat mendengus kesal.
Setelah itu beberapa orang ditugaskan untuk membongkar beberapa gundukan tanah, yang diduga adalah tempat dimana pak Rahmat menguburkan beberapa mayat pegawai yang telah menjadi korban ilmu hitam nya.
Satu persatu tengkorak manusia ditemukan disana, hanya jazad Bambang saja yang belum ditemukan, terlihat jelas jika Bambang sangat gelisah menantikan jazadnya ditemukan.
"Terima kasih karena kalian semua sudah membantuku, setelah jazadku disempurnakan aku akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya, sampaikan ucapan terima kasihku pada Rania dan kedua orang tuamu, aku akan memberi tanda pada anjing pelacak itu, supaya dia segera menemukan dimana jazadku berada, karena dia bisa melihat kehadiranku." cetus Bambang yang melesat mendekati anjing polisi itu.
Terlihat dengan sigap anjing pelacak itu menggonggong mengikuti arwah Bambang, yang melesat ke sebuah gundukan tanah di bawah pohon, tepat di samping aliran sungai, anjing itu terus menggonggong dan berusaha menggali tanah yang dipijaknha, lalu beberapa polisi datang dan meminta beberapa orang laki-laki yang ada disana untuk menggali tanah itu.
"Tolong menggalinya pelan-pelan saja pak, kemungkinan jazad yang ada di dalam sana masih bisa di identifikasi." perintah komandan polisi yang memperkirakan mayat Bambang masih berbentuk dan belum hancur.
Dan setelah menggali dengan hati-hati, akhirnya nampak didalam sana ada sesosok mayat laki-laki, yang wajahnya sudah hancur beserta tangan dan kaki nya, hanya tersisa tubuhnya yang sudah mulai membusuk dan mengeluarkan aroma tidak sedap.
Lalu dengan sangat hati-hati petugas forensik itu, memindahkan mayat Bambang ke dalam kantong berwarna orange dan segera membawanya ke dalam mobil ambulance.
Wuuush...
Arwah Bambang nampak masuk ke dalam mobil ambulance, seraya melambaikan tangan yang menjadi salam perpisahan antara dia dan Petter.
Kemudian mobil ambulance itu meninggalkan lokasi untuk menuju ke rumah sakit yang ada di kota, lalu mayat Bambang dibawa ke suatu ruangan untuk segera dilakukan autopsi, tapi nampak arwah Bambang terkejut melihat seseorang yang dia kenal ada di dalam ruangan forensik.
Sepertinya aku mengenal laki-laki itu, kenapa dia ada disini dan berdiam diri disana, batin Bambang didalam hatinya penuh tanya.
Akhirnya Bambang melesat perlahan mendekati sosok itu, tapi laki-laki itu nampak meninggalkan ruang forensik, dan Bambang yang ingin mengikuti laki-laki itu nampak dihentikan oleh seorang perempuan yang memakai baju putih seperti seorang dokter.
"Tunggu kau mau pergi kemana, bukankah kau datang kemari untuk melihat jazadmu di autopsi." seru perempuan itu memandang ke arah Bambang.
Siapa perempuan ini, kenapa dia bisa melihatku, apakah benar dia berbicara padaku, batin Bambang didalam hatinya.
Setelah itu Bambang membalikan tubuhnya yang tanpa raga itu, memandang seorang perempuan paruh baya yang sedang berdiri tepat dibelakangnya.
Kemudian Bambang bertanya pada perempuan itu, benarkah dia bisa melihat wujudnya.
"Tentu saja aku bisa melihatmu, terlihat dari pakaianmu yang terlihat sama dengan mayat yang ada di kantong mayat itu, bukankah kau datang kesini untuk melihat jazadmu, katakan lah padaku bagaimana kau bisa meninggal, dengan begitu aku akan lebih mudah mengidentifikasi jazadmu tanpa harus, melakukan pembedahan yang akan lebih banyak merusak anggota tubuhmu yang sudah banyak membusuk itu." ucap dokter forensik yang memiliki bakat melihat makhluk tak kasat mata.
*
*
...Bersambung....