
"Ehm tidak sus, aku hanya asal bicara saja, permisi". Tukas Rania seraya berjalan pergi dari tempat itu.
Wuuussh...
Terasa angin dingin yang berhembus melewati Rania, nampak Rania mengaitkan kedua alis matanya karena yang biasa melesat dengan cara seperti itu hanyalah Petter sahabat hantunya.
Tolooong aku...
Terdengar suara perempuan lirih tapi cukup membuat bulu-bulu halus di badan Rania meremang.
Jangan dengarkan itu Rania, berjalanlah terus dan jangan perdulikan apapun, gumam Rania pada dirinya sendiri.
Kemudian Rania tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan koridor rumah sakit yang sangat panjang itu, sampai pada di sebuah lorong yang minim cahaya ada sosok perempuan yang berambut panjang sebahu tadi tengah berdiri mematung di pojokan lorong.
Astagfirullahaladzim, kenapa ada dia lagi sih, batin Rania didalam hatinya dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Kemudian Rania tetap melanjutkan langkahnya melewati perempuan itu, dan tidak disangka perempuan itu melesat ke hadapan Rania dan berteriak dihadapan wajah Rania.
Toloooong akuuu...
Pekik hantu perempuan itu membuat Rania berteriak histeris dengan menutupi kedua telinganya menggunakan tangan
"Tolong jangan ganggu aku, aku tidak mengenalmu, kenapa kau mengikutiku". Teriak Rania dengan berjongkok di lantai lorong itu.
"Huhuhu... Tolong aku, aku mohon padamu". Ucap hantu itu terisak.
Terlihat Rania yang sebelumnya ketakutan menjadi iba setelah mendengar tangisan hantu itu, lalu Rania memberanikan diri dan bertanya pada hantu itu.
"Baiklah katakan padaku, apa yang bisa ku bantu". Tukas Rania berdiri memandang hantu yang ada dihadapan nya.
"Namaku Ayu aku adalah korban pelecehan dan penyiksaan seorang lelaki hidung belang, aku meninggal dunia karena ulahnya, tolong ungkap misteri kematianku". Jelas hantu yang bernama Ayu.
"Bagaimana aku bisa membantumu, aku sama sekali tidak mengenalmu Ayu, lebih baik kau serahkan semua ini pada pihak rumah sakit, karena mereka pasti akan melakukan autopsi pada jenazahmu, dan semuanya pasti akan terungkap". Tukas Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Pihak rumah sakit hanya bisa mengungkap penyebab kematianku, tapi mereka tidak tau siapa yang melakukan kekerasan padaku". Pekik hantu Ayu dengan membulatkan kedua matanya.
"Maafkan Ayu, kasusmu ini sangat berat dan aku tidak berwenang untuk menyelidiki penyebab kematianmu, karena aku tidak mengenalmu mana mungkin pihak kepolisian mau mendengarku". Cetus Rania dengan mengusap peluh dikeningnya.
Plak plak plak...
Terdengar suara langkah kaki di lorong itu, seketika Rania menghentikan percakapan nya dengan hantu Ayu, ternyata ada rombongan suster yang akan berganti jam jaga dan melewati lorong itu.
"Adek mau kemana, aku perhatikan dari tadi hanya berdiri disini saja, apakah kau tersesat?". Tanya seorang perawat dengan senyum ramahnya.
"Ehm iya sus, aku lupa jalan ke arah ruang IGD dimana". Jawab Rania tidak berkata yang sebenarnya.
"Mari saya antarkan, memang lorong di rumah sakit ini sering menyesatkan pengunjung yang baru masuk kesini". Tukas perawat itu seraya berjalan mengantar Rania ke ruang IGD.
Tanpa Rania sadari hantu Ayu terus mengikutinya dari jarak yang jauh, sehingga Rania berpikir jika dia sudah tidak di ikuti lagi.
Setelah mengantar Rania sampai ke ruang IGD, perawat itu pun meninggalkan Rania disana.
"Kau darimana saja to nduk, apakah kau akan pergi ke tempat lain lagi". Ucap mbah Karto menatap tajam pada Rania.
"Tadia aku hanya berjalan-jalan di taman rumah sakit saja mbah". Ujar Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Kau kembali ke tempat ini bersama siapa nduk". Tukas mbah Karto seraya menepuk pundak Rania.
"Loh tadi kan mbah Karto lihat sendiri, aku di antar perawat rumah sakit ini mbah". Cetus Rania dengan mendongakan kepalanya menatap wajah laki-laki tua yang ada dihadapan nya.
"Bukan itu maksudku nduk, cobalah kau ingat kembali, siapa yang kau temui sebelum ini". Ucap mbah Karto dengan senyum ramahnya.
Setelah mendengar ucapan mbah Karto, nampak Rania mengkerutkan keningnya dan teringat dengan hantu perempuan yang bernama Ayu.
"Astagfirullahaladzim mbah, tadi aku bertemu dengan sesosok hantu perempuan yang baru saja meninggal dunia, dia meminta tolong padaku sampai membuatku ketakutan". Jelas Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Lalu apakah kau bersedia menolongnya, kenapa dia masih mengikutimu sampai ke tempat ini?". Tanya mbah Karto seraya memandang hantu Ayu yang berdiri mengambang tidak jauh dari sana.
"Aku bukan nya tidak mau menolong mbah, tapi kan aku tidak mengenalnya dan saat ini aku hanya ingin membantu mencari dimana Lala sebenarnya". Jawab Rania dengan mengerucutkan bibirnya.
"Nduk cah ayu, kau tau tidak kalau di dunia ini hanya beberapa orang saja yang memiliki kelebihan sepertimu, Alloh memberikanmu kelebihan itu supaya kau dapat membantu semua makhluk yang sedang membutuhkan pertolongan seperti Lala dan hantu perempuan itu, karena hantu perempuan itu telah meminta tolong padamu alangkah lebih baik jika kau mau membantunya, dengan begitu jiwa nya akan segera tenang dan kembali ke alamnya". Tegas mbah Karto memberi petuah pada Rania.
Nampak Rania menundukan kepalanya dan menghembuskan nafasnya panjang, Rania tercekat dengan penjelasan yang mbah Karto berikan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan mbah, aku kan tidak mungkin berkeliaran kemana-mana untuk mencari bukti siapa yang telah membuatnya meninggal seperti itu". Seru Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bukankah kau mempunyai sahabat yang tidak kasat mata, kenapa kau tidak meminta bantuan mereka seperti sebelumnya". Ujar mbah Karto seraya bangkit dari duduknya.
Ternyata pintu ruang IGD itu telah terbuka dokter pun keluar menghampiri Anto dan mengatakan tentang kondisi Ari yang masih belum sadarkan diri.
"Kita harus menunggu pasien tersadar, dan melihat reaksinya ketika berkomunikasi dengan mas Anto, jika pasien dapat mengenali anda sebagai adiknya, itu suatu keajaiban dari Tuhan, tapi jika pasien tidak mengenali mas Anto sebagai adiknya, sudah dipastikan pasien mengalami amnesia, dan membutuhkan waktu yang tidak bisa dipastikan untuk mengembalikan ingatan nya kembali, saya permisi dulu". Jelas dokter itu seraya berjalan meninggalkan Anto yang terpukul mendengar perkataan dokter itu.
"Sudahlah To kau kuatkan hatimu dulu, kita berdoa saja semoga Ari tidak hilang ingatan". Seru pak Sapri dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Mungkin ini sudah di takdirkan Alloh, jika Ari benar-benar mengalami amnesia mungkin dia juga tidak akan mengingat tentang istri gaibnya lagi, dengan begitu hidup Ari akan kembali seperti semula". Tukas mbah Karto dengan mendongakan kepalanya ke atas.
Dan setelah menunggu hampir satu jam di depan ruang IGD, perawat datang memberitau Anto jika Ari sudah siuman, dan hanya satu orang saja yang boleh masuk ke dalam.
Nampak mbah Karto meminta Anto untuk masuk terlebih dulu, dan memastikan bagaimana keadaan Ari saat ini.
Cekleek...
Anto membuka pintu ruangan yang tertutup dengan tirai kain berwarna hijau, dia berjalan gontai dengan jantung yang berdegup kencang.
Sreek...
Tangan Anto menyibak tirai kain yang menutupi brankar Ari, nampak di dalam sana ada Ari yang tengah tergeletak tak berdaya dengan perban yang membungkus bagian kepalanya.
"Mas Ari bagaimana keadaanmu?". Tanya Anto dengan wajah sendu.
Terlihat Ari hanya terdiam dengan menggelengkan kepalanya, mulutnya terbuka dengan suara yang terbata-bata, Anto mendekatkan telinga nya supaya dia dapat mendengar ucapan Ari tapi hanya terdengar suara hembusan nafas saja.
Lalu perawat pun mengatakan pada Anto, mungkin pasien masih belum sadar sepenuhnya, dan masih dalam pengaruh obat bius, sehingga pasien belum bisa di ajak berbicara.
*
*
...Bersambung....