DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Rencana jahat pak Sugeng.


Setelah pak Sugeng tersadar kedua hansip itu menatap wajah pak Sugeng yang masih terbaring di pinggir jalan.


"Apa yang sebenarnya terjadi pak, mana mungkin ada tukang todong di desa terpencil seperti ini". Seru pak Dahlan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Aku aku tidak berbohong pak, lihatlah bajuku sampai kotor seperti ini karena aku berusaha melawan tukang todong itu tapi aku malah jatuh tersungkur dan pingsan". Tukas pak Sugeng membohongi kedua hansip itu.


Nampak wajah heran dari pak Dahlan dan pak Eko selama mereka berdua menjalani profesi nya sebagai keamanan di desa itu, belum pernah ada kasus orang yang di todong disana.


Mereka berdua saling memandang dengan sesekali mengernyitkan dahi nya, berpikir keras siapa yang berani menodong di desa terpencil seperti ini.


Disaat pak Dahlan masih mencerna cerita pak Sugeng yang entah nyata atau tidak pak Eko berteriak padanya supaya mereka berdua membantu pak Sugeng kembali ke rumah menantu nya.


"Mari pak kami bantu ke rumah Ari, sepertinya badan bapak sangat lemas". Seru pak Eko yang sedang memapah pak Sugeng dengan susah payah.


Setelah beberapa menit akhirnya kedua hansip itu sampai juga di rumah Ari.


Tok tok tok...


Cekleek...


"Astaga bapak apa yang terjadi padamu". Pekik bu Ema memeluk suami nya yang sedang berdiri gontai.


"Anu bu tadi bapak ditodong di jalan". Ucap pak Dahlan memotong pembicaraan.


"Ya Tuhan pak, cobaan apa lagi yang Tuhan berikan pada kita hu hu hu". Ujar bu Ema berderai air mata.


"Aku tidak apa apa bu, tenanglah". Cetus pak Sugeng menenangkan istrinya yang sangat panik itu.


"Kau yakin tidak kenapa kenapa pam, apa ada yang sakit?". Tanya bu Ema dengan wajah cemas nya.


"Aku baik baik saja bu, untung ada kedua bapak ini yang menolongku, cepatlah bu buatkan minum untuk mereka". Pinta pak Sugeng yang duduk di bangku ruang tamu.


Kemudian bu Ema berjalan ke dapur untuk membuatkan kopi, terlihat pak Dahlan menatap curiga gerak gerik pak Sugeng yang bersikap aneh di depan nya.


Hidung pak Dahlan mencium aroma dupa yang pekat dari dalam rumah itu, mata nya mengarah ke sebuah ruangan yang tertutup rapat tapi mengeluarkan sedikit asap dari celah pintu nya.


"Pak apa dirumah ini sedang ada ritual tertentu". Ucap pak Dahlan mengagetkan pak Sugeng dengan mulut yang menganga.


"Ti ti tidak pak, memangnya ada apa?". Tanya pak Sugeng dengan nafas yang berderu kencang.


"Anu pak hidungku seperti mencium aroma dupa di rumah ini, dan lihatlah dari celah pintu itu keluar asap putih". Jawab pak Dahlan dengan mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah pintu yang ada di samping mereka.


"Oh itu hanya asap obat nyamuk bakar kok pak supaya tidak ada nyamuk didalam kamar". Cetus pak Sugeng dengan seringai kecil di wajah nya.


Lalu bu Ema datang menyuguhkan dua cangkir kopi dan juga beberapa makanan kecil untuk pak Dahlan dan juga pak Eko.


Kemudian pak Eko mulai membuka pembicaraan dengan menanyakan kondisi Ari yang sedang berobat di kota.


"Bagaimana kondisi Ari pak apakah sudah ada perkembangan". Seru pak Eko menatap wajah pak Sugeng yang sedang tegang.


"Doa kan saja pak semoga Ari lekas sembuh dan kembali seperti semula, kasihan dia pasti sangat terpukul dengan kepergian Rara sampai akal sehat nya hilang bersama kepergian istri nya". Tukas pak Sugeng dengan mata berkaca kaca.


"Tentu saja kami akan mendoakan yang terbaik untuk Ari pak". Ujar pak Eko dengan seringai kecil di wajah nya.


Lalu bu Ema membuka pembicaraan menanyakan tentang keseharian putri semaya wayang nya di desa itu, dan kedua hansip itu bergantian menceritakan kehidupan Rara sehari hari nya.


"Waktu itu bapaknya Ari meninggal dan sempat gentayangan menjadi poling pak". Seru pak Eko bercerita pada kedua orang tua Rara.


"Hah poling itu apa pak?". Tanya bu Ema dengan mengernyitkan dahi nya.


"Itu lho bu poling pocong keliling". Jawab pak Eko dengan memandang ke segala arah.


"Lalu apa yang terjadi setelah itu pak". Bu Ema penasaran dengan cerita pak Eko.


"Suami bu Ani di ludahi oleh pocong pak Kasmuri sampai buta bu, dan dia tidak terima dan mengancam akan membalas dendam, tapi sewaktu di pemakaman disaat semua warga melepas tali pocong pak Kasmuri, Rara marah mendengar ucapan bu Ani dan menamparnya di hadapan banyak warga". Jelas pak Eko dengan sesekali meminum kopi nya.


Nampak pak Dahlan berusaha menghentikan pembicaraan pak Eko, tapi dia tidak menghiraukan nya.


Kemudian bu Ema mengambil kesimpulan jika bu Ani dendam pada keluarga bu Jamilah dan berbuat jahat pada keluarga itu.


"Jangan jangan besanku dan putri semata wayangku meninggal karena pembalasan dendam perempuan itu". Pekik bu Ema dengan suara parau karena air mata sudah membasahi wajahnya.


"Kalau itu saya tidak tau bu". Ucap pak Eko dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


Karena suasan di rumah itu sudah tidak nyaman lagi kedua hansip itu memilih untuk pamit dan melanjutkan patroli nya.


Nampak pak Dahlan sangat kesal pada pak Eko yang tidak bisa menjaga ucapan nya.


"Kang seharusnya kau tidak usah mencetitakan semua itu pada mereka, aku hawatir jika dendam di antara kedua keluarga itu terus berlanjut". Cetus pak Dahlan dengan wajah yang cemas.


"Memang apa salahku Lan, aku hanya berkata apa adanya". Gerutu pak Eko dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Apa kau tidak lihat suasana di rumah itu bau bunga dan dupa sangat pekat disana, tapi pak Sugeng berbohong pada kita dengan mengatakan jika itu adalah asap obat nyamuk bakar, apa dia kira aku tidak bisa membedakan aroma dupa dan obat nyamuk bakar". Seru pak Dahlan seraya berjalan kembali ke pos kampling.


"Sebenarnya aku juga mencium aroma dupa disana tapi aku sibuk meminun kopi hitam itu dan mengabaikan aroma dupa yang tercium oleh hidungku". Tukas pak Eko dengan seringai kecil di wajah nya.


Samar samar mata pak Dahlan melihat seseorang dengan pakaian berwarna putih sedang mengawasi mereka di pos kampling itu, dan hidung nya mulai mencium aroma busuk dan juga anyir darah di sekitarnya.


"Kang apa kau mencium bau busuk apa ini?". Tanya pak Dahlan pada pak Eko yang sedang merebahkan tubuh nya di pos kampling itu.


"Wah iya Lan aku mencium nya, siapa yang buang bangkai tikus disini ya". Jawab pak Eko dengan menutup hidung nya menggunakan tangan.


"Sepertinya aroma ini baru saja tercium di hidungku". Cetus pak Dahlan seraya berjalan disekitar pos kampling itu mencari asal bau busuk itu berada.


Kemudian pak Dahlan berdiri terpaku dengan kaki yang gemetar melihat sesosok hantu perempuan dengan punggung yang berlubang sedang menatap nanar ke arah nya.


Tenggorokan pak Dahlan serasa kering dia tidak bisa berteriak ataupun berlari dari tempatnya berdiri, matanya terbelalak menatap sund.l bo..ng yang ada di depan nya.


Dengan susah payah pak Dahlan melangkahkan kaki nya menjauh dari hantu perempuan itu, dia mengajak pak Eko untuk pergi dari pos kampling sekarang juga tapi pak Eko justru mengabaikan ajakan teman satu profesi nya itu.


Pak Eko masih berbaring disana dengan bersenandung tanpa tau jika ada makhluk lain yang sedang menatap pada dirinya yang tengah terlena dengan suara lagu radio mini yang sedang memutar lagu raja dangdut indonesia.


*


*


...Bersambung....