DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Hantu Narsih bersama Wati.


Sesampainya di alam gaib, nampak Senopati menemui romo nya, dan mengatakan kehawatiran nya tentang ibunda nya.


"Romo bisakah aku mengatakan keluh kesahku padamu." ucap Senopati tertunduk sendu.


"Katakanlah segalanya padaku nak, apa yang sedang mengganggu pikiranmu." ujar Elang pada anaknya.


"Romo aku baru saja kembali dari alam manusia, ibunda ku memanggilku untuk membantunya menemukan saudara nya yang menghilang, dan tau kah romo siapa yang telat membuat saudara ibundaku menghilang." seru Senopati dengan mengkerutkan keningnya.


"Siapa yang membuatnya hilang nak, apakah dia salah satu makhluk gaib juga?." tanya Elang menatap wajah anaknya.


"Dia adalah saudara tiri romo, pangeran Bagaskara." jawab Senopati dengan mendengus kesal.


"Apa yang dilakukan nya disana, jika dia telah membuat orang terdekat ibumu menghilang, artinya Bagaskara sudah berada disekitar ibumu saat ini, kau harus mengawasi ibundamu nak, romo memiliki firasat buruk sebelum semua ini terjadi, karena itulah romo tidak tenang membiarkan ibundamu tanpa pengawasan disana." tukas Elang dengan wajah cemas.


"Apakah aku harus tinggal di alam manusia, untuk menjaga ibundaku." ucap Senopati dengan menundukan kepalanya.


"Mungkin ibundamu akan curiga jika kau tinggal didekatnya, lebih baik kau katakan saja segalanya padanya, biarkan ibundamu yang memilih, dia ingin kau berada didekatnya untuk menjagamu atau tidak, karena jika Bagaskara sudah berhasil mendapatkan kesaktian nya, tidak lama lagi pasti dia akan membuat ibundamu menjadi miliknya, dan romo tidak akan bisa lagi bersama ibundamu, karena ibundamu sendiri yang menginginkan nya." cetus Elang dengan wajah sendu.


Terlihat Senopati larut dalam duka romo nya, lalu dia meyakinkan Elang jika dirinya akan membujuk ibunda nya.


"Aku akan berbicara pada ibunda, supaya dia memberikan kesempatan pada romo, tapi aku tidak bisa memaksakan nya romo, semua keputusan ada ditangan ibunda sendiri." cetus Senopati.


"Tidak apa-apa nak, kau memang tidak boleh memaksakan semuanya, jika ibundamu tidak ingin kembali, dan memberikan kesempatan pada romo, biarlah dia menjalani hidupnya, kita hanya perlu menjaga nya dari jauh, kau sebagai anaknya mempunyai kewajiban, untuk menjaga dan membahagiakan ibundamu, meski alam kalian berbeda kau tetaplah darah dagingnya." ucap Elang dengan wajah sendu.


Terlihat Senopati memeluk romo nya, dia tidak pernah menyangka jika romo nya, akan berbicara seperti itu padanya, karena yang Seno tau romo nya selalu ingin mendapatkan apa yang dia mau.


"Senopati bangga menjadi anak romo, meski romo menginginkan ibunda kembali, tapi romo tidak melakukan berbagai cara licik seperti pangeran Bagaskara." seru Seno tersenyum bahagia menatap wajah romo nya.


Nampak Mekar datang menghampiri keduanya, Mekar mendengar percakapan mereka tentang pangeran Bagaskara, lalu Mekar memberi saran pada Seno, jika dia bisa tinggal di sekitar tempat tinggal ibunda nya, supaya dia bisa menjaga ibunda nya dari dekat.


"Tapi saat ini ibunda tidak tinggal di rumahnya, bagaimana aku bisa berada disekitarnya." ujar Seno dengan mengkerutkan kening nya.


"Kau bisa berkata jujur pada ibumu nak, katakan saja jika kau ingin berada didekatnya dalam waktu dekat ini, tidak ada seorang ibu yang akan menolak kehadiran anaknya sendiri, percayalah padaku." cetus Mekar seraya memeluk anak tirinya itu.


Sementara di alam manusia, nampak Rania bersama Lala dan bude Walimah, sedang mencari Rania ke seluruh penjuru rumah sakit itu, sementara Anto dan pak Jarwo berjalan ke suatu tempat, nampaknya pak Jarwo sudah mengetahui dimana Wati berada, pak Jarwo meminta Anto berjalan lebih cepat, karena sepertinya kesehatan Wati menurun.


Kreeaaak...


Astagfirullohaladzim malang sekali nasib perempuan itu, batin pak Jarwo didalam hatinya.


Setelah itu pak Jarwo membuka kedua matanya, seraya melangkahkan kaki nya ke dalam ruangan, nampak disana ada Wati yang tergeletak tidak sadarkan diri, dan ada sesosok hantu perempuan dengan wajah yang setengah gosong, hantu itu nampak menangis disamping Wati, lalu pak Jarwo berkomunikasi dengan hantu Narsih melalui batin nya, ternyata Narsih mengatakan jika dia ingin melindungi Wati, dan hantu suster yang masih mengincarnya, karena pak Jarwo merasakan aura positif pada hantu Narsih, pak Jarwo membiarkan nya bersama Wati.


"To kau hubungi Rania, dan beritau mereka jika Wati sudah ditemukan, kita harus memeriksakan keadaan nya ke dokter." cetus pak Jarwo dengan menepuk pundak Anto.


Lalu Anto menghubungi Rania melalui panggilan suara, dan mengatakan jika Wati sudah bersamanya, dan setelah menutup panggilan telepon itu, pak Jarwo bersama Anto membawa Wati ke ruang dokter, disana Wati diperiksa sementara semua orang menunggu di luar, nampak bude Walimah berderai air mata, perempuan itu takut jika anaknya terluka parah, tapi pak Jarwo meyakinkan nya jika Wati hanya terluka sedikit saja, sedangkan Rania yang melihat sosok Narsih melesat ke dalam ruangan dokter, nampak membulatkan kedua matanya, Rania mengira jika hantu Narsih akan menyakiti sepupu nya.


"La apakah kau melihat sesosok hantu masuk ke dalam sana." seru Rania seraya meremas lengan Lala.


"Aduh Ran sakit tau, memangnya apa yang kau lihat." tukas Lala meringis kesakitan seraya menepis tangan Rania.


"Tadi ada hantu perempuan yang masuk kesana, jangan-jangan dia yang telah membuat Wati tersesat di alam lain." ucap Rania dengan mengkerutkan keningnya.


Ternyata pak Jarwo mendengar perkataan Rania, akhirnya dia menjelaskan pada Rania dan juga Lala, jika itu adalah hantu Narsih.


"Dia adalah hantu yang melindungi Wati di alam gaib, sepertinya ada hantu lain yang ingin mencelakai Wati, karena itu lah dia memohon padaku untuk selalu berada didekat Wati, aku juga belum mengerti nduk kenapa hantu Narsih bersikap demikian, sepertinya ada misteri dimasa lalu nya, yang belum ku ketahui." jelas pak Jarwo seraya memijat pangkal hidung nya.


"Bukan nya Wati tidak dapat melihat makhluk halus mas." seru Lala dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sebelumnya Wati memang tidak bisa, melihat mereka yang tak kasat mata, tapi setelah dia tersesat di alam gaib, dan berkomunikasi dengan mereka, tidak menutup kemungkinan jika Wati dapat melihat kehadiran mereka, sama halnya seperti kau dulu nduk, sebelum bertemu dengan suami gaibmu, kau tidak memiliki kemampuan melihat makhluk gaib, tapi sekarang kau bukan hanya mampu melihatnya, kau mulai terbiasa berkomunikasi dengan mereka." jelas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Kasihan Wati pasti dia sangat ketakutan disana, dengan Petter yang tidak menyeramkan saja, Wati selalu takut jika merasakan kehadiran nya, apalagi sekarang dia telah melihat berbagai makhluk menyeramkan, batin Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.


Tidak berselang lama dokter keluar, dan menghampiri bude Walimah, dokter itu mengatakan jika Wati hanya kekurangan cairan saja, dan dia sudah diberi infus untuk menambah cairan didalam tubuhnya, tapi tiba-tiba hantu Narsih keluar dari ruangan itu, dia membulatkan kedua matanya menatap tajam ke arah bude Walimah, lalu hantu Narsih melesat tepat ke hadapan bude Walimah, hantu perempuan itu menatap wajah bude Walimah tanpa berkedip, dengan mata berkaca-kaca, terlihat Rania sangat panik melihat bude nya dipandang dengan cara seperti itu oleh hantu Narsih.


Kenapa hantu perempuan itu melihat bude Walimah tanpa berkedip, apakah dia memiliki niat jahat pada bude Walimah, batin Rania dengan degup jantung yang berderu kencang.


*


*


...Bersambung....