DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Ari melakukan ritual gaib!!!


...Warning!!!...


...Bab ini berisi adegan dewasa mohon untuk yang belum berumur tujuh belas tahun ke atas, untuk tidak melanjutkan membaca bab ini terima kasih 😘...


...😉...


...🍃...


...🍃...


...🍃...


..........................................


Terlihat Ari mulai membelai tiap bagian tubuh istri nya yang kini sudah menjelma sebagai manusia, Ari memandikan tubuh istri nya menggunakan air bunga tujuh rupa untuk membersihkan aura gaib yang masih menempel padanya.


"Sayangku sekarang kau sudah kembali padaku, dan aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku". Ucap Ari seraya memeluk tubuh polos Rara yang masih belum memakai penutup sama sekali.


Tanpa sadar Ari melakukan penyatuan nya dengan Rara yang masih belum bisa merespon setiap ucapan atau gerakan Ari.


Ari mengecup leher jenjang Rara dengan memainkan saliva nya membentuk sebuah titik merah disana, tangan nya mulai menjelajah ke setiap bagian tubuh Rara, Ari memainkan kedua tangan nya di kedua bagian atas milik Rara dengan sesekali mengecup dan memainkan saliva nya disana.


Sementara Rara yang hanya berdiri dengan tatapan mata yang kosong tidak menunjukan respon apapun ketika Ari mulai menggoda nya, meskipun begitu Ari tetap melakukan hentakan demi hentakan pada istri nya yang diam pasrah menerima setiap perlakuan nya pada dirinya.


Ari mulai melenguh merasakan sesuatu yang dia rasakan bersama istri tercinta nya, karena sudah lama setelah kematian Rara dirinya tidak pernah lagi merasakan sesuatu seperti yang dia rasakan saat ini.


Lenguhan panjang mulai terdengar mengiringi hentakan yang semakin cepat dan tiba tiba sesuatu menyeruak didalam dirinya mulai keluar dan menerobos memasuki milik pribadi Rara dengan beberapa kali hentakan saja.


Setelah itu Ari memeluk tubuh polos Rara dengan mengecup kening nya.


"Terima kasih sayang kau sudah kembali lagi padaku, aku begitu merindukanmu". Bisik Ari ditelinga Rara dengan penuh cinta.


Kemudian Ari membawa istri nya kembali ke dalam kamar memakaikan pakaian nya dan menyisiri rambut panjang Rara.


Tok tok tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar nya, membuat Ari terperanjat dari ranjang nya.


Siapa yang mengetuk pintu kamarku, jangan jangan itu Anto, bisa berbahaya jika dia melihat Rara hidup kembali, batin Ari didalam hati nya.


Kemudian Ari berteriak dari dalam kamar nya untuk memastikan siapa orang yang berada di balik pintu itu.


"Siapa diluar?". Tanya Ari dengan mengernyitkan dahi nya.


"Ini ibu Le, bukalah pintu nya". Jawab bu Ema yang sedang berdiri didepan pintu kamar Ari.


Lalu Ari berjalan membukakan pintu kamar nya dengan cepat.


Ceklek...


"Masuklah bu, aku harus selalu menutup pintu kamarku ini, jika tidak Anto bisa melihat keberadaan Rara disini dan dia akan mencetitakan pada semua orang jika aku telah menghidupkan Rara kembali". Tukas Ari dengan memijat pangkal hidung nya.


"Baiklah Le, ibu paham maksudmu setelah ini ibu akan selalu mengetuk pintu kamarmu jika ingin bertemu dengan Rara". Seloroh bu Ema memandangi wajah puteri nya dengan mata berkaca kaca.


"Bagaimana bu, apa yang sudah ibu ketahuu mengenai sifat Rara yang berubah menjadi pendiam dan belum bisa di ajak berbicara sama sekali". Tanya Ari dengan menggenggam jari tangan istri nya itu.


"Baiklah bu, aku akan melakukan apapun demi istriku, aku ingin Rara kembali seperti dulu". Jelas Ari mengusap lembut rambut Rara yang tergerai bebas.


Kemudian bu Ema menjelaskan pada Ari jika dia harus melakukan ritual sama seperti pak Sugeng dulu, tapi jika Ari tidap dapat memberi syarat yang diminta penguasa hutan angker itu maka nyawa Ari akan di ambil untuk menebus semua yang telah dia berikan.


Terlihat Ari menyipitkan kedua mata nya, nampaknya dia sedang berpikir serius untuk melakukan ritual pada penguasa hutan angker itu.


"Tapi bu, apakah syarat yang harus aku berikan pada makhluk gaib itu, karena jika dia meminta tumbal nyawa seorang bayi, aku tidak akan mungkin bisa menuruti nya". Tukas Ari dengan mengacak ngacak rambut dikepala nya.


"Entahlah Le, hanya makhkuk gaib itu yang tau jika kau ingin tau apa syarat yang dia minta kau harus menemuinya terlebih dulu dan menyediakan sesajen untuknya". Jelas bu Ema dengan mengaitkan kedua alis mata nya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Ari menyetujui saran ibu mertua nya.


"Bu saya titip Rara di rumah, saya akan membeli semua keperluan untuk sesajen dan melakukan ritual malam ini juga, jika Anto bertanya pada ibu bilang saja aku sedang bekerja di kota". Cetus Ari seraya berjalan keluar dari kamar nya.


Sementara bu Ema menatap haru wajah anak perempuan nya dengan berlinang air mata.


"Syukurlah nak, kau bisa hidup kembali, jika kau tidak datang menemui ibumu lagi maka ibumu ini akan segera tiada dengan membawa semua duka di akhir hidup nya". Seru bu Ema seraya memeluk tubuh Rara.


*


*


Waktu berlalu dengan cepat sore berganti malam, Anto akan segera kembali dari kota, lalu bu Ema mengambil keputusan untuk membawa Rara kedalam kamar nya, karena bu Ema tidak mau membuat Anto curiga jika di malam hari seperti ini dia masih berada didalam kamar menantu nya.


Baru saja bu Ema melangkahkan kaki nya keluar dari pintu kamar Ari, tapi Antk sudah memasuki pintu rumah nya dengan tergesa gesa bu Ema berlari menyeret tangan Rara masuk ke dalam kamar nya.


"Kau tunggu disini dulu ya nduk, ibu akan segera kembali". Jelas bu Ema pada Rara yang tidak merespon ucapan ibu nya.


Setelah itu bu Ema berjalan keluar kamar nya untuk menemui Anto yang sudah duduk di meja makan.


"Kau baru pulang Le, makanlah dulu tadi ibu sudah memasak makanan kesukaan mbakyu mu Rara". Tukas bu Ema dengan seringai kecil di wajah nya.


Terlihat Anto mengernyitkan dahi nya berpikir serius kenapa bu Ema tiba-tiba memasak makanan yang disukai istri kakaknya, padahal sudah seminggu ini bu Ema nampak kehilangan semangat hidupnya dia hanya berbaring ditempat tidur nya dan susah untuk makan, tapi Anto tidak berani bertanya apa yang membuat bu Ema berubah menjadi bersemangat pada hari ini.


"Baiklah bu, aku akan makan jika kau mau makan bersamaku". Ucap Anto memaksa bu Ema makan bersama nya.


Kemudian kedua nya makan bersama dan sesekali bu Ema bercerita tentang anak perempuan nya yang sangat menyukai masakan semur ayam buatan nya, sedangkan Anto yang menanggapi cerita bu Ema dengan seringai di wajah nya nampak curiga dengan perubahan sikap bu Ema yang berubah drastis tidak seperti sebelumnya.


"Oh iya bu, dimana mas Ari kok tidak kelihatan?". Tanya Anto dengan penasaran.


"Oh anu itu kangmas mu sedang ada pekerjaan di kota, jadi tadi sore dia langsung berangkat tanpa memberitahumu". Cetus bu Ema membohongi Anto.


Setelah makan bersama bu Ema membereskan meja makan itu, lalu membawa sepiring makanan dan juga segelas air kedalam kamarnya, nampak Anto menatap heran melihat bu Ema yang baru saja makan bersamanya kembali membawa sepiring makanan kedalam kamar nya.


Kenapa bu Ema membawa makanan kedalam kamarnya, apa dia masih lapar ya, batin Anto didalam hati nya.


*


*


...Bersambung....