
Setelah itu Petter menceritakan kejadian di hutan angker tadi, tentang pertarungan antara mama nya melawan penguasa hutan angker.
Terlihat wajah simbah berubah pucat ketika mengetahui bayi pak Budi akan di tumbalkan oleh seseorang.
"Nak bawa mama mu menemui mbah Karto supaya beliau cepat pulang ke desa". Tukas simbah Parti dengan wajah cemas nya.
Lalu Petter bersama Evana pergi menemui mbah Karto yang masih berada di kota.
Sementara di pos kampling bayi perempuan itu menangis karena kedinginan seorang diri, tapi ada seorang warga yang mendengar tangisan bayi perempuan itu dan mencari asal suara tangisan nya.
"Eh pak, kau dengar tidak ada suari tangisan bayi". Ucap pak Rudi dengan mengernyitkan dahi nya.
"Iya aku juga mendengarnya tapi dimana ya". Seru pak Udin dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
Kemudian mereka berdua berjalan kembali ke pos kampling dan melihat seorang bayi sedang terbaring di kursi seorang diri, pak Udin segera berlari menghampiri bayu itu dan menggendong nya.
Sementara pak Rudi membunyikan kentongan lagi supaya semua warga segera berkumpul di pos kampling dan mengetahui jika bayi itu telah ditemukan.
Tong tong tong... Bunyi ketongan pos kampling di bunyikan berulang kali.
Terlihat beberapa warga kembali ke pos kampling untuk mengetahui apa yang terjadi, nampak pak Budi bergegas kembali ke pos dengan berderai air mata.
"Anakku". Pekik pak Budi seraya menggendong bayi perempuan nya.
Semua orang nampak terharu melihat pemandangan yang ada didepan mata nya, tapi tidak dengan pak Sugeng yang raut wajah nya berubah menjadi ketakutan.
Kenapa bayi itu bisa ada disini, jangan jangan mereka menemukan bayi itu di hutan sana dan penguasa hutan angker akan membunuhku, batin pak Sugeng didalam hati nya.
Lalu pak Sugeng berlari menuju rumah menantu nya meninggalkan kerumunan warga yang sedang berbahagia atas kembali nya anak pak Budi.
Dan tiba tiba terdengar suara gemuruh petir menggelegar, angin kencang pun datang menghempaskan tubuh pak Sugeng ke sebuah kebun yang sangat gelap.
Braaaks...
"Kau sudah menipuku manusia rendahan". Ucap makhluk gaib penguasa hutan angker.
Nampak amarah yang sangat besar dari kedua mata makhluk menyeramkan itu, dia mencekik leher pak Sugeng dan mengangkat nya ke atas dengan satu tangan.
Kemudian makhluk gaib yang ada didepan pak Sugeng membuka mulut nya lebar dan menghisap jiwa pak Sugeng dengan sekali hisapan, setelah mengambil jiwa sesembahan nya itu dia melemparkan raga pak Sugeng ke sembarang tempat.
*
*
Sementara di rumah pak Budi nampak warga yang berjaga disana karena semua orang masih hawatir dengan bayi pak Budi.
Samar samar terdengar warga yang bergunjing tentang hilangnya bayi pak Budi dengan cara yang misterius dan ditemukan begitu saja di depan pos kampling.
"Bisa saja ada yang menganut ilmu hitam dan ingin menumbalkan nyawa bayi itu seperti kejadian beberapa tahun yang lalu saat mbah Wongso masih ada di desa ini". Tukas pak Dahlan dengan mengaitkan kedua alis nya.
"Jika itu benar terjadi kita semua harus meminta bantuan orang pintar dari desa sebelah, karena mbah Karto masih belum kembali". Seru pak Eko dengan wajah yang cemas.
Terlihat semua warga sudah lelah berjaga malam itu, karena hari sudah subuh semua orang berpamitan pada pak Budi dan meninggalkan rumah nya.
Karena hari sudah pagi semua orang melakukan aktifitas nya seperti biasa bercocok tanam di sawah dan juga di kebun nya masing masing.
Sementara pak Udin yang akan memanen hasil kebun nya memanggil tengkulak untuk menjual semua buah rambutan yang akan dipanen hari ini, tapi dia nampak terkejut ketika melihat seorang laki laki yang sedang terbaring di tanah kosong didekat kebun nya.
Kemudian dia berjalan mendekati laki laki itu dan berusaha membangunkan nya.
"Pak bangunlah apa yang sedang kau lakukan dengan berbaring ditempat seperti ini". Seru pak Udin dengan menepuk pundak laki laki itu.
Karena tidak ada jawaban pak Udin memeriksa denyut nadi nya, dan terperanjat ketika mengetahui jika laki laki itu sudah tiada, tangan nya begitu dingin dan tidak ada denyut nadi yang berdetak.
Pak Udin berteriak meminta tolong pada orang orang yang berada di kebun nya, lalu semua orang berdatangan menemui pak Udin yang sedang berdiri kaku didepan seorang laki laki yang sudah terbaring disana.
Nampak semua orang menatap heran melihat seorang laki laki yang terbaring disana, lalu pak Udin memberitau semua orang jika laki laki itu sudah meninggal dunia, tapi mereka semua tidak ada yang mengenali wajah nya.
"Apa kita harus menghubungi polisi". Seru anak pak Udin dengan wajah yang cemas.
"Kau panggilah pak Dahlan atau pak Eko, siapa tau mereka mengenali laki laki ini". Cetus pak Udin mengusap peluh di kening nya.
*
*
...Bersambung....