DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Riwayat hidup bude Walimah.


Nampak bude Walimah berjalan memasuki halaman rumahnya, lalu mbah Karto berjalan tertatih menghampirinya, terlihat mbah Karto mengkerutkan kening nya, seraya memejamkan kedua matanya, batin mbah Karto merasaka aura negatif disana, sesepuh desa itu berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi batin nya tidak bisa menembus tabir misteri itu.


Kenapa aku tidak dapat melihat apapun, sebenarnya siapa makhluk gaib yang menyembunyikan jati dirinya, batin mbah Karto didalam hatinya.


Setelah itu mbah Karto membuka kedua matanya, dipandang nya hantu Narsih yang mengatakan sesuatu padanya.


"Kenapa kau mengijinkanku bersama mereka semua, apakah kau percaya padaku, jika aku tidak akan menyakiti mereka, aku hanya jiwa tanpa raga yang sangat menderita, aku tidak dapat meninggalkan dunia fana ini, karena aku menghawatirkan kehidupan bayiku, aku hanya ingin memastikan keadaan nya baik-baik saja." ucap hantu Narsih dengan mata berkaca-kaca.


"Tenanglah aku akan menjawab kehawatiranmu itu, supaya kau dapat kembali ke alam keabadian secepatnya." jelas mbah Karto melalui batin nya.


Sementara itu Yudistira yang terlihat panik, karena kehadiran mbah Karto di depan sana, bergegas memutar balikan mobilnya, dia berpamitan pada Lala dan juga Rania, dengan keringat dingin yang membasahi wajah nya, Yudistira mengatakan jika besok dia akan mengantar mereka ke kampus.


"Ehm tidak usah repot-repot Yud, kami bisa berangkat bersama-sama mengendarai sepeda motor." celetuk Lala menolak tawaran nya.


Nampak Yudistira tidak bisa memaksakan keinginan nya, apalagi mbah Karto sudah beberapa kali memandang ke arah mobilnya.


"Baiklah jika itu mau mu, aku permisi pulang dulu ya." tukas Yudistira seraya mengemudikan mobilnya.


Nampak mereka semua berjalan masuk ke dalam rumah, lalu bude Walimah mengantar Wati ke dalam kamar nya, sementara itu Rania dan Lala sudah duduk di ruang keluarga, bersama mbah Karto yang menundukan kepalanya, dengan wajah yang sendu, tidak lama kemudian bude Walimah berjalan menghampiri mereka semua.


"Mbah Karto sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan pada kami semua?." tanya bude Walimah seraya duduk disamping keponakan nya.


"Nduk sebenarnya ada sebuah rahasia yang belum kalian semua ketahui, padahal aku sudah berjanji tidak akan mengatakan semua ini pada siapa pun, tapi sepertinya aku perlu mengungkapkan semua ini sebelum aku pergi untuk selamanya." jawab mbah Karto dengan wajah cemas.


Nampak mbah Darmi berlinang air mata, ketika suami nya mengatakan hal-hal tentang kepergian nya, perempuan tua itu memeluk suaminya seraya mengatakan, jika dirinya tidak bisa hidup tanpa suami nya itu.


"Sudah ya bu jangan pernah berkata demikian, hidup mati seseorang itu pasti akan tiba, kau mau tidak mau dan siap tidak siap, cepat atau lambat ajal akan segera menjemput, istigfar bu jangan terlalu mencintai hamba Nya seperti itu." tukas mbah Karto berusaha menenangkan hati mbah Darmi.


Terlihat semua orang tertunduk dengan wajah sendu, mereka tidak tahan mendengar ucapan mbah Karto, dan Rania mengatakan pada sesepuh desa itu, jika beliau harus banyak istirahat.


"Kami semua tau itu mbah, tapi kami ingin mbah Karto berumur panjang, mari mbah istirahat saja, jangan terlalu lelah dan memikirkan masalah-masalah yang lain." ujar Rania dengan wajah sendu.


"Aku tidak apa-apa nduk, kalau begitu kalian berdua temani Wati saja di kamar, ada yang ingin aku bicarakan pada bude kalian." cetus mbah Karto dengan senyum ramah nya.


"Jika kau ingin tau dimana keberadaan bayi mu, tetaplah disini dan dengarkan ucapanku baik-baik." ucap mbah Karto melalui batin nya.


"Walimah seperti yang kau tau sebelumnya, jika mbah Parti mengatakan padamu, kalau kau adalah anak dari saudara jauh nya yang telah tiada, dan dia akhirnya merawatmu dan menganggapmu seperti darah daging nya sendiri, bahkan setelah kau dewasa Parti menjodohkanmu dengan anak lelaki nya, karena dia terlalu menyayangimu, dan tidak ingin kau berada jauh darinya, tapi saat ini aku harus mengungkapkan jati dirimu yang sebenarnya." jelas mbah Karto dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Iya mbah aku sudah tau itu sejak kecil, tapi aku tidak pernah merasakan kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua, karena almarhum mbah Parti dan juga suaminya, selalu menyayangiku sama seperti mereka menyayangi anak kandung nya sendiri, lalu apa yang ingin mbah Karto ungkapkan padaku?." tanya bude Walimah bingung.


"Begini nduk yang sebenarnya, Parti itu tidak pernah tau siapa orang tua mu yang sebenarnya, dia bersama suaminya saat itu menemukanmu di tengah hutan, dan beruntungnya mereka menemukanmu disaat yang tepat, jika tidak mungkin binatang-binatang buas bisa memangsamu kapan saja, karena tidak tega melihat kondisimu yang nampak demam, akhirnya mereka membawamu kembali ke rumah nya, saat itu mereka baru mempunyai seorang anak laki-laki, dan anak laki-lakinya sangat senang dengan kehadiran bayi perempuan yang sangat lucu, mereka merawat dan menjagamu hampir satu minggu, dan setelah itu mereka kembali lagi ke hutan itu, untuk memastikan siapa orang tuamu yang sebenarnya, tapi disana Parti dan suaminya, tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan dan laki-laki yang mengenakan penutup wajah, keduanya berbicara tentang bayi yang mereka buang, mereka mengatakan jika bayi itu harus mati, tapi dukun ilmu hitam mengatakan pada mereka, jika bayi yang dibuang nya masih hidup, akhirnya kedua penjahat itu kembali ke hutan dengan maksud ingin melenyapkan nyawamu, akhirnya Parti dan suaminya memutuskan untuk pulang dan menemuiku, mereka memintaku untuk menyembunyikan jati dirimu, dan menutup tabir kehidupanmu, supaya tidak ada siapapun yang dapat mengetahui riwayat hidupmu yang sebenarnya, tapi kali ini aku harus mengatakan segalanya padamu, karena ibu kandungmu kebingungan mencari keberadaanmu, dia sangat tersiksa karena terpisah darimu." cetus mbah Karto dengan menghembuskan nafasnya panjang.


"Ya Alloh gusti mbah, apakah benar yang kau katakan, lalu dimana ibu kandungku mbah huhuhu." seru bude Walimah berderai air mata.


"Yang sabar ya nduk ibu kandungmu sudah lama tiada, bahkan setelah kau dibuang ke hutan oleh kedua orang jahat itu, ibumu akhirnya tewas bersama keduanya, aku juga baru mengetahui nya, karena sampai saat ini jiwa nya masih gentayangan mencari keberadaanmu, dan saat ini arwahnya sudah ada disampingmu." tukas mbah Karto seraya memandang hantu Narsih yang berlinang air mata.


Nampak hantu Narsih terkejut dengan menangis terisak, Narsih berusaha memeluk tubuh bude Walimah, tapi jiwa nya selalu menembua tubuh itu, sementara bude Walimah yang terpukul setelah mendengar penjelasan mbah Karto, hanya bisa menangis tersedu-sedu seraya memanggil-manggil ibu nya.


"Huhuhu ibu maafkan aku tidak bisa membalaskan budi padamu, kembalilah ke alam mu bu, aku akan baik-baik saja disini, aku akan bahagia bersama anak dan keluargaku, ibu harus ikhlas kembali ke alam keabadian, aku akan selalu mendoakanmu dari sini." seru bude Walimah menangis dengan memandang ke segala arah.


Lalu mbah Karto bangkit berdiri, menghampiri bude Walimah dan membuatnya merasakan keberadaan ibu nya.


"Aku akan membuatmu merasakan kehadiran ibumu nduk, tapi aku tidak bisa membuatmu melihat wujudnya, karena sejatinya dunia kalian berbeda, dan kalian tidak bisa saling berbicara." jelas mbah Karto seraya mentransfer energinya pada bude Walimah.


Setelah itu nampak bude Walimah menjulurkan tangan nya, dia meraba ke sisi sebelah kiri, dimana hantu Narsih berdiri mengambang menatap sendu dirinya, terasa ditelapak tangan bude Walimah jika terasa sesuatu yang menghangatkan jiwa dan raga nya.


"Subhanalloh ibu huhuhu." pekik bude Walimah yang terkejut.


*


*


...Bersambung....