
Rania menyampaikan pesan Kasmi pada mbah Darmi dan menceritakan sesosok buto ireng yang ada didalam kamar Lala.
"Mbah Darmi tau kan kalau aku bisa melihat makhluk tak kasat mata, tadi sewaktu aku menjenguk Lala ada buto ireng yang sedang menatap Lala dengan tatapan mata yang menyeramkan di dalam kamarnya". Jelas Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Bisa jadi sakitnya Lala ada hubungan nya dengan buto itu nduk". Tukas mbah Darmi dengan wajah cemas.
Dan setelah menyampaikan maksud tujuan nya Rania berpamitan pada mbah Darmi, sementara mbah Darmi yang menunggu di depan pintu kamar khusus mbah Karto terlihat sangat cemas karena mbah Karto maupun pak Jarwo belum keluar dari dalam kamar khusus itu.
Karena ternyata jiwa mbah Karto dan pak Jarwo sedang pergi ke dimensi gaib untuk membawa Ari kembali, tapi sesampainya disana penjagaan di depan gerbang gaib itu sangat ketat.
Terlihat mbah Karto berbicara pada pak Jarwo supaya mereka pergi dari sana dan meminta bantuan Pangeran Asopati, karena bagaimanapun Pangeran Asopati yang paling menginginkan jika Ari harus menjauhi Sukma melati.
"Assalamuallaikum Pangeran". Sapa mbah Karto dan pak Jarwo dengan menyatukan kedua telapak tangan didepan dada.
"Waalaikumsalam, apakah kaliam sudah menjauhkan manusia sesat itu dari Sukma?". Tanya Pangeran Asopati yang bangkit dari singgasana nya.
"Kami tidak bisa memasuki gerbang gaib hutan itu, semua pengawal berjaga disana, sepertinya penguasa gaib sudah meningkatkan pengamanan disana." tukas pak Jarwo.
"Semua itu terjadi karena Romo ku sudah memerintah utusan kami untuk memberitau panguasa gaib itu tentang kehamilan Sukma melati, tapi kalian tenang saja aku akan membantu kalian membawa manusia sesat itu pergi dari sisi Sukma karena kami akan melakukan perlawanan dan membawa Sukma ke istana ini." cetus Pangeran Asopati.
Setelah itu Pangeran Asopati memerintahkan utusan kepercayaan nya yaitu Ki Seno untuk pergi ke dimensi gaib dan melakukan perundingan, Ki Seno diperintahkan untuk memberitau penguasa gaib itu untuk melakukan pertemuan di suatu tempat yang bukan wilayah kekuasaan mereka, karena ada yang ingin Pangeran Asopati rundingkan bersama penguasa gaib itu, dan disaat penguasa gaib itu pergi untuk menemui Pangeran Asopati di lembah Ringin jajar, nampak mbah Karto dan pak Jarwo dibantu Ki Seno yang masih ada di dimensi gaib itu berusaha membebaskan Ari yang ada didalam penjara emas, tempat mbah Karto dulu dikurung.
"Ayo Le kau ikut pulang ke desa bersamaku, sebelum ada pengawal yang mengetahui jika kau tidak ada." tukas mbah Karto yang mengeluarkan Ari dari dalam penjara itu.
"Lekaslah kalian pergi sebelum penguasa gaib ataupun pengawalnya datang kesini." perintah Ki Seno dengan suara beratnya.
Tapi Ari menolak pergi dari sana dengan alasan dia tidak bisa hidup tanpa Sukma, dan pak Jarwo pun menjelaskan jika Ari tidak bisa bersama Sukma melati lagi apalagi saat ini dia sedang mengandung anak dari Pangeran Asopati.
"Aku tidak perduli, aku yakin Sukma lebih mencintaiku, dan aku akan merebutnya dari Pangeran itu." seru Ari dengan membulatkan kedua matanya.
Nampak amarah di kedua mata Ki Seno setelah mendengar ucapan Ari, jika dia akan melawan Pangeran Asopati.
"Tutuplah mulutmu bocah bodoh, kau tau tidak siapa Pangeran Asopati, kau ini hanya manusia biasa." pekik mbah Karto menatap tajam pada Ari.
"Aku bukan manusia biasa, aku ini adalah manusia setengah siluman mbah, jadi aku bisa melawan nya." seru Ari mendongakan kepalanya ke atas.
"Lalu apakah kau bisa melawan Ki Seno ini, aku tau kau tidak akan bisa melawan nya, jika kau saja tidak sanggup melawan Ki Seno bagaimana kau akan mengalahkan Pangeran Asopati." tukas pak Jarwo menantang Ari.
Terlihat Ari hanya tertunduk diam setelah Ki Seno melotot ke arahnya, lalu mbah Karto membawa Ari keluar dari dimensi gaib hutan itu.
Kali ini aku akan menuruti mbah **Kart**o tapi tidak untuk meninggalkan Sukma melati, aku hanya ingin terbebas dari dalam penjara itu, batin Ari didalam hati nya.
Sementara Pangeran Asopati yang sedang bertemu dengan penguasa gaib itu terlihat sedang saling bicara tentang Sukma melati.
"Aku tidak akan menyerahkan anakku Sukma melati pada jin muslim macam kau". Seru penguasa gaib itu murka.
"Aku hanya ingin anakku yang ada didalam kandungan Sukma baik-baik saja, karena dia adalah penerusku, jadi aku memohon padamu sebagai orang tua yang ingin membesarkan anaknya, tolong biarkan Sukma melati menjadi pendampingku supaya kami bisa merawat anak itu bersama". Ucap Pangeran Asopati dengan wibawa nya.
Nampak Pangeran Asopati hanya terdiam dengan menghembuskan nafas yang panjang tanpa menjawab pertanyaan penguasa gaib itu karena dia sudah melihat kedatangan Ki Seno yang menandakan jika rencana nya membebaskan Ari dari penjara itu sudah selesai.
"Maafkan aku raja gaib sepertinya kita perlu menunda perundingan ini, karena aku butuh waktu untuk menerima syarat darimu". Tukas Pangeran Asopati.
Setelah itu penguasa gaib itu pergi meninggalkan lembah Ringin jajar, karena Pangeran Asopati belum bisa menjawab syarat darinya.
Sementara Ari yang sudah kembali ke rumah nya nampak gelisah, dia tidak terima jika Sukma melati akan menjadi milik Pangeran Asopati.
Apa yang harus aku lakukan, jika aku melawan makhluk gaib seperti mereka bukan nya menang tapi aku bisa celaka, batin Ari didalam hati nya.
Setelah itu Ari berjalan keluar dari rumahnya, menyusuri jalanan ke arah hutan angker, Ari berniat menemui Sukma melati tapi dia takut jika penguasa gaib itu akan mengurungnya lagi didalam penjara.
Dan tidak jauh darinya terlihat Anto yang mengendarai motornya.
Chiiit...
Anto mengerem motor nya mendadak setelah melihat kangmas nya di pinggir hutan.
"Mas Ari ngapain lagi kesini, bukankah mbah Karto sudah memberi tau, jika kau sampai kembali kesana lagi mbah Karto dan pak Jarwo tidak akan menolongmu lagi". Tukas Anto dengan wajah cemas.
"Aku hanya bosan saja di rumah To, pikiranku kacau". Sahut Ari mengusap kasar rambutnya.
"Ya sudah mas Ari ikut aku saja ke desa Randu garut, kebetulan aku ada pekerjaan disana sekalian mas Ari bantu-bantu aku disana". Cetus Anto seraya mengendarai motornya.
Sesampainya di desa Randu garut, nampak Anto memasuki rumah seseorang yang sedang ramai warga memasang tenda pernikahan, karena Anto bekerja di jasa penyewaan alat resepsi dia nampak sibuk mengatur semua persiapan.
Sedangkan Ari yang tidak tau mau membantu apa akhirnya berjalan-jalan di sekitar tempat itu, Ari berhenti di sebuah warung kopi yang sedang ramai pembeli, samar-samar Ari mendengarkan pembicaraan bapak-bapak itu, mereka membicarakan seorang pemuda sakti yang baru saja datang ke desa mereka.
"Kau tau tidak dia itu anaknya mbah Wongso wajar saja jika dia itu sakti seperti bapaknya, bahkan kemarin dia sudah menangkap kalong wewe yang sempat menculik cucu nya mbah Warni". Ucap pak Sukir pada warga lain nya.
"Memang mbah Wongso nya kemana, kok jadi anaknya yang menangkap kalong wewe itu?". Tanya pak Bagio penasaran.
"Mbah Wongso sedang tidak sehat, jadi mas Bima yang menggantikan bapaknya". Jawab pak Sukir seraya meminum kopi hitam nya.
Mbah Wongso, kenapa aku pernah merasa pernah mendengar nama itu, hmm lebih baik aku bertanya dimana alamat orang sakti itu, siapa tau dia bisa membantuku untuk bersama Sukma melati kembali, batin Ari didalam hatinya.
Nampak Ari menghampiri bapak-bapak yang sedang duduk itu, dia menanyakan alamat rumah orang sakti yang dari tadi mereka bicarakan.
"Permisi pak maaf saya mengganggu, tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan bapak-bapak tentang orang sakti yang bisa menangkap makhluk halus, kalau boleh tau dimana alamatnya pak". Tukas Ari dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
*
*
...Bersambung....