DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Rania mengetahui niat buruk Pardi.


Nampak Rania menyunggingkan senyum nya, pada pegawai cafe yang sedang memandang dirinya dengan penuh tanya.


"Maafkan saya kakak-kakak semuanya, saya tidak sengaja menggebrak meja." jelas Rania seraya berjalan keluar dari dapur itu.


Jadi arwah Pardi sengaja membuat usaha di cafe ini bangkrut, kalau begitu aku harus memberitau kakak pemilik cafe ini, batin Rania didalam hati nya.


Lalu Rania melangkahkan kaki nya menghampiri Luna yang tengah duduk dengan wajah yang murung, dan perlahan Rania berusaha menjelaskan semuanya pada Luna, tapi Luna hanya tersenyum menanggapi ucapan Rania.


"Pasti kak Luna tidak percaya dengan ucapanku ya, makanya kakak hanya tersenyum." tukas Rania dengan mengerucutkan bibir nya.


Nampak Wati dan Lala memperhatikan Rania yang sedang berbincang dengan Luna, kedua nya saling memandang dan menerka-nerka apa yang sedang dibicarakan Rania dengan pemilik cafe itu, kemudian keduanya berjalan menghampiri Rania, dan mendengarkan ucapan Rania tentang sesosok arwah yang berniat buruk pada dirinya.


"Kak Luna tidak percaya ya, kami sangat percaya dengan apa yang Rania katakan, karena Rania memiliki bakat melihat makhluk tak kasat mata, karena itu lah Rania memberitau kakak." jelas Wati meyakinkan Luna.


"Sumpah demi Alloh kak, Rania tidak berbohong lebih baik kakak meminta bantuan pada pak Jarwo atau mbah Karto, beliau berdua adalah orang yang mengerti tentang dunia gaib kak, mereka akan membantu kakak terbebas dari teror jahar arwah itu." cetus Rania memandangi wajah Luna.


"Tapi dek kakak masih tidak yakin saja dengan hal-hal klenik semacam itu, kalian kan masih remaja kok percaya dengan mistis begitu." seru Luna dengan mengkerutkan kening nya.


Dan terlihat di kejauhan arwah Pardi tengah berdiri mengambang memperhatikan Luna dari kejauhan, lalu Rania menatap tajam ke arah Pardi yang membulatkan kedua matanya.


Aku tidak akan takut dengan hantu gentayangan sepertimu, batin Rania didalam hati nya.


Nampak Lala yang masih bisa melihat makhluk tak kasat mata, ikut memandang ke ujung ruangan yang disana ada sesosok arwah tengah memperhatikan mereka.


Apakah itu arwah yang dimaksud Rania, batin Lala dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Kemudian Rania memberikan nomer ponsel nya pada Luna, supaya Luna dapat menghubungi Rania, jika dia membutuhkan bantuan.


"Kak Luna telepon aku ya, jika kakak merasa ada hal janggal yang terjadi disekitar kakak, kapanpun kak Luna menghubungi ku insyaAlloh aku akan membantu kakak." jelas Rania dengan senyum manis nya.


"Baiklah adek-adek cantik, terima kasih atas perhatian kalian pada kakak, jangan kapok ya berkunjung ke cafe kakak." ujar Luna merangkul ketiga nya.


Setelah itu Rania bersama teman-teman nya segera meninggalkan cafe Luna, karena acara disana sudah selesai, nampak Rania berpamitan pada Wati untuk mengantarkan Lala ke rumah nya.


"Wati kau pulang duluan saja, aku harus mengantar Lala sampai di rumah nya, sampaikan pada semua orang di rumah jika aku akan pulang terlambat." seru Rania di atas sepeda motor nya.


Setelah itu Rania mengendarai sepeda motor nya bersama Lala yang duduk diam dibelakang boncengan nya, terlihat dari kejauhan arwah Pardi mengikuti Rania, nampak nya arwah Pardi sangat marah pada Rania, karena dia berusaha memberitau Luna tentang keberadaan nya, yang ingin menghancurkan usaha nya.


Dan dengan kekuatan nya arwah Pardi membuat sepeda motor yang dikendarai Rania mogok di jalan, lalu Rania memeriksa mesin sepeda motor nya yang masih hidup tapi tidak bergerak sama sekali.


"Lala kenapa motor ini berhenti tiba-tiba ya." tukas Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Entahlah kita coba dorong sampai depan sana saja La, mungkin ada bengkel disana." ucap Rania seraya mendorong sepeda motor nya.


"Jangan ganggu urusanku jika kalian tidak ingin celaka." seru arwah Pardi dengan membulatkan kedua mata nya.


"Kau pikir aku takut padamu hah, memang nya kau mau apa, kau ini hanya arwah gentayangan yang tidak pantas ada di dunia ini." pekik Rania tak kalah lantang nya.


Nampak nya arwah Pardi tidak terima dengan perkataan Rania, dengan kekuatan nya Pardi menumbangkan sebuah pohon yang ada di tepi jalan itu, sedangkan Rania dan Lala yang tidak memperhatikan, jika pohon yang ada disamping nya akan tumbang, nampak terkejut setelah mendengar bunyi sesuatu yang sangat keras.


Ternyata batang pohon yang lumayan besar itu jatuh dan menimpa sepeda motor mereka, sedangkan Rania dan Lala yang berada disamping sepeda motor itu, akhirnya ikut terjatuh karena sepeda motor mereka tertimpa batang pohon tadi, nampak sebelah kaki Lala terjepit sepeda motor yang ada di atas nya sementara Rania yang sempat melompat sebelum motor itu menimpa dirinya, hanya luka-luka sedikit karena lecet akibat benturan dengan aspal jalan.


"Astagfirullohaladzim Lala." pekik Rania yang seraya mengangkat batang pohon yang menimpa sepeda motor nya.


Terdengar suara Lala setengah merintih menahan sakit di kaki nya, sedangkan arwah Pardi nampak tertawa bahagia melihat kejadian yang ada di depan nya.


"Lala aku tidak kuat mengangkat batang pohon ini, kita harus meminta tolong pada siapa, jalan ini sangat sepi La." ucap Rania yang masib berusaha mengangkat batang pohon yang ada dihadapan nya.


Setelah itu Lala nampak berlinang air mata dengan menyebut nama anaknya Senopati, lalu tiba-tiba saja datanglah angin kencang dan petir yang menyambar, nampak sesosok makhluk tinggi besar dengan wajah yang memerah tengah melotot memandang arwah Pardi.


Ternyata makhluk menyeramkan itu adalah perwujudan Senopati yang mulai beranjak dewasa, naluri seorang ibu yang tidak berdaya tengah memanggil anaknya, dan Senopati yang merasakan panggilan dari ibu nya, bergegas datang ke alam manusia dan menolong ibu nya yang sedang tertimpa musibah.


"Salam ibunda aku datang karena kau memanggilku." tukas Senopati yang menghempaskan batang pohon itu dan mengangkat Lala ke bawah pohon.


Setelah itu Rania berlari menghampiri Lala dan menutup luka nya, Rania menyobek kemeja yang dikenakan nya, dan menutup luka di kaki nya.


"Lala kaki mu berdarah banyak sekali, kita harus segera ke klinik terdekat supaya kau mendapat pertolongan." seru Rania dengan wajah yang panik.


Sementara di depan sana ada Senopati yang sedang berhadapan dengan arwah Pardi, nampak nya Pardi tidak tau jika Senopati bukanlah makhluk sembarangan, karena dia adalah keturunan raja buto di alam nya, hanya dengan sekali hempasan saja arwah Pardi terpental sangat jauh dengan luka dalam, terlihat arwah Pardi berusaha melawan Senopati tapi kekuatan nya tidak berfungsi dihadapan Seno.


"Aku akan melenyapkan jiwa tak berharga sepertimu." pekik Senopati yang membaca mantra-mantra untuk mencelakai arwah Pardi.


Tapi tiba-tiba ada sesosok bayangan merah yang melesat dan membawa arwah Pardi pergi dari sana, nampak Senopati tidak terima dan ingin mengejar bayangan yang telah membawa pergi arwah Pardi, tapi Senopati mengurungkan niat nya, karena dia mendengar suara ibunda nya yang tengah merintih merasakan sakit di kaki nya.


"Ibunda aku akan mengobati luka mu, setelah itu aku akan pergi melenyapkan jiwa yang telah berani mencelakai ibunda." cetus Senopati yang tengah membaca rapalan mantra dan menghembuskan nafas nya ke kaki Lala yang tadi nya terluka.


Seketika luka di kaki Lala sembuh dan tidak berbekas sama sekali, nampak Lala berderai air mata memeluk anaknya yang tengah beranjak dewasa.


*


*


...Bersambung....