DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Rara berubah wujud menyeramkan.


Hari berganti minggu tanpa terasa sudah hampir satu minggu bu Siti dikurung didalam gudang rumah Ari, dan membuat suami dan anak bu Siti kebingungan mencari nya.


Kemudian bude Walimah diminta simbah Parti untuk menjemput mbah Karto yang baru saja pulang dari kota.


"Nduk jemputlah mbah Karto di rumah nya dan bawa beliau ke rumah kita". Perintah simbah Parti dengan wajah cemas nya.


*


*


Setelah menjemput mbah Karto dan membawa nya ke rumah, simbah menceritakan semua kecurigaan nya pada mbah Karto jika bu Siti menghilang mungkin saja ada hubungan nya dengan Rara yang menjelma kembali menjadi manusia.


Terlihat wajah mbah Karto berubah sangat panik ketika mendengar cerita simbah Parti, dia tidak menyangka baru satu bulan meninggalkan desa Rawa belatung tapi sudah ada hal besar yang terjadi disana.


Kemudian mbah Karto memutuskan untuk secepatnya ke rumah Ari dan mencari tau kebenaran cerita simbah Rania itu.


Dengan langkah gontai mbah Karto berjalan menuju ke rumah Ari yang tertutup rapat pada siang hari.


Tok tok tok...


Terdengar suara ketukan pintu beberapa kali, tapi tidak ada seorang pun yang membuka kan pintu.


Kemana mereka pergi, kenapa tidak ada yang keluar juga, batin mbah Karto didalam hati nya.


Kemudian mbah Karto berjalan menyusuri rumah Ari dari depan ke belakang, dan sampailah pada sebuah tembok di belakang rumah Ari terdengar suara bu Ema sedang berbicara pada seseorang dengan nada marah.


Tapi mbah Karto tetap berdiam diri mendengarkan ucapan bu Ema yang kurang jelas ketika mbah Karto berusaha mencerna kata kata nya.


Kemudian nampak Evana dan Petter datang ke arah mbah Karto dan memberi isyarat jika mereka berdua akan menembus tembok itu untuk melihat ada apa sebenarnya didalam sana.


Wush...


Keduanya menembus tembok rumah Ari begitu saja, dan melihat didalam gudang itu ada bu Siti yang sudah terikat tangan dan kaki nya sedangkan mulut nya di sumpal menggunakan kain.


Sedangkan Rara yang merasakan kehadiran makhluk halus didalam sana berteriak histeris memaki Evana dan Petter yang dengan lancang memasuki kediaman nya.


"Bu ada makhluk lain disini, pasti mereka ingin menyelamatkan perempuan itu". Seru Rara dengan membulatkan kedua mata nya.


"Hai kalian para hantu, tunjukanlah wujudmu padaku jika kalian berani". Gertak Rara memandang ke segala arah.


Sementara Petter yang ingin menampakan wujudnya dicegah oleh mama nya, karena tujuan mereka hanya untuk memberikan informasi pada mbah Karto dan dengan cepat Evana mengajak anaknya Petter untuk pergi dari sana dan menemui mbah Karto yang sedang menunggu mereka.


Kemudian Evana dan Petter keluar dari dalam gudang itu dan menemui mbah Karto, keduanya mengatakan jika bu Siti dikurung didalam gudang oleh bu Ema dan juga Rara yang sudah menjelma menjadi manusia.


"Baiklah kalian kembalilah ke rumah simbah Rania, biar aku saja yang akan menyelesaikan kekacauan ini". Tukas mbah Karto seraya berjalan meninggalkan rumah Ari.


Dimalam hari nya nampak mbah Karto sudah berada di ruangan khusus nya, mbah Karto sudah menyiapkan sesajen dan juga dupa untuk memanggil arwah Rara yang kini sudah menjelma menjadi manusia.


Dengan rapalan mantra dan juga asap dupa yang mengepul memenuhi ruangan itu, mbah Karto menaburkan sejumput tanah ke arah dupa yang sedang dia bakar itu.


Whut...


Api yang membakar dupa itu semakin kencang dan membuat kepulan asap semakin banyak, ternyata mbah Karto telah membangkitkan jiwa Rara yang sudah menyatu dengan raga nya untuk segera datang menemui nya.


"Sayang kau kenapa jadi seperti ini". Seru Ari memegangi pundak Rara yang sedang meraung tidak karuan.


Dan tanpa Ari sadari darah segar keluar dari atas ubun-ubun kepala Rara, membasahi seluruh wajah cantiknya yang kini nampak menyeramkan.


Kepanikan semakin terasa disaat Ari berteriak minta tolong, dan membuat Anto dan juga bu Ema terbangun dan berlari ke arah kamar nya.


Mereka berdua terbelalak melihat sesosok perempuan dengan wujud yang mengerikan berada didekat Ari.


"Astaga mas siapa perempuan menakutkan itu". Pekik Anto dengan membulatkan kedua mata nya.


Sedangkan bu Ema yang mengetahui jika perempuan yang dimaksud Anto itu adalah Rara anak perempuan nya, hanya bisa berdiri kaku dengan berderai air mata.


Jiwa keibuan nya hancur ketika melihat anak semata wayang nya berubah wujud menjadi sosok yang mengerikan.


Wush...


Rara telah berubah menjadi hantu sund.l bo.ong dan terbang menuju ke rumah mbah Karto yang sedang memanggil nya.


...🍃 Flashback on 🍃...


Setelah kembali dari rumah Ari mbah Karto berjalan menuju ke tempat pemakaman untuk mengambil tanah kuburan di makam Rara, karena hanya itu satu-satu nya cara supaya mbah Karto dapat memanggil arwah Rara untuk kembali lagi ke alam nya dan tidak berlama lama di alam manusia lagi.


Karena semakin lama jiwa Rara menjelma menjadi manusia, dia akan semakin menambah dosa nya dan jika Rara tidak mematuhi perintah mbah Karto untuk kembali ke alam nya, mbah Karto terpaksa harus memusnahkan jiwa Rara dan selamanya dia akan menjadi arwah penasaran dan berada di antara dua alam tanpa bisa kembali ke alam keabadian selama nya.


...🍃 Flashback off 🍃...


Sesampainya Rara di rumah mbah Karto, terlihat dia sangat marah dan akan mencelakai istri mbah Karto yang baru saja kembali dari rumah sakit.


"Pak tolong ibu pak, ada setan". Seru istri mbah Karto dari dalam kamarnya.


Kemudian mbah Karto keluar dari ruangan khususnya dan menghampiri istrinya yang berada didalam kamar, terlihat mbah Karto sangat marah karena Rara berusaha mencelakai istrinya.


"Nduk Rara manuto karo aku, ojo sampe awakmu gawe cilokone simbah putri kui (nak Rara, ikutilah omonganku, jangan sampai kau mencelakai simbah putri itu)". Ucap mbah Karto dengan suara beratnya.


Dan tanpa menuruti perintah mbah Karto, hantu sund.l bo.ong Rara menghempaskan tubuh perempuan itu ke tanah begitu saja, membuat tubuh istri mbah Karto tidak sadarkan diri karena kepalanya membentur tiang kayu yang ada disana.


"Wes nduk awakmu rak iso tak tuturi apik-apik ojo sampe koe tak musnahke seko ndunyo iki (sudah nak dirimu tidak bisa aku beri tau baik-baik jangan sampai aku memusnahkanmu dari dunia ini)". Seru mbah Karto dengan membaca rapalan mantra.


Kemudian angin kencang berhembus di seluruh penjuru desa Rawa belatung petir tiba tiba menyambar dengan kencang nya menandakan badai besar akan terjadi malam itu, nampak pak Dahlan dan pak Eko yang sedang berjaga di pos kampling bergidik ketakutan karena tiba-tiba saja suasana di desa itu berubah secara misterius.


"Kang perasaanku jadi tidak enak begini, sepertinya ada hal besar yang terjadi saat ini". Ucap pak Dahlan dengan mengusap tengkuk nya yang meremang.


"Sama Lan aku juga merasakan firasat yang buruk malam ini". Tukas pak Eko seraya menutup pintu dan jendela yang ada di pos kampling.


Sementara diluar pos kampling nampak Ari yang sedang berlari tergesa gesa ditengah hujan dengan memanggil nama Rara berulang kali, membuat pak Dahlan dan pak Eko saling memandang dan berpikir jika penyakit gangguan jiwa Ari kembali lagi.


*


*


...Bersambung....