
Terlihat mbah Wongso bersimpuh dibawah kaki buto ireng itu dan hanya sekejap mata saja, buto ireng sudah menghilang bersamaan dengan kepulan asap yang memenuhi gubuk tua tempat dimana Lala direnggut paksa kehormatan nya.
Aku harus membuat rencana baru, karena sekarang tubuhku sudah menjadi lebih muda, batin mbah Wongso didalam hatinya.
Setelah itu mbah Wongso membawa Lala keluar dari dalam gubuk tua itu meletakan nya di pinggir jalan desa dengan keadaan yang tidak karuan, Lala hanya terdiam dengan sesekali mengerang kesakitan karena miliknya yang terluka setelah pemaksaan tadi.
Mbah Wongso yang telah menjadi muda kembali membuat identitas baru sebagai Bima anak dari mbah Wongso yang baru saja datang dari kota untuk menjenguk bapaknya yang sedang kurang sehat, nampak dia menghampiri bapak-bapak yang sedang berbincang di warung kopi.
"Permisi pak saya mau tanya, kalau mau ke pondokan mbah Wongso lewat mana ya?". Tanya Bima seorang laki-laki tampan dan gagah pada bapak-bapak yang ada di warung kopi.
"Kok tengah malam sekali mau bertamu to mas, memang ada perlu apa". Jawab pak Sukir dengan mengaitkan kedua alis mata nya heran.
"Ehm saya bukan mau bertamu pak, saya ini anaknya mbah Wongso, perkenalkan nama saya Bima, saya baru saja menyelesaikan kuliah di kota dan ingin menjenguk bapak saya yang sekarang pindah ke desa ini". Jelas Bima seraya mengulurkan tangan nya untuk berkenalan.
"Oalah mas ini anaknya mbah Wongso to, mari mas saya antarkan saja biar tidak nyasar". Tukas pak Sukir seraya bangkit dari duduknya.
Kemudian mereka berdua berjalan menyusuri jalanan desa yang temaram di malam hari dan samar-samar pak Sukir melihat seorang perempuan yang sedang tergeletak di tanah dengan suara merintih yang membuat bulu-bulu halus dibadan nya meremang.
"Sebentar mas, itu sepertinya ada orang yang tergeletak disana, kok suaranya merintih gitu ya, jangan-jangan dia sedang terluka dan butuh pertolongan".Seru pak Sukir dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah perempuan yang sedang tergeletak itu.
Aku sengaja meletakan gadis itu disana, supaya warga lebih mudah menemukan nya dan membawanya kembali ke rumah Sumi, karena bagaimanapun gadis ini bisa saja hamil keturunan Ki Ageng Sedo dan aku tidak mungkin menelantarkan nya begitu saja, batin mbah Wongso yang sedang menyamar menjadi Bima.
Setelah itu pak Sukir bersama Bima berjalan mendekati seseorang yang sedang tergeletak itu, pak Sukir membalikan tubuh perempuan itu, nampak pak Sukir sangat terkejut setelah melihat wajah perempuan itu.
"Astagfirullah nduk Lala, kau sedang apa disini dan apa yang terjadi padamu". Seru pak Sukir dengan membulatkan kedua matanya.
Terlihat Lala hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan pak Sukir, dengan sesekali dia terdengar merintih kesakitan.
"Mas Bima bisa tolong saya dulu untuk membawa Lala ke rumahnya, kasihan dia sepertinya sedang sakit". Tukas pak Sukir dengan wajah cemas.
"Oh iya pak, mari saya bantu". Sahut Bima seraya memapah Lala bersama pak Sukir.
Disepanjang perjalanan Lala hanya terdiam dengan tatapan mata yang kosong, hanya terdengar suara rintihan dari mulutnya, pak Sukir yang kebingungan berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada Lala.
Sesampainya di rumah mbah Sumi pak Sukir pun mengetuk pintu rumah itu berkali-kali, karena tidak ada yang menjawab salamnya sedari tadi.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum, pak bu ini saya Sukir". Ucap pak Sukir seraya mengetuk pintu rumah itu.
"Waalaikumsalam, sebentar pak". Sahut Kasmi yang terbangun dari tidur nya.
Lalu istri pak Jarwo itu nampak berjalan keluar kamar untuk membuka pintu rumahnya.
Cekleek...
Setelah membuka pintu rumahnya nampak Kasmi sangat terkejut melihat adik perempuan nya yang sedang dipapah oleh pak Sukir dengan keadaan yang kacau.
"Astagfirullah Lala, kau kenapa nduk". Seru Kasmi dengan berderai air mata.
"Saya dan mas Bima mememukan Lala tergeletak di jalan pinggir hutan sana Kas, tidak tau apa yang terjadi dengan nya, makanya kami membawa Lala pulang karena sepertinya dia sedang sakit". Cetus pak Sukir menjelaskan pada Kasmi.
Mbah Sumi yang mendengar Kasmi menangis akhirnya bergegas keluar dari kamarnya bersama suami nya, kedua orang tua itupun terkejut ketika melihat anak gadisnya sedang terduduk dengan merintih kesakitan.
"Ya Allah gusti nduk, kau kenapa". Pekik mbah Sumi berderai air mata seraya memeluk tubuh Lala yang terasa dingin.
Terlihat mbah Sumi dan suaminya sangat terkejut melihat Lala seperti orang yang kehilangan kesadaran nya, padahal menurut mereka semua tadi malam setelah acara pengajian di rumahnya selesai, Lala langsung mashk ke kamar dan tidur karena pagi nya dia akan berangkat ke sekolah.
"Saya juga tidak tau mbah, tadi saya bersama mas Bima sudah menemukan Lala dengan keadaan yang seperti ini". Jelas pak Sukir dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tolong Kir panggilkan mbah Wongso, supaya beliau dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan Lala". Perintah mbah Sumi dengan terisak.
"Ehm maaf pak bu, tapi bapak saya sedang tidak sehat dam beliau harus istirahat dulu, jika berkenan biarkan saya yang membantu menggantikan bapak saya untuk menerawang kejadian di balik semua ini". Cetus Bima pada semua orang yang ada disana.
"Anu mbah Sum saya lupa memperkenalkan, ini mas Bima anaknya mbah Wongso yang baru datang dari kota, tadi saya bertemu di warung kopi dan ingin mengantarkan nya ke pondokan mbah Wongso, tapi saat ditengah perjalanan kami malah menemukan Lala yang sedang tergeletak di jalan, akhirnya mas Bima ini malah membantu saya untuk membawa Lala pulang". Tukas pak Sukir dengan mengkerutkan kening nya.
"Baiklah mas jika memang mas Bima bisa membantu, tolong dilihat apa yang sebenarnya terjadi dengan anakku Lala". Ujar mbah Sumi yang masih terisak dengan memeluk Lala yang masih terdiam.
Siapa laki-laki ini sebenarnya, kenapa aku merasa ada yang janggal dengan kedatangan nya ke desa ini bersamaan dengan Lala yang tiba-tiba seperti orang yang tidak waras, batin Kasmi didalam hatinya.
"Pak simbok aku akan menelepon kangmas Jarwo dan memintanya segera kesini untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi". Seru Kasmi seraya menghubungi suaminya lewat panggilan telepon.
Tapi setelah Kasmi berusaha menghubungi suaminya, panggilan itu tetap tidak tersambung juga, karena sebenarnya pak Jarwo dan mbah Karto sedang melakukan ritual untuk membawa Ari dari dimenai gaib sehingga ponsel pak Jarwo mati karena kehabisan batrei.
"Bagaimana nduk suamimu bisa kesini kapan?". Tanya mbah Sumi dengan wajah cemas.
"Maaf mbok telepon nya tidak bisa tersambung". Jawab Kasmi dengan mengkerutkan kening nya.
"Ya sudah biar mas Bima saja yang membantu, karena mbah Wongso nya juga sedang tidak sehat". Tukas suami mbah Sumi dengan wajah sendu.
Setelah itu Bima meminta Kasmi untuk menyiapkan baskom berisi air bunga tujuh rupa dan juga dupa supaya dia bisa mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada Lala, kemudian Bima duduk bersila didepan nya dengan membaca rapalan mantra, dia memperlihatkan suatu kejadian sewaktu Lala di nodai oleh sesosok buto ireng.
Aku sengaja membiarkan mereka semua melihat kejadian ini, supaya kelak jika gadis ini hamil, mereka semua tidak ada yang berani menggugurkan kandungan nya, batin Bima didalam hatinya.
Terlihat mereka semua sangat terkejut setelah melihat gambaran yang ada didalam air baskom itu, nampak mbah Sumi pingsan dipelukan suaminya setelah mengetahui anak gadisnya dinodai oleh makhluk gaib.
"Astagfirullah nduk hu hu hu". Ucap Kasmi berderai air mata seraya memeluk Lala yang kehilangan kesadaran nya.
Terlihat Bima sedang melakukan ritual semacam pembersihan di badan Lala, lalu Bima bersama pak Sukir memindahkan Lala ke dalam kamarnya supaya dia dapat istirahat sebelum proses pengobatan yang akan dilakukan Bima.
Sedangkan Kasmi yang masih terguncang jiwa nya hanya bisa terduduk lemas di lantai ruang tamu nya.
Aku harus segera menyusul kangmas Jarwo ke desa Rawa belatung dan membawanya kesini, aku tidak terima jika adikku menjadi seperti ini, batin Kasmi didalam hatinya.
*
*
...Bersambung....
...Yuk kak berikan dukungan pada Author dengan memberikan Vote atau hadiahnya, karena dengan dukungan yang kalian berikan akan membuatku semakin semangat dalam melanjutkan cerita ini, terima kasih sudah selalu setia membaca novelku, salam sayang untuk kalian semua, sehat selalu ya 😇💕...