DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Disesatkan penunggu hutan angker!!!


Setelah berjalan cukup jauh semua warga yang membopong jenazah pak Broto nampak kelelahan untuk melanjutkan perjalanan nya, akhirnya pak Budi bersama ketiga warga lain nya memilih untuk mengambil keranda mayat ke gudang masjid saja untuk membawa jenazah pak Broto kembali ke rumah nya.


Sedangkan pak Sapri bersama kedua warga yang tersisa berusaha menjaga jenazah pak Broto dari binatang buas lain nya yang bisa saja berkeliaran disana kapan saja, lalu akhirnya setelah berjalan terburu-buru pak Budi dan ketiga warga itu sampai di gudang masjid dan setelah membangunkan marbot yang ada di masjid itu mereka bisa langsung membawa keranda mayat itu ke tempat jenazah pak Broto di letakan.


Dengan berjalan tergesa-gesa melewati jalanan desa yang sedikit gelap karena penerangan yang terbatas pak Budi bersama warga lain nya datang dengan membawa keranda mayat, mereka bersama-sama memindahkan jenazah pak Broto ke dalam keranda mayat itu.


"Biarkan kami saja yang akan mengangkat keranda ini". Tukas pak Sapri mewakili.


"Kita angkat bersama saja pak, supaya lebih ringan dan cepat sampai ke rumah almarhum pak Broto". Seru pak Budi dengan mengusap peluh di kening nya.


Setelah itu semua warga bergotong royong memanggul keranda mayat itu melewati beberapa sawah dan perkebunan warga karena jarak yang harus ditempuh sangat jauh dengan berjalan kaki serta memanggul keranda mayat seperti itu.


*


*


Sesampainya mereka di depan rumah almarhum pak Broto, nampak mereka semua sedang berusaha mengatur nafas nya yang tersengal-sengal karena kelelahan.


Setelah itu pak Sapri berinisiatif untuk mengetuk pintu rumah almarhum rumah pak Broto.


Tok tok tok...


Pak Sapri berusaha mengetuk pintu rumah itu berkali-kali tapi nampaknya semua penghuni rumah sudah terlelap, dan pak Sapri tidak menyerah begitu saja dia meraih ponsel yang ada didalam saku nya dan dia melakukan panggilan telepon pada Edi anak laki-laki pak Broto.


Tut tut tut...


"Hallo ada apa pak". Sahut Edi diseberang telepon sana.


"Edi keluarlah saat ini kami semua sedang berada di depan rumahmu". Jelas pak Sapri dengan suara yang bergetar membuat perasaan Edi tidak enak dan dia menutup panggilan telepon itu.


Dengan berjalan tergesa-gesa Edi melangkahkan kaki nya ke depan pintu rumah nya.


Ceklek...


Nampak Edi sangat terkejut dengan kedatangan beberapa warga yang ada didepan rumahya, dan tanpa bertanya pada semua orang Edi berjalan gontai ketika melihat ada seseorang didalam keranda mayat yang ada dihadapan nya, mata Edi membulat sempurna ketika mengetahui orang yang ada didalam keranda itu adalah seorang laki-laki.


"Bapak... ". Pekik Edi dengan berderai air mata dan terduduk lemas di tanah begitu saja.


Terlihat semua orang berusaha menenangkan Edi yang sedang histeris karena melihat jenazah bapaknya, sedangkan semua penghuni rumah yang lain nya terbangun karena mendengar keributan yang terjadi didepan rumah mereka.


Nampak bu Broto berjalan tertatih ketika melihat anak laki-laki nya sedang menangisi seseorang yang ada didalam sebuah keranda mayat.


"Le kenapa kau menangis". Tanya bu Broto dengan menepuk pundak Edi dari belakang.


"Bapak bu... ". Seru Edi dengan mengarahkan jari telunjuknya ke keranda mayat yang ada di depan nya.


Lalu mata bu Broto memandang ke arah keranda mayat itu, terlihat wajah bu Broto memerah seketika ketika melihat jenazah suami nya yang ada disana, badan bu Broto lemas seketika dan dia jatuh pingsan begitu saja.


Kemudian beberapa warga membantu membopong bu Broto ke dalam rumah sementara warga yang lain nya membantu Edi untuk mengurusi jenazah bapaknya.


"Sebentar ya Ed, aku harus memanggil pak haji Faruk dan juga mbah Karto supaya mereka lekas kesini". Terang pak Sapri dengan wajah cemas nya.


Dengan perasaan yang tidak menentu akhirnya pak Budi menjelaskan semuanya pada Edi, jika bapaknya meninggal dunia karena dipatuk ular sanca jadi-jadian, karena sebelum kematian bapaknya, almarhum sedang membantu pak Dahlan dan pak Eko untuk menangkap seekor macan tutul yang berkeliaran di desa mereka.


Nampak Edi membulatkan kedua matanya karena tidak percaya dengan cerita yang pak Budi katakan, tapi semua warga yang ada disana mengatakan hal yang sama pada Edi jika bapaknya meninggal karena dipatuk ular jadi-jadian.


Dan tidak berselang lama pak Sapri datang bersama pak haji Faruk dan dia tidak mengajak mbah Karto karena beliau tidak ada di rumah nya malam itu.


*


*


Sementara Anto yang sedang mengantarkan pak Eko menuju Rumah sakit yang ada di kota mengalami sedikit kendala selama diperjalanan, karena mobil yang dia bawa hanya berputar-putar saja didekat hutan angker yang ada diperbatasan desa mereka.


Jangan-jangan ada makhluk halus yang menahan kami disini, batin Anto didalam hati nya.


Kemudian Anto berkata pada pak Dahlan jika sepertinya dari tadi mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama karena makhluk gaib yang sedang menyesatkan mereka.


Dan benar dugaan Anto tidak berselang lama ada sesosok hantu kuntilanak yang sedang beterbangan di atas mobilnya, terdengar suara tawa cekikikan khas hantu perempuan itu.


Hihihi...


Terdengar suara tawa nyaring kuntilanak itu membuat Anto dan juga pak Dahlan susah menelan ludah nya, sedangkan pak Eko yang sedang memejamkan mata nya karena menahan sakit di sekujur badan nya nampak ikut terkejut ketika mendengar suara tawa kuntilanak itu.


"To lebih baik kita baca ayat kursi saja supaya kuntilanak itu pergi dan tidak menyesatkan kita lagi". Seru pak Dahlan dengan mengusap peluh di kening nya.


Kemudian Anto menghentikan laju mobilnya dan dia bersama pak Dahlan membacakan ayat kursi dengan menengadahkan tangan nya ke atas seakan memohon perlindungan dari Allah.


"Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta'khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa'u 'inda Huu, illa bi idznih, ya'lamu maa bayna a maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min 'ilmi Hii illaa bi maa syaa', wa si'a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal 'aliyyul' adziiim". Seru Anto dan pak Dahlan bersamaan.


"Aaaa panaaas... ". Pekik kuntilanak itu dengan menutup kedua telinga nya menggunakan tangan nya.


Kemudian kuntilanak itu terbang menghilang di kegelapan malam setelah mendengar bacaan ayat kursi yang membuat nya begitu kepanasan.


"Alhamdulillah". Ucap Anto dan pak Dahlan bersamaan.


Sedangkan pak Eko yang dari tadi hanya terdiam dan menahan semua sakit yang dirasakan nya nampak meringis dengan memegangi belakang punggung yang terkoyak karena gigitan macan tutul tadi.


Lalu pak Dahlan berusaha memeriksa luka yang ada di punggung pak Eko, terlihat mata pak Dahlan membulat karena melihat luka pak Eko sudah infeksi karena mereka terlalu lama di perjalanan.


"Gawat To, luka di punggung kang Eko sepertinya infeksi dan membengkak kita harus secepatnya sampai ke Rumah sakit". Cetus pak Dahlan dengan mengusap peluh dikening nya.


"Baiklah pak, aku akan mencari jalan pintas supaya kita dapat segera sampai ke Rumah sakit terdekat". Seru Anto seraya mengemudikan mobilnya melintasi jalanan yang kurang penerangan dimalam hari.


Terlihat pak Dahlan sangat cemas melihat kondisi pak Eko, karena saat ini badan pak Eko sangat panas dan menggigil parah dengan deru nafas nya yang sangat kencang.


*


*


...Bersambung....