DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Misteri sesosok bayangan hitam.


Suatu hari di desa Rawa belatung, kedua orang tua Rania datang dari Kalimantan, mereka berniat membawa Rania pindah bersama mereka.


Tok tok tok...


"Assalamuallaikum". Seru Anggi mama nya Rania.


"Waalaikumsallam". Sahut bude Walimah seraya berjalan ke ruang tamu rumahnya.


Cekleek...


"Loh Anggi dedy kalian sudah datang, katanya minggu depan pulangnya". Seru bude Walimah seraya memeluk Anggi dengan penuh kerinduan.


"Biasalah mbakyu kejutan, karena kami sudah tidak sabar bertemu dengan kalian semua". Tukas Anggi dengan senyum bahagia nya.


Nampak papa Rania sedang sibuk memindahkan barang-barang dari dalam mobilnya, lalu bude Walimah membantunya memindahkan beberapa koper baju.


Nampak simbah Parti keluar dari dalam kamarnya dengan berjalan tertatih, sudah beberapa hari kondisi simbah menurun kesehatan nya.


"Loh simbah kenapa berjalan sendiri, nanti kalau jatuh bagaimana". Seru bude Walimah seraya berlari memapah simbah ke kursi goyang nya.


"Tadi aku mendengar suara mobil yang datang, ternyata kalian sudah datang to". Ucap simbah dengan senyum ramahnya.


Kemudian Anggi dan Dedy menghampiri simbah Parti, seraya mengecup punggung tangan nya dan memeluk tubuh perempuan tua itu.


"Sudah sudah lepaskan aku, nanti tulangku yang sudah tua ini bisa remuk jika kalian bersamaan memelukku". Jelas simbah Parti dengan terbatuk-batuk.


"Simbah masih sakit to, mari ku antar ke rumah sakit saja supaya dokter dapat memeriksa keadaan simbah". Ujar Dedy dengan wajah yang cemas.


"Simbah tidak apa-apa Le nama nya juga orang tua, wajar saja kalau sering sakit, kau tidak usah hawatir". Jelas simbah Parti yang masih duduk di atas kursi goyangnya.


"Justru karena sudah tua kami semua semakin hawatir mbah, jangan sampai simbah kenapa-kenapa, karena kami semua tidak tau kondisi simbah yang sebenarnya". Sahut Anggi seraya memijat pundak simbah Parti.


"Sudah to nduk tidak usah memijatku, lebih baik kau dan suamimu istirahat dulu di kamar, anakmu Rania sedang ke kota bersama Wati dari tadi pagi". Jelas simbah Parti pada kedua orang tua Rania.


"Loh ada perlu apa mbah?". Tanya Defy dengan mengkerutkan keningnya.


"Tadi Rania berpamitan mau mengumpulkan formulir pendaftaran kuliah bersama Wati dan teman-teman nya". Jawab bude Walimah yang tiba-tiba datang membawa dua gelas minuman.


Lalu bude Walimah menyajikan nya untuk kedua orang tua Rania, nampak mereka semua berbincang di ruang tamu dengan canda dan tawa, terlihat simbah Parti larut dalam suasana bahagia siang itu, dan tiba-tiba simbah berkata jika beliau tidak ingin jauh dari anak dan cucu nya dimasa senja nya.


"Jika kalian pergi dan membawa Rania jauh dariku, pasti aku akan sangat sedih dan kesepian, seharusnya kalian semua menemaniku menghabiskan waktu bersama di usia senjaku ini". Ucap simbah Parti dengan wajah sendu.


Nampak mereka semua terdiam dan menundukan kepalanya, mereka tercekat mendengar ucapan simbah Parti, sehinga lidahnya kelu dan tidak mampu berkata apa-apa, kemudian Anggi bangkit dari duduknya dan memeluk erat perempuan tua itu.


"Simbah maafkan kami yang tidak bisa menemanimu dimasa tuamu ini, pekerjaanlah yang memaksa kami untuk jauh darimu, dan tentang Rania yang pindah ke Kalimantan, kami tidak pernah memaksakan nya untuk mengikuti kami, jika Rania ingin melanjutkan pendidikan nya bersama Wati, kami tidak akan melarangnya apalagi dia bisa lebih dekat dengan simbahnya". Tukas Anggi berderai air mata.


Nampak semua orang yang ada di dalam rumah itu semakin hanyut dalam suasana haru, sebelum ini simbah Parti tidak pernah berkata yang demikian.


Ya Alloh semoga simbah selalu diberi kesehatan, kami takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada beliau, batin bude Walimah seraya memeluk Anggi dan simbah bersamaan.


"InsyaAlloh kami akan lebih sering mengunjungi simbah di desa, karena kontrak ku di Kalimantan tinggal beberapa bulan lagi dan aku tidak akan melanjutkan kontrak itu, karena Rania tetap ingin berada disini menemani simbah". Ucap Dedy dengan wajah sendu.


Ditengah perbincangan sore itu terdengar suara sepeda motor yang memasuki halaman rumah simbah, ternyata Rania dan Wati baru saja kembali dari rumah.


**Assalamuallaikum, seru keduanya.


Waalaikumsallam, sahut semuanya**.


Kemudian Rania nampak berlari ke pelukan mama dan papa nya, nampak gadis yang sudah beranjak dewasa itu mengecup punggung tangan orang tua nya, terlihat jelas kerinduan di antara mereka.


"Mama dan papa kapan datangnya, kenapa tidak memberi kabar dulu". Tukas Rania dengan meneteskan air mata bahagia.


"Jadi Wati tidak dipeluk nih bulek". Seru Wati dengan berkacak pinggang.


"Eh Wati maaf bulek larut dalam kerinduan, sini sayang". Tukas Anggi seraya memeluk Wati dan Rania bersamaan.


"Sudah sudah biarkan mereka istirahat dulu, nanti kita bisa berbincang lagi". Tegas simbah Parti seraya bangkit dari duduknya.


Nampak Dedy membantu simbah kembali ke kamarnya, dan di dalam kamarnya terlihat simbah sedang berbicara sesuatu dengan Dedy.


"Le setelah kontrakmu di Kalimantan selesai, kau pindah kerja saja ke Jakarta, supaya kau lebih dekat dari kami semua, dan kalau aku sudah tiada tolong jaga mbakyumu dan juga Wati, suami mbakyumu itu kan berlayar di tengah laut, dan tidak ada yang tau kapan suaminya kembali, jika suatu hari nanti Alloh mengambil nyawaku, kalian akan lebih cepat untuk kembali ke desa ini". Cetus simbah Parti yang berbaring di atas tempat tidurnya.


"Astaga simbah itu ngomong apa, insyaAlloh simbah akan baik-baik saja, besok pagi kami akan membawa simbah ke dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan simbah". Jelas Dedy dengan menggenggam tangan simbah Parti.


"Sudah to Le kau tidak usah hawatirkan aku, aku ini baik-baik saja hanya masuk angin biasa, lebih baik sekarang kau istirahat dulu, nanti kita lanjutkan ngobrolnya". Ucap simbah dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Kemudian Dedy bangkit dari duduknya berjalan gontai keluar dari kamar simbah, nampak semua orang mengkerutkan keningnya memandang penuh tanya.


Kenapa papa terlihat sangat sedih setelah keluar dari kamar simbah, sebenarnya ada apa ya, batin Rania didalam hatinya.


Wuuush...


Petter datang melesat menghampiri Rania yang sedang menundukan kepalanya, nampak Petter mengatakan sesuatu yang menggetarkan hatinya.


"Rania simbah mengatakan sesuatu yang tidak biasanya, aku sangat terkejut ketika mendengarnya, karena beberapa kali aku melihat bayangan hitam didekat simbah". Bisik Petter ditelinga Rania.


Bayangan hitam apa yang dimaksud petter, batin Rania didalam hatinya.


Kemudian Rania melangkahkan kaki nya ke kamar, di dalam kamar itu Rania berbicara dengan sahabat tak kasat matanya.


"Apa yang kau maksud Petter, bayangan hitam apa yang ada didekat simbah". Ucap Rania dengan mengkerutkan keningnya.


Lalu Petter menjelaskan pada Rania, jika bayangan hitam yang ada didekat simbah, adalah bayangan hitam yang biasa mengikuti seseorang yang akan tiada dalam waktu cepat atau lambat.


"Kau jangan asal bicara Petter". Seru Rania dengan membulatkan kedua matanya.


"Aku berkata yang sujujurnya Rania, dan sepertinya simbah tau ada yang mengikutinya akhir-akhir ini, karena itu lah simbah mengatakan sesuatu yang membuat papamu terkejut". Tukas Petter dengan wajah sendu.


Setelah itu Rania berlari ke kamar orang tua nya, tapi keduanya tengah berbaring di atas tempat tidurnya.


Sepertinya mama dan papa sudah tertidur, lebih baik aku kembali nanti saja, gumam Rania seraya berjalan meninggalkan kamar itu.


Lalu Rania duduk termenung di teras rumahnya, pikiran nya sedang sibuk menerka-nerka apa yang Petter katakan tentang simbah.


Plaak...


"Kau sedang apa Ran, apakah kau sudah mengatakan pada mama dan papamu, jika kau ingin melanjutkan pendidikanmu bersamaku?". Tanya Wati yang menepuk pundak Rania dari belakang.


"Aku belum mengatakan apapun pada mereka, justru ada hal lain yang sedang mengganggu pikiranku". Jawab Rania dengan wajah sendu.


"Sebenarnya ada apa Rania, kau terlihat sangat sedih". Seru Wati dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Huhuhu... Wati aku sangat sedih, tapi aku tidak tau harus berkata apa". Jelas Rania seraya memeluk Wati yang ada dihadapan nya.


*


*


...Yuk tunggu kelanjutan cerita nya, ada apa dengan simbah Parti sebenarnya, ku tunggu Vote dan hadiahnya jika bertambah banyak akan author update hari ini juga buat doubel up nya....


...Bersambung....