DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Kedok Bima terbongkar???


Hari berganti minggu Evana dan Jansen menemui mbah Karto di rumah mbah Sumi, tapi suasana di rumah itu sedang berduka karena kepergian mbah Sumi untuk selamanya.


Mbah Sumi semakin sakit setiap harinya karena memikirkan anak perempuan nya yang menghilang entah kemana, sampai akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan Kasmi, mbah Sumi berpesan pada Kasmi untuk membawa adiknya kembali, hanya itu kata-kata terakhir yang mbah Sumi katakan.


Evana dan Jansen yang ingin memberi kabar tentang Bima yang memiliki kebiasaan seperti mbah Wongso pun tidak dapat tersampaikan, karena mbah Karto sedang sibuk membantu mempersiapkan pemakaman untuk mbah Sumi.


Dan diluar sana nampak bude Walimah beserta Rania dan Wati datang untuk melayat, sedangkan Petter yang mengikuti Rania nampak melesat menghampiri kedua orang tua nya.


Evana memberitau Petter jika dia menaruh curiga pada laki-laki muda yang dulu sering mengobati Lala, kemudian Evana meminta Petter untuk selalu bersama Rania dimana saja, karena Evana tidak ingin jika Rania mengalami nasib yang sama seperti Lala.


Proses pemakaman mbah Sumi berlangsung singkat karena semua berjalan dengan lancar, kemudian satu persatu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman.


"Le si Bima itu tidak melayat, apa dia tidak mendengar kabar tentang kematian mertuamu". Ucap mbah Karto dengan mengkerutkan kening nya.


"Mungkin saja mbah, dia jarang bersosialisasi dengan warga, jika tidak ada yang sakit". Tukas pak Jarwo dengan mengusap peluh dikeningnya.


Kemudian Evana pun menghampiri mbah Karto dan pak Jarwo, nampak dia menceritakan semua kebiasaan Bima selama dia mengawasinya disana.


Terlihat mbah Karto mengaitkan kedua alis matanya, karena Evana mengatakan sesuatu yang mengagetkan nya, semua ritual yang dilalukan mbah Wongso dulu, kini Bima yang melakukan nya, dari mulai alat sesajen dan juga ritual sesembahan nya.


Kenapa dia melakukan ritual yang sama dengan Wongso, apa hubungan Bima dengan nya, apakah dia murid Wongso, batin mbah Karto didalam hatinya.


"Mbah Karto, lebih baik kita menyelidikinya sekarang juga, aku teringat pesan terakhir ibu mertuaku, jika memang Bima ada hubungan dengan hilangnya Lala, dia harus bertanggung jawab mbah". Cetus pak Jarwo dengan membulatkan kedua matanya.


Kemudian mbah Karto memutuskan untuk menemui Bima di pondokan nya, pak Jarwo meminta semua keluarga nya untuk kembali ke rumah, tapi Rania yang penasaran dengan ketidakhadiran Lala memutuskan untuk mengikuti mbah Karto diam-diam, Sementara Petter yang ditugaskan untuk selalu bersama Rania tidak menyadari jika teman nya sudah pergi meninggalkan nya bersama Wati.


Mbah Karto dan pak Jarwo berusaha mengetuk pintu pondokan Bima, tapi tidak ada seorangpun yang membuka pintu untuk mereka.


Rania yang bersembunyi dibalik pohon bertemu dengan Bima yang baru saja membeli dupa dari pasar, nampak Rania terkejut dan memundurkan badan nya.


"Kau tidak perlu takut padaku dek, aku warga sini yang dulu membantu Lala ketika dia sakit". Tegas Bima dengan seringai diwajahnya.


Nampak Rania mengkerutkan keningnya, dia berusaha mengingat siapa laki-laki yang sedang berdiri dihadapan nya.


"Eh iya sekarang aku ingat, mas ini yang pernah aku lihat di rumah Lala, apakah mas tau dimana Lala sekarang?". Tanya Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Ehm iya aku tau dimana Lala saat ini, baru saja aku akan memberitau semua keluarganya". Jawab Bima.


"Loh mas ini tidak tau jika mbah Sumi meninggal dunia tadi malam, pagi ini beliau baru saja dimakam kan, dan kami semua baru saja kembali dari makam". Terang Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Jadi Sumi sudah meninggal, lalu kenapa anak ini berada di dekat pondokku, batin Bima penuh tanya.


"Kami semua, apakah kau datang ke tempat ini bersama orang lain". Ucap Bima dengan mengkerutkan keningnya.


"Iya mas, aku bersama mbah Karto dan juga pak Jarwo, kami kesini untuk mencari Lala". Cetus Rania dengan senyum ramahnya.


"Kau pergilah ke ujung hutan ini, disana ada sebuah goa disamping air terjun, kau masuklah kesana dan berikan minuman ini untuk Lala, sementara aku akan mengambil ramuan obat dan memberitahu mbah Karto dan juga pak Jarwo jika aku sudah menemukan Lala, setelah itu kami akan bersama menjemput kalian di goa itu". Cetus Bima seraya memberikan sebotol air mineral pada Rania.


Terlihat Rania bergegas pergi ke ujung hutan itu dengan membawa sebotol air minum, Rania berharap dapat menemukan Lala disana, tanpa Rania tau dirinya sedang diperdaya oleh Bima.


Nampak Bima menyeringai penuh kepuasan, karena dia berhasil menipu Rania.


Dulu aku tidak bisa menumbalkanmu, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat, batin Bima seraya berjalan mengikuti Rania dari jauh.


Sementara mbah Karto yang kebingungan mencari Bima, berusaha menerawang lewat mata batin nya, dan disaat mbah Karto memejamkan kedua matanya, mbah Karto justru melihat Rania sedang berbicara dengan seseorang yang tidak dapat dilihat wajahnya melalui mata batin mbah Karto.


Kenapa bukan Bima yang aku lihat, lalu dengan siapa Rania berbicara, aku tidak bisa melihat jelas wajahnya, batin mbah Karto penuh tanya.


"Le sepertinya ada yang sedang mempermainkan kita kembali, baru saja aku melihat Rania melalui mata batinku, aku takut dia kenapa-kenapa mari kita satukan kekuatan untuk melihat siapa yang tadi berbicara dengan Rania, aku tidak ingin Rania mengalami nasib yang sama seperti Lala". Tegas mbah Karto dengan tatapan mata yang tajam.


Dan sebelum itu nampak mbah Karto memanggil ketiga hantu teman Rania, dan memerintahkan mereka untuk mencari Rania disekitar hutan itu.


"Maafkan aku mbah Karto, aku tidak becus menjaga Rania, karena diam-diam dia meninggalkanku bersama Wati". Ucap Petter dengan wajah pucat yang sendu.


"Ini bukan salahmu Petter, lekaslah pergi bersama kedua orang tuamu untuk mencari dimana keberadaan Rania saat ini, karena aku harus melakukan ritual dengan Jarwo untuk menyatukan kekuatan kami, supaya aku dapat menangkap seseorang yang menjadi dalang dibalik semua tragedi di desa ini". Cetus mbah Karto seraya pergi dari pondokan Bima.


Kemudian Petter dan kedua orang tuanya melesat ke seluruh penjuru hutan itu, mereka berpencar supaga lebih cepat menemukan Rania, sedangkan Petter yang seorang diri tidak sengaja bertemu dengan Bima, lalu Petter berusaha melesat menjauhi Bima.


"Kau mau kemana setan kecil, dulu kau mengacaukan rencanaku, dan sekarang kau datang menemuiku lagi, akan ku tangkap kau dan ku masukan ke dalam botol ajaibku". Seru Bima dengan seringai di wajahnya.


Apa maksud laki-laki ini, jangan-jangan dia memang mbah Wongso, tapi bagaimana mungkin, mbah Wongso sudah tua tapi laki-laki ini dia masih muda, batin Petter yang berusaha melesat menjauhi Bima.


Tapi terlambat bagi Petter untuk melarikan diri, karena Bima sudah membacakan ajian mantra dan memasukan jiwa nya ke dalam sebuah botol kayu dengan ukiran aksara jawa.


Wuuuushh...


Terlihat jiwa tanpa raga Petter tersedot masuk ke dalam botol kayu yang dipegang oleh Bima, dan dengan cepat Bima menutup botol itu dan kembali membacakan ajian mantra supaya Petter tidak bisa keluar dari sana.


*


*


...Bagi akak pembaca semuanya, yang merasa tidak suka dan tidak cocok dengan novelku mohon maaf, jika ceritaku tidak sesuai dengan keinginan kalian, tapi mohon tidak usah meninggalkan jejak komentar yang menyinggung, jika memang tidak suka dengan novelku silahkan berhenti untuk membaca jadilah manusia yang memanusiakan orang lain, mohon bijaklah dalam membaca, dan terima kasih untuk kalian semua yang selalu memberiku suport 😊🙏...


...Gomawo 💕...


...Bersambung....