DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Mayat dalam sumur tua.


Beberapa jam setelah nya badai mulai mereda kedua hansip itu memutuskan untuk berpatroli.


"Lan kenapa suasana malam ini berbeda dengan malam malam sebelum nya ya". Ucap pak Eko dengan mengusap belakang tengkuk nya.


"Mungkin karena udara nya semakin dingin kang setelah hujan". Ujar pak Dahlan yang berusaha mengubur rasa takut pak Eko.


"Apa iya Lan, aku hawatir jika ada kejadian buruk lagi". Nampak mata pak Eko memandangi segala arah.


Lalu kedua mata nya tertuju ke arah rumah bu Ani yang pintu depan nya terbuka dengan lebar, tangan pak Eko menarik lengan pak Dahlan yang sudah berjalan mendahului nya.


"Tunggu dulu Lan". Seru pak Eko dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


"Ada apa to kang". Tanya pak Dahlan yang membalikan badan nya.


"Lihatlah pintu rumah bu Ani terbuka lebar malam malam begini, jangan jangan dia sedang membutuhkan bantuan". Jawab pak Eko dengan wajah cemas nya.


"Hmm... Tumben sekali bu Ani membuka pintu larut malam begini, mari kita lihat kang". Ajak pak Dahlan seraya berjalan melangkahkan kaki nya.


Sesampainya kedua hansip itu didepan rumah bu Ani, mereka mengetuk pintu berulang kali tapi tidak ada seorang pun yang menjawab.


Karena mereka hawatir, keduanya memasuki rumah bu Ani bersamaan dan mereka terkejut melihat keadaan ruang tamu bu Ani yang berantakan seperti ada orang yang mengacak ngacak ruang tamu itu.


"Wah Lan jangan jangan ada maling ini". Seru pak Eko yang bersiap dengan pentungan nya.


"Bisa jadi kang". Tukas pak Dahlan yang berjalan berjinjit di area rumah bu Ani.


Lalu pak Eko memeriksa dapur dan kamar yang ada disana tapi dia tidak dapat menemukan keberadaan bu Ani atau pun maling yang dia cari, sementara pak Dahlan berkeliling di luar rumah dan menyorotkan senter ke kebun disekitar rumah bu Ani.


"Lan apa kau melihat sesuatu". Seru pak Eko yang berjalan dari dalam rumah.


"Aku tidak dapat menemukan apapun kang, dimana bu Ani?". Tanya pak Dahlan dengan mengernyitkan dahi nya.


"Aku tidak dapat menemukan bu Ani ataupun maling yang kita cari". Jawab pak Eko dengan wajah yang semakin cemas.


Kemudian mereka berdua berpencar untuk mencari keberadaan bu Ani, tapi kedua hansip itu terkejut karena mendengar suara tawa hantu perempuan yang kemarin malam menakuti nya.


Badan kedua hansip itu bergetar ketakutan karena bau busuk dari hantu itu seakan mendekat ke arah mereka dan benar saja.


Sund.l bo.ong itu sedang berada di atas mereka melemparinya dengan belatung yang keluar dari lubang punggung nya.


Plaaks...


Setelah itu pak Eko mulai kehilangan kesadaran nya kembali dan pingsan disana, sementara pak Dahlan muntah muntah melihat belatung yang menempel di wajah pak Eko.


Hueeks hueeks...


Hihihihi....


Cekikikan sund.l bo.ong itu membuat bulu kuduk pak Dahlan semakin meremang karena kini hantu perempuan itu terbang mendekat ke arah nya.


Secara tidak sadar mulut pak Dahlan membaca ayat ayat suci dengan mata yang terpejam dan juga badan gemetaran, seketika sund.l bo.ong itu terpental ketika mendekat ke arah nya.


"Aaaaa... panaaas" Pekik hantu perempuan itu yang langsung terbang tinggi menghilang di kegelapan malam.


Kemudian pak Dahlan mulai membuka kedua mata nya setelah tawa hantu itu tidak terdengar, dia mendekati pak Eko yang terbaring di tanah.


"Kang bangun kang". Seru pak Eko seraya menepuk lengan pak Eko dengan satu tangan lain menutup hidung nya.


Kemudian pak Eko terbangun dan memuntahkan isi perut nya karena aroma busuk yang menempel pada wajah nya.


Lalu pak Dahlan membantu pak Eko berdiri untuk mencuci wajah nya di sumur tua yang ada di dekat nya.


Byuur...


Terdengar suara ember sudah terjatuh di dasar sumur dan pak Dahlan berusaha menarik ember itu kembali ke atas.


"Loh kang kok rasa nya berat sekali ya, seperti bukan air yang aku tarik ke atas". Tungkas pak Dahlan dengan wajah meringis karena keberatan.


Lalu pak Eko menyorotkan cahaya lampu dari senter yang dia bawa ke dalam sumur tua itu, kedua nya terkejut melihat ada tangan yang menyangkut di ember air itu.


"Kang tangan siapa itu". Seru pak Dahlan dengan membulatkan kedua mata nya.


Tanpa menjawab pak Eko berusaha menyenteri wajah seseorang yang berada didalam sumur tua itu, tapi mereka hanya bisa melihat rambut yang terjuntai panjang sehingga mereka berdua bisa memastikan jika yang berada didalam sana adalah seorang perempuan.


*


*


...Bersambung....