
Keesokan harinya jenazah Bambang sudah siap untuk di kebumikan, nampak arwah Bambang memandang seluruh keluarga nya dengan haru, terlihat pak Jarwo dan Rania datang untuk melayat.
Dan disana juga ada arwah Pardi yang akan menemani Bambang, sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya, terlihat Bambang melesat mendekati pak Jarwo, seraya mengatakan untuk memberitau Pardi supaya lekas kembali ke alam berikutnya.
"Waktuku sudah tidak lama, aku harus pergi sekarang juga, terima kasih karena kalian telah membantuku selama ini." ucap Bambang seraya menghilang dari pandangan mata pak Jarwo dan juga Rania untuk selamanya.
Tanpa terasa waktu pemakaman pun selesai, pak Jarwo menggunakan kekuatan batin nya untuk berbicara dengan Pardi, supaya dia dapat mengikuti jejak Bambang untuk segera kembali ke alam nya, tapi arwah Pardi justru menghilang setelah proses pemakaman Bambang selesai.
"Aku tidak bisa menemukan Pardi di sekitar sini nduk, lebih baik kita berpamitan dulu pada keluarga Bambang, dan mencari Pardi setelah ini sebelum dia berbuat nekat." ucap pak Jarwo pada Rania.
Kemudian pak Jarwo bersama Rania mengucapkan bela sungkawa pada ibu Bambang, nampak perempuan tua itu hanya bisa terisak dengan tatapan mata yang nanar.
"Yang sabar dan ikhlas bu, insyaAlloh almarhum akan tenang di alamnya." tukas pak Jarwo seraya menjabat tangan ibu Bambang.
Kemudian pak Jarwo bersama Rania kembali ke desa Rawa belatung, karena pak Jarwo ingin menjenguk simbah Parti yang sudah beberapa hari sakit.
"Simbah sakit apa to nduk, kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja." seru pak Jarwo yang sedang mengendarai sepeda motor.
"Bagaimana lagi pak simbahnya yang tidak mau, papa mama ku sudah memaksa simbah, tapi simbahnya selalu menolak untuk dibawa ke rumah sakit." jelas Rania diboncengan belakang.
Chiiit...
Pak Jarwo menginjak rem motor nya mendadak, karena dia melihat sosok arwah Pardi tengah berdiri dibawah pohon besar, lalu pak Jarwo turun dari sepeda motornya untuk mengetahui apa yang sedang Pardi lakukan disana, ternyata arwah Pardi sedang berbicara dengan genderuwo penunggu pohon itu.
Apa yang Pardi bicarakan dengan makhluk gaib itu, batin pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.
Lalu pak Jarwo menggunakan mata batin nya untuk mengetahui apa yang Pardi lakukan disana, terlihat mulut pak Jarwo komat-kamit membaca rapalan mantra seraya memejamkan kedua matanya.
Nampak di penglihatan batin pak Jarwo, jika Pardi sedang melakukan perjanjian dengan genderuwo penunggu pohon besar itu, Pardi ingin memiliki kekuatan supaya dia bisa membalas dendam pada pak Rahmat, dan sebagai gantinya Pardi bersedia menjadi budak genderuwo itu, Pardi sudah hilang akal karena dendam sudah menguasai jiwa nya.
Ternyata aku sudah terlambat untuk membuat Pardi sadar, jika dendam hanya akan membuat jiwa nya semakin sengsara, batin pak Jarwo didalam hatinya.
Lalu pak Jarwo membuka kedua mata nya, dan menghembuskan nafasnya panjang, kemudian pak Jarwo kembali mengendarai sepeda motornya, terdengar Rania bertanya pada pak Jarwo kenapa dia nampak gelisah.
"Tadi aku melihat arwah Pardi nduk, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu, demi memiliki kekuatan untuk membalas dendam pada pak Rahmat, Pardi rela menjadi budak penunggu pohon besar di tepi jalan tadi." jelas pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Astagfirullohaladzim, bagaimana dia bisa nekat seperti itu pak, harusnya dia bisa kembali ke alam nya, tapi kenapa Pardi memilih untuk membalas dendam, padahal pak Rahmat juga sudah mendekam di dalam penjara." ucap Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.
Lalu pak Jarwo hanya mengatakan jika dendam sudah menguasai jiwa Pardi, meski pak Rahmat sudah mendapatkan hukuman dari pihak yang berwajib, Pardi masih ingin membalaskan dendam nya.
Dan sesampainya di desa Rawa belatung, nampak rumah Rania sudah ramai tetangga yang berkerumun di teras, Rania yang merasa terkejut melihat kerumunan itu, segera turun dari boncengan motor dan berlari masuk ke dalam rumah.
Nampak di dalam rumah simbah sudah banyak orang yang membacakan ayat-ayat suci, dan ternyata di dalam kamar sana ada simbah Parti yang sedang tidak sadarkan diri.
"Simbah huhuhu... Ada apa dengan simbah ma?." tanya Rania berderai air mata.
Kemudian Anggi menceritakan pada anak gadis nya, jika simbah tiba-tiba tidak sadarkan diri, dan tidak ada yang tau kapan kejadian nya.
Nampak bude Walimah dan Wati sedang membacakan doa untuk simbah dengan meneteskan air mata kesedihan, sedangkan pak Jarwo yang baru saja masuk ke dalam rumah hanya bisa menundukan kepalanga.
Terlihat mbah Karto baru saja tiba, dengan berjalan terburu-buru masuk ke dalam rumah, nampak kedua nya berbincang dengan wajah sendu, sedangkan Rania yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik kedua orang sakti itu, merasa penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
Jangan-jangan mereka sedang membicarakan simbah, aku harus bertanya ada apa sebenarnya, batin Rania didalam hatinya.
Kemudian Rania melangkahkan kaki nya, berjalan menghampiri mbah Karto yang sedari tadi menundukan kepalanya.
"Mbah Karto sebenarnya ada apa inj, kenapa simbahku tidak sadarkan diri, dan banyak orang yang membacakan doa seperti ini, simbahku baik-baik saja kan mbah." tukas Rania dengan mata berkaca-kaca.
"InsyaAlloh nduk simbahmu tidak akan kenapa-kenapa, kau berdoa lah bersama Wati dan bude mu, biar aku dan Jarwo saja yang menjaga simbahmu." tukas mbah Karto dengan mengusap lembut rambut Rania.
Lalu Rania berjalan gontai menghampiri Wati yang sedang duduk dan membacakan ayat-ayat suci, nampak Rania hanya terdiam disamping Wati tanpa membacakan doa, pikiran Rania sedang menerka-nerka apa yang mbah Karto dan pak Jarwo bicarakan, karena wajah keduanya terlihat sangat sedih.
Oh iya Petter pasti tau sesuatu dimana dia, batin Rania dengan memandang ke segala arah.
Setelah itu Rania bangkit dari duduknya, untuk mencari dimana keberadaan sahabat tak kasat mata nya, Rania berjalan gontai ke gudang belakang tapi disana tidak ada siapapun.
Gudang ini kosong kedua orang tua Petter juga tidak ada, gumam Rania pada dirinya sendiri.
Kemudian Rania berjalan keluar lewat pintu belakang rumahnya, dan disana nampak Petter dan kedua orang tua nya yang sedang berdiam diri dibawah rerimbunan pohon.
"Petter aku mencarimu kemana-mana ternyata kau disini bersama mama dan papamu, hari ini aku sangat sedih Petter." ucap Rania dengan wajah sendu.
Lalu Evana melesat mendekati Rania, dan mengatakan padanya supaya dia bisa tegar dengan keadaan saat ini.
"Itulah aunty aku sangat cemas memikirkan simbah, jujur saja aku berpikiran jelek ketika melihat simbah tidak sadarkan diri." jelas Rania menundukan kepalanya.
"Apapun yang terjadi kau harus sabar sayang, jangan bersedih lagi lebih baik kau berdoa saja untuk simbah Parti." ucap Evana dengan wajah sendu.
"Apakah simbahku akan tiada aunty?." tanya Rania dengan suara yang bergetar.
Nampak Evana hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Rania, ketiga jiwa tak kasat mata itu tertunduk pilu mendengar ucapan Rania.
Lalu Petter melesat mendekati sahabatnya itu, dan mengatakan padanya jika bayangan hitam yang akhir-akhir ini berada didekat simbah, semakin sering mendatangi simbahnya.
"Itu adalah pertanda jika jiwa simbah akan segera berpulang Rania, kau harus sabar dan menerima semuanya, lekaslah kembali ke dalam rumah dan habiskan waktumu untuk mendoakan simbah Parti." tukas Petter memandang haru sahabatnya.
*
*
...Bersambung....