DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Arwah Pardi kabur.


Siang itu di cafe Luna nampak semua pegawai sudah selesai membereskan perkakas, mereka sedang menunggu kedatangan Luna untuk memberikan gaji terakhir nya, dan terdengar suara mesin mobil yang masuk ke halaman parkir.


"Selamat siang semuanya." sapa Wulan pada semua pegawai anaknya.


"Sudahlah bu tidak perlu basa-basi lagi." celetuk Luna seraya duduk di kursi dengan mengeluarkan beberapa lembar amplop dari dalam tas nya.


Nampak Luna memberikan satu persatu amplop itu pada pegawai Luna, dan dia mengucapkan salam perpisahan pada semua pegawai nya, yang nampak menundukan kepala nya, karena kesedihan begitu terasa untuk meninggalkan tempat mereka mengais rejeki selama ini.


"Saya mewakili teman-teman yang lain nya, ingin mengucapkan terima kasih banyak pada mbak Luna dan juga ibu Wulan, maafkan kami jika pernah membuat kesalahan selama bekerja disini." ucap Desi dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah lah kalian bisa pergi sekarang juga." seru Luna dengan membuang muka dihadapan semua orang.


Nampak arwah Pardi berdiri mengambang dengan seringai diwajah nya.


Aku sudah berhasil mempengaruhi Luna, dia sudah tidak perduli lagi pada semua orang disekitarnya, bahkan Luna sudag meninggalkan shalat nya, dan lebih sering menghabiskan waktu nya bersamaku, di alam mimpi, batin Pardi dengan bangga nya.


"Nduk kau tidak boleh kasar seperti itu pada mereka, bagaimana pun mereka sudah berjasa membantumu selama ini." ucap Wulan menasehati Luna.


Lalu Luna bangkit dari duduknya mengacuhkan ibu nya, yang sedang berdiri memandang ke arah nya, Luna melangkahkan kaki nya ke depan pintu cafe, seraya memainkan gawai nya.


"Maafkan sikap Luna yang tiba-tiba berubah kasar pada kalian, sepertinya Luna sedang stres karena usaha nya menjadi bangkrut, tinggalkan lah nomer ponsel kalian di kertas ini, jika Luna akan membuka cafe nya kembali, biar ibu saja yang akan menghubungu kalian lagi, itu pun jika kalian belum bekerja di tempat lain." jelas Wulan dengan menundukan kepala nya.


Terlihat mereka semua saling memandang dan meninggalkan nomer telepon nya sesuai permintaan Wulan, setelah itu semua pegawai Luna nampak berpamitan pada Wulan seraya mengucapkan salam perpisahan, sedangkan Luna yang berdiri di depan pintu nampak acuh dan tidak perduli pada mereka semua, satu persatu pegawai Luna meninggalkan cafe itu dengan wajah sendu, lalu Wulan mendekati anak gadis nya itu, dan bertanya apa yang akam dilakukan nya setelah ini.


"Luna akan meminta uang sisa kontrakan bangunan ini, dan menyewa tempat di daerah lain." tukas Luna dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Dan di luar cafe itu terdengar suara sepeda motor yang memasuki parkiran, nampak Wulan berjalan mendekati pintu, nampak perempuan itu mengkerutkan kening nya dengan menghembuskan nafas nya panjang.


"Assalamuallaikum." seru Rania dan mbah Karto.


"Waalaikumsallam." sahut Wulan dengan menyunggingkan senyum nya.


"Mas Karto akhirnya kau datang kesini." ucap Wulan dengan mata berkaca-kaca.


"Kau kemana saja to Lan, sudah bertahun-tahun tidak memberi kabar, dan sekali nya kau memberi kabar, malah kabar buruk yang sampai padaku." tukas mbah Karto dengan menggelengkan kepala nya.


"Maafkan saya mas Karto, setelah kematian ayah Luna, keadaan ekonomi ku benar-benar berantakan, aku terpaksa merantau ke kota demi meneruskan kehidupan kami, tapi setelah Luna dewasa dan mempunyai usaha sendiri, tiba-tiba bisnis nya menjadi kacau berantakan, dan sifat Luna berubah kasar beberapa hari ini." jelas Wulan dengan berderai air mata.


"Aku mengerti kesusahan yang kau alami, tapi tidak seharusnya kau menghilang tanpa kabar seperti itu Lan, dan dimana keponakan ku Luna saat ini." seru mbah Karto dengan memandang ke segala arah.


Ternyata saat itu Luna sedang merapikan perkakas ke dalam kardus, karena dia berniat membawa nya pulang ke rumah, lalu Wulan memberitau Luna jika pakde nya datang dari desa, dan ingin bertemu dengan nya, nampak Luna mendengus kesal karena ibu nya selalu mengganggu nya, dan Luna berteriak membentak ibu nya karena dia tidak suka jika Wulan terus saja membicarakan pakde nya.


"Ibu temui saja pakde ku itu, Luna sedang sibuk tidak ada waktu untuk mengobrol." bentak Luna dengan mengerucutkan bibir nya.


Astagfirullohaladzim kenapa Luna sampai membentak ku, padahal sebelumnya dia adalah anak yang sangat baik dan sopan, batin Wulan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sudahlah jangan bersedih begitu, Luna berbuat seperti itu karena dalam pengaruh buruk arwah penasaran yang selama ini berada didekatnya, biarkan aku saja yang berbicara padanya." jelas mbah Karto dengan menepuk punda Wulan.


Kemudian mbah Karto melangkahkan kaki nya menghampiri Luna, nampak gadis itu mendengus kesal dan membulatkan kedua mata nya menatap tajam ke arah mbah Karto.


"Siapa kau berani sekali masuk kesini tanpa permisi." pekik Luna dengan berkacak pinggang.


Lalu mbah Karto mengkerutkang kening nya seraya membaca rapalan mantra.


Bismillahir rahmanir rahim. Sir eling jatining urip, iku ingsun sejatining urip, sira sejatining Allah, ya ingsun sejatining Allah, sir iku Rasulullah pangucap iku Allah, jasad Allah badan putih tanpa getih, sir Alla rasa Allah, sir rasa jatining Allah, iya ingsun jatining Allah.


Kemudian mbah Karto menghembuskan nafas nya ke wajah Luna, seketika gadis cantik itu kehilangan kesadaran nya, dan pingsan begitu saja, sementara arwah Pardi yang ketakutan karena keberadaan nya sudah diketahui mbah Karto nampak melesat pergi meninggalkan tempat itu.


Kemudian mbah Karto berteriak memanggil Wulan dan juga Rania, mereka nampak terkejut melihat Luna sudah pingsan disana.


"Nduk ambilkan segelas air putih, aku akan membacakan doa supaya Luna segera sadar kembali." perintah mbah Karto pada Rania.


Nampak Wulan berderai air mata seraya memeluk anak gadis nya itu, seluruh tubuh Luna terasa dingin karena selama ini setengah jiwa nya sudah menjadi tempat bersemayam arwah Pardi.


Tidak berselang lama Rania pun datang memberikan segelas air putih pada mbah Karto, dan mbah Karto bergegas membacakan doa lalu meminumkan air itu pada Luna.


"Ini minumkanlah pada Luna, supaya dia lekas sadar kembali." ucap mbah Karto seraya memberikan segelas air pada Wulan.


Dan setelah Luna diberikan air yang dibacakan doa oleh mbah Karto, nampak Luna mulai membuka kedua mata nya, gadis itu memeluk erat ibu nya dengan berlinang air mata.


"Ibu Luna bermimpi sudah membentak-bentak ibu, tapi mimpi itu terasa nyata sekali, maafkan Luna ga bu." ujar Luna dengan meneteskan air mata nya.


"Iya nduk tidak apa-apa itu kan hanya mimpi saja." sahut Wulan tidak menjelaskan yang sebenarnya.


Ternyata mbah Karto memberi isyarat pada Wulan, jika dia tidak perlu menjelaskan segala nya pada Luna, karena kondisi fisik nya sedang lemah saat itu, lalu nampak Wulan hanya menyunggingkan senyum nya, seraya memperkenalkan mbah Karto pada Luna.


"Nduk ini pakde mu yang jauh-jauh datang dari desa untuk menjengukmu." jelas Wulan pada Luna.


Kemudian Luna mengecup punggung tangan mbah Karto, seraya memperkenalkan dirinya, tapi perhatian Luna teralihkan karena melihat keberadaan Rania disana, setelah itu Luna bertanya kenapa Rania ada disana, dan Wulan mengatakan jika Rania lah yang membawa pakde nya datang kesana.


*


*


...Ditunggu Vote dan hadiah nya ya kak, jika kalian masih mau mendukung author untuk meneruskan cerita inj 🙏...


...Bersambung....