
"Tidak apa-apa mbakyu, meski hanya sesaat saja aku sudah sangat berterima kasih padamu". Ucap Lala terisak.
"Kau jaga dirimu baik-baik disini ya La, dan di alamku aku akan menjaga Senopati seperti anakku sendiri, kelak ketika Seno sudah mampu memiliki kesaktian yang besar, dia akan menemuimu sendiri, dan aku akan mengajarkan nya berbagai kesaktian". Tukas Mekar dengan senyum ramahnya seraya melesat mendekati Lala.
"Mbakyu jangan mendekatiku, aku takut kau kenapa-kenapa karena menyentuhku, ada jimat suci dileherku yang akan membuat makhluk gaib terbakar". Jelas Lala pada Mekar.
Kemudian Rania menjelaskan pada Lala, jika makhluk gaib yang memiliki niat sajalah yang akan terbakar, jika makhluk itu tidak berniat jahat insyaAlloh dia tidak akan kenapa-kenapa.
Lalu dengan melesat perlahan Mekar mendelati Lala seraya memeluknya, kedua nya hanyut dalam kesedihan karena mereka akan berpisah kembali, lalu Seno mengatakan pada ibundanya jika dia akan kembali menengok ibunya.
"Ibunda jaga dirimu baik-baik, secepatnya aku akan kembali menengokmu dan akan lebih sering mengunjungimu, setelah ini aku akan memperdalam ilmu supaya aku dapat melihat ibu sesering mungkin". Ujar Senopati yang masih berpelukan dengan kedua ibunya.
"Mbakyu Mekar tolong titip anakku Senopati, jaga dan sayangi dia seperti kau menyayangi anakmu sendiri huhuhu". Ucap Lala berderai air mata.
"Pasti La, kau tenang saja serahkan semuanya padaku, aku akan membuat Senopati sakti seperti romo nya, kau jangan bersedih lagi ya, kami harus kembali ke alam gaib saat ini juga". Tukas Mekar seraya mengusap air mata Lala.
"Ibunda aku pamit dulu, jaga kesehatanmu anakmu ini akan segera kembali menemuimu lagi". Tegas Senopati mengecup punggung tangan ibunda nya.
Nampak Lala semakin berderai air mata kepedihan, Lala memeluk Senopati sangat erar dengan berlinang air mata.
"Baik-baik di alammu ya nak, turutilah perkataan ibu Mekar karena dia adalah pengganti ibunda, jangan berbuat masalah dengan ibu Sekar karena dia bukan makhluk yang baik, dengarkan ucapan ibumu ini ya nak huhuhu". Cetus Lala yang melepaskan pelukan nya dari Seno.
Setelah itu Mekar membawa Senopati kembali ke alam nya, nampak mereka semua melambaikan tangan perpisahan di iringi tangisan pilu Lala.
Kemudian Rania menghampiri Lala dan memeluknya erat, seraya mengusap air mata nya.
"Sudah ya La jangan menangis lagi, yang terpenting kau sudah mengetahui keadaan anakmu Senopati, dia baik-baik saja di alamnya, bahkan ibu tirinya terlihat sangat menyayanginya, jadi kau tidak perlu risaukan anakmu lagi, karena dia akan kembali menengokmu". Ucap Rania yang menenagkan hati Lala.
"Kau tidak tau bagaimana keadaan di istana gaib itu La, ada satu lagi istri suamiku, dia adalah istri tertua dan dia merasa hanya dia lah yang paling berkuasa di antara istri suamiku, bahkan anaknya juga tidak menyukai anakku Senopati, untung saja ada mbakyu Mekar yang baik hati dan tidak pernah membedakanku dan juga anakku". Jelas Lala yang masih sesegukan.
"Apa suami gaibmu tidak tau perbuatan istri tertuanya itu, kenapa dia sangat tidak menyukaimu dan juga anakmu La?". Tanya Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Semua itu karena dia cemburu padaku, sejak kehadiranku di istana gaib itu suamiku lebih sering menghabiskan waktunya bersamaku, pagi hingga malam kangmas Elang selalu bersamaku ketika dia sedang tidak sibuk, sedangkan kedua istrinya tidak pernah memiliki waktu bersama suamiku, istri pertama suamiku mengira jika aku yang melarang kangmas Elang untuk bersama kedua istrinya yang lain, tapi mbakyu Mekar mengerti jika itu adalah keinginan kangmas Elang sendiri, karena kangmas Elang menikahiku dengan cinta, berbeda dengan kedua istrinya yang lain, karena kangmas Elang menikahi mereka karena perjanjian politik di alam gaib sana". Jelas Lala dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Astagfirullohaladzim ternyata makhluk gaib bisa cemburu juga ya". Seloroh Rania.
"Ah kau ini Ran jangan bergurau begitu, aku berkata yang sebenarnya". Tukas Lala dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Ya sudah mari kita jalan-jalan ke desa sebelah, ada yang ingin aku lihat disana". Jelas Rania seraya melangkahkan kaki nya bersama Lala.
Tapi tiba-tiba Petter melesat meninggalkan Rania, nampak dia mengikuti Pardi yang sedang berlari ke suatu tempat, sedangkan Rania dan Lala tetap melanjutkan perjalanan nya.
Sesampainya di desa sebelah Rania mendatangi warung bakso pak Rahmat yang sangat ramai pembeli, dan disana ada seorang perempuan tua sedang duduk di depan warung itu dengan wajah yang gelisah.
Ternyata perempuan itu adalah ibu Bambang yang baru saja tiba dari desa, ibu Bambang datang ke warung bakso pak Rahmat untuk menemui Bambang yang sudah beberapa hari tida bisa ditelepon, bahkan sebelum Bambang dan Evana sampai di desa nya, ibu Bambang sudah dalam perjalanan ke warung bakso pak Rahmat.
Kemudian Rania berjalan menghampiri Evana yang sedang berdiri mengambang disamping Jansen.
"Aunty tadi aku melihat Petter mengikuti Pardi yang sedang melarikan diri, sepertinya Pardi sedang ketakutan". Tukas Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Rania tolong kau perhatikan ibu itu, dia adalah ibunya Bambang, kami takut jika pak Rahmat berbuat sesuatu hal yang buruk padanya". Jelas Evana seraya melesat bersama Jansen untuk mencari dimana Pardi berada.
Sementara Bambang yang berada disamping ibunya, tengah menangis meratapi nasibnya, terlihat ibu Bambang memandang ke segala arah dengan menyebut nama Bambang.
"Bambang anakku, kau dimana Le ibu sangat menghawatirkanmu". Seru ibu itu dengan terisak.
Lalu pak Rahmat menghampirinya dan mengatakan pada ibu itu, jika Pardi belum kembali lagi, karena hanya Pardi yang tau kemana Bambang pergi malam itu.
"Iya pak tidak apa-apa saya akan menunggu nak Pardi disini saja". Tegas ibu itu dengan berlinang air mata.
Kemana si Pardi itu pergi, aku akan mencoba menelepon nya, supaya dia mengatakan sesuatu pada ibu itu, dan dia tidak akan datang ke warung bakso ku lagi, batin pak Rahmat seraya menghubungi Pardi melalui ponselnya.
Dreet dreet dreet...
Ponsel Pardi bergetar dan dia pun menerima panggilan telepon dari juragan nya itu.
"Iya hallo pak". Sahut Pardi diseberang telepon sana.
"Kau pergi kemana Di, cepat kembali dan katakan pada ibunya Bambang kalau anaknya sudah tidak bekerja disini, dan kita tidak tau kemana anaknya pergi". Ucap pak Rahmat dengan memandang ke segala arah.
"Ta tapi pak, aku tidak tega melihat ibunya Bambang, sepertinya dia sangat sedih karena Bambang tidak ada kabar". Jelas Pardi dengan suara yang bergetar.
"Lantas kau mau ibunya tetap berada disini, lama-lama semua akan ketahuan jika kau menghindar seperti itu". Tegas pak Rahmat seraya mengusap peluh dikeningnya.
"Ba baiklah pak, aku akan segera kembali ke warung". Seru Pardi dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Lalu Pardi mengakhiri panggilan telepon itu, dan berjalan gontai kembali ke warung bakso pak Rahmat, dan nampak didepan sana ada seorang perempuan yang sedang duduk dengan wajah yang sendu, kemudian perempuan itu bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Pardi yang berjalan ke arah warung bakso itu.
"Nak Pardi kau tau kan dimana keberadaan anakku Bambang, bukankah kau sudah berjanji padaku nak, jika kau akan menjaga Bambang kalau aku mengijinkan nya bekerja bersamamu, tapi kenapa kau membiarkan nya pergi tanpa berpamitan dulu pada juragan nya nak, kalau ada apa-apa dengan anakku Bambang gimana ini nak huhuhu". Ucap ibu Bambang berderai air mata.
Terlihat Pardi hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, hati Pardi sangat pilu melihat tangisan ibu Bambang, dan Pardi hanya menghembuskan nafasnya panjang, seraya mengatakan pada ibu Bambang, kalau Bambang sudah tidak bekerja disana lagi, Bambang berpamitan pada Pardi jika dia akan berhenti bekerja dari warung bakso itu, dan bekerja di tempat lain bersama teman lama nya.
*
*
...Bersambung....