DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Penemuan mayat di perkebunan.


Sementara itu di desa Aceng banyak warga yang terkejut, melihat tanda telapak tangan dengan warna merah, yang tertinggal di setiap batang pohon rambutan.


"Ini seperti tanda dari telapak tangan seseorang ya, siapa yang meninggalkan tanda telapak tangan ini, dengan warna merah disetiap batang pohon ya". Tukas seorang perempuan yang pertama kali melihat tanda itu.


Kemudian Aceng bersama pak Kardi datang menghampiri keramaian yang ada di kebun itu.


"Assalamuallaikum, ada apa ini ramai-ramai disini". Ucap pak Kardi yang kebetulan adalah pemilik kebun rambutan itu.


"Waalaikumsallam pak, ini loh ada yang mencurigakan pak". Sahut perempuan yang bernama Astuti.


"Ada apa to As, kalian pagi-pagi sudah berkerumun disini". Tukas pak Kardi seraya berjalan menghampiri kerumunan itu.


Lalu pak Kardi dan Aceng berjongkok, seraya memperhatikan tanda merah yang ada di batang pohon rambutan itu, nampak mereka mengkerutkan keningnya dan menatap heran tanda telapak tangan yang tertinggal disana.


"Mungkin ini perbuatan bocah iseng saja, kalian tidak perlu hawatir begitu". Jelas pak Kardi yang bangkit berdiri.


"Bocah iseng bagaimana pak, ini lho hampir disetiap pohon ada tanda yang sama, dan tidak jauh dari tanda merah ini seperti ada gundukan tanah yang baru saja di gali". Tukas suami Astuti.


Jangan-jangan semua ini ada hubungan nya, dengan darah yang berceceran di sumur pagi tadi, batin Aceng dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kang ada yang ingin ku bicarakan sebentar". Ucap Aceng seraya berjalan menjauhi keramaian warga.


"Tadi pagi kan aku sempat bercerita padamu, jika aku dan istriku melihat darah yang berceceran di sekitar sumur dan juga di jalan setapak, tapi setelah kami kembali dari mushola, ceceran darah itu sudah hilang semua, dan tiba-tiba saja kang Kardi memperkenalkanku dengan pak Rahmat, katanya dia penjual bakso yang akan memborong sayur sawi, menurutku aneh saja kang, untuk apa dia memborong sayur sawi begitu banyak, sampai dia harus datang ke perkebunan ini, kalau cuma untuk pelengkap bakso kan tidak membutuhkan sayur yang banyak, jangan-jangan itu hanya alibi nya saja, atau mungkin dia melakukan tindakan kriminal disini, karena aku sempat melihat noda darah di lengan baju pak Rahmat". Tegas Aceng dengan mengkerutkan keningnya.


"Entahlah Ceng, aku juga tidak kenal dengan pak Rahmat itu, karena aku bertemu dengan nya juga di kebun sayuran, waktu itu aku bersama warga yang lain nya baru selesai subuhan di mushola, pas perjalanan pulang aku melihat pak Rahmat sedang celingukan seperti orang bingung, makanya aku bertanya padanya, apa yang dia lakukan di kebun ini, lalu dia hanya menjawab ingin memborong sayuran, karena itu lah aku mengajaknya pulang ke rumah dan meneleponmu supaya lekas darang ke rumahku". Seru pak Kardi dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Kenapa aku semakin mencurigai pak Rahmat yo kang, bagaimana kalau kita membongkar gundukan tanah itu". Tukas Aceng menatap tajam pada pak Kardi.


Nampak pak Kardi memijat pangkal hidungnya, dia berusaha mencerna keadaan yang terjadi saat itu, dengan menghembuskan nafasnya panjang, pak Kardi menyetujui ucapan Aceng untuk membongkar gundukan tanah yang dimaksud Astuti.


Lalu pak Kardi meminta pada beberapa warga, untuk membantu menggali gundukan tanah yang mencurigakan itu, dengan sigap beberapa laki-laki warga perkebunan itu mencangkul gundukan tanah yang masih baru itu.


Dan setelah mereka berhasil menggali, nampak mereka semua terkejut melihat sesosok mayat ada didalam tanah itu.


Astagfirullohaladzim, seru semua orang yang ada disana.


"Ya Alloh gusti pak, siapa yang tega menguburkan mayat disini". Pekik Astuti dengan wajah pucat ketakutan.


"Ceng kau pergilah ke rumah pak kades, supaya beliau melihat sendiri dan melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib". Perintah pak Kardi pada Aceng.


Terlihat Aceng bergegas ke kantor kades dan melaporkan penemuan mayat di perkebunan.


"Waalaikumsallam Ceng, ada apa kau tersengal-sengal begitu". Sahut pak kades dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Lalu pak kades meminta sekdes untuk membawakan segelas air untuk Aceng, karena Aceng terlihat sangat panik dan nafasnya berderu sangat kencang, tidak lama setelah itu sekdes pun datang membawakan segelas minuman untuk Aceng.


"Ayo Ceng diminum dulu supaya kau sedikit lega, setelah itu baru kau ceritakan maksud tujuanmu datang kesini". Tukas pak kades yang mengaitkan kedua alis matanya.


Kemudian Aceng meminum habis air yang ada di gelas itu hanya dengan satu tegukan saja, lalu dia mengatur nafas nya dan menghembuskan nya panjang.


"Begini pak kades, di perkebunan kang Kardi ditemukan sesosok mayat, kejadian itu bermula ketika Astuti menemukan tanda merah berbentuk telapak tangan disetiap batang pohon rambutan, dan tanda itu mengarah ke sebuah gundukan tanah yang masih basah, karena curiga akhirnya kang Kardi meminta beberapa warga untuk menggali gundukan tanah itu, dan semua orang pun terkejut saat melihat ada sesosok mayat didalam lubang tanah itu". Jelas Aceng dengan nafas yang masih berderu kencang.


"Astagfirullohaladzim, mari kita lihat ke lokasi nya sekarang". Seru pak kades seraya bangkit dari duduknya.


Setelah itu pak kades bersama sekdes dan juga Aceng mengendarai sepeda motornya, mereka memacu gas motor supaya cepat sampai di perkebunan.


Dan sesampainya disana nampak warga berkerumun melihat sesosok mayat yang tergeletak di tanah, lalu pak kades berjalan menghampiri mayat itu dengan menggunakan masker di wajahnya, karena bau mayat itu sangat menyengat di hidung.


Astaga siapa yang membuang mayat dengan cara seperti ini, batin pak kades didalam hatinya seraya menggelengkan kepalanya.


Setelah itu pak kades meminta sekdes nya untuk menelepon kantor polisi, tentang penemuan mayat yang ada di perkebunan itu.


"Apa ada warga yang mengetahui sesuatu yang mencurigakan sebelum ini?". Tanya pak kades dihadapan warga desa nya.


"Saya pak, tadi subuh saya bersama istri melihat ceceran darah disekitar sumur sana, tapi karena kami harus melakukan ibadah di mushola, kami bergegas ke mushola dan saat kami kembali kesana, ceceran darah itu sudah tidak ada lagi, seperti ada yang sengaja menghilangkan nya, karena ada bekas seretan sesuatu di jalan setapak, dengan bekas darah yang tertinggal disana, tapi semuanya hilang begitu saja saat kami memeriksanya kembali." jawab Aceng dengan mengkerutkan keningnya.


"Lalu siapa yang pertama kali melihat tanda merah di batang pohon itu". Seru pak kades dengan memijat pangkal hidungnya.


"Saya pak kades, tadi saya tidak sengaja lewat di kebun pak Kardi karena anak saya lari-larian ke arah sini, kemudian anak saya terjatuh dan saya membantunya berdiri, tapi yang saya lihat ada telapak tangan dengan warna merah, dan tanda itu tidak hanya di satu tempat saja, karena saya curiga, makanya saya memanggil suami saya, lalu pak Kardi datang dan kita semua bersama-sama menyaksikan gundukan tanah itu di bongkar, dan ternyata di dalam sana ada mayat seseorang". Jelas Astuti dengan mengusap peluh dikeningnya.


Tidak lama setelah itu datanglah beberapa bapak polisi, mereka meminta semua warga untuk meninggalkan lokasi itu.


"Bapak dan ibu sekalian, saya mohon untuk meninggalkan TKp, karena kami akan melakukan penyelidikan, dan untuk beberapa warga yang mengetahui sesuatu yang mencurigakan, silahkan untuk memberikan keterangan pada polisi yang ada disana". Seru seorang polisi yang akan memasang garis polisi disana.


*


*


...Ayo dong akak semuanya dukung author dengan like gift atau vote nya, butuh semangat lebih dari kalian semuanya 😊...


...Bersambung....