
Proses pemakaman jenazah mbah Wongso berjalan dengan lancar meski ada beberapa kendala disaat penguburan nya, karena lobang kuburan nya tidak muat dan sudah dua kali di gali ulang tapi tetap saja jenazahnya tidak bisa masuk ke liang lahat.
Dan pak haji Faruk mengusulkan untuk menekuk kaki jenazah mbah Wongso, supaya proses pemakaman itu cepat selesai, nampak mbah Karto selaku keluarga almarhum tidak dapat berkata apa-apa lagi selain mengikuti saran pak haji Faruk.
Krraaaks...
Terdengar suara tulang yang patah, membuat suasana di pemakaman itu semakin mencekam, terlihat beberapa orang menutupi kedua telinga nya, karena miris mendengar suara tulang kaki yang patah itu.
"Oalah pak, aku kok merinding gini ya, memang azab kubur itu nyata yo". Ucap bu Siti pada pak Dahlan.
"Iya lah bu, apalagi mengingat semua perbuatan almarhum semasa hidupnya, semoga Alloh mengampuni semua dosa-dosa almarhum". Tukas pak Dahlan.
Dan setelah proses pemakaman selesai, nampak semua warga mulai meninggalkan tempat pemakaman itu, yang tersisa hanya ada pak Jarwo dan mbah Darmi yang menemani mbah Karto, yang masih berjongkok untuk mendoakan saudaranya itu.
Lalu mbah Darmi mengajak suaminya kembali ke rumah bersama pak Jarwo juga, sedangkan Rania yang sudah berjalan terlebih dulu ke rumah simbahnya nampak masih memikirkan seorang perempuan yang parasnya sangat mirip dengan Lala.
"Petter apakah kau masih mau membantuku?". Tanya Rania memandang Petter yang sudah melesat mendahuluinya.
Kemudian Petter membalikan jiwa tanpa raganya, memandang Rania dengan penuh curiga.
"Apa yang harus aku lakukan untukmu Rania". Jawab Petter seraya melesat mendekati sahabatnya itu.
"Bisakah kau kembali ke desa Randu garut, dan memeriksa seluruh penjuru hutan disana, karena tadi aku sempat melihat seorang perempuan yang sangat mirip dengan Lala, tapi menurut pak Jarwo aku salah melihat, tapi sebelumnya aku sudah memastikan penglihatanku itu, dan aku rasa yang aku lihat memang Lala, tapi yang menjadi pertanyaanku kenapa Lala tidak pulang ke rumahnya, dan malah berkeliaran disekitar hutan". Ucap Rania dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Plaak...
Ada seseorang yang menepuk pundak Rania dari belakang, nampak Rania sangat terkejut dan segera membalikan badan nya ke belakang, ternyata Wati yang baru saja dari warung mengagetkan Rania yang sedang berbicara sendiri dengan sahabat hantu nya.
"Kau itu jangan dibiasakan ngomong sendiri ditengah jalan, nanti kalau ada yang melihatnya mereka bisa menyangka salah satu cucu simbah Parti ada yang gila hahaha". Seloroh Wati.
"Kau itu mengagetkanku saja, ngomong-ngomong kenapa kau dan bude tidak hadir di pemakaman tadi?". Tanya Rania dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Itu simbah sedang tidak enak badan, jadi ibu menjaga simbah di rumah, sedangkan aku harus membantu membersihkan rumah, ini saja aku baru pulang membeli sabun cuci". Jawab Wati seraya menunjukan bungkusan sabun deterjen.
Lalu Rania hanya terdiam tidak menanggapi percakapan Wati, dan Wati yang sangat mengenal sepupunya itu nampak menganggukan kepalanya.
"Katakanlah apa yang mengganjal didalam hatimu, aku tau kau sedang memikirkan sesuatu". Cetus Wati menatap tajam pada Rania.
"Tadi aku melihat Lala, tapi pak Jarwo tidak percaya padaku, sebenarnya aku juga tidak terlalu yakin jika itu Lala, karena aku sempat melihat sekilas kehidupan Lala di alam gaib sana dengan suami buto nya itu". Jelas Rania dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Lalu bagaimana Rania, padahal sebentar lagi akan ada ujian kelulusan sekolah, apakah Lala bisa mengikutinya?". Tanya Wati mengkerutkan keningnya.
"Entahlah Wat, aku juga tidak tau, kasihan sekali Lala harus menerima nasib yang buruk seperti itu". Jawab Rania dengan mata berkaca-kaca.
**Assalamualaikum, seru Rania dan Wati bersamaan.
Waalaikumsalam, sahut bude Walimah**.
Kemudian Rania mengecup punggung tangan bude nya seraya memeluk erat tubuhnya.
"Kau kenapa nduk cah ayu". Ucap bude Walimah seraya mengusap lembut rambut Rania.
"Tidak apa-apa bude, Rania hanya rindu mama dan papa saja, sebentar lagi kan Rania mau ujian sekolah". Ujar Rania dengan wajah sendu nya.
"Tapi bude Rania tidak mau jauh dari kalian semua". Sahut Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Ya sudah dibahas nanti saja, kalau mama dan papamu datang, sana mandi dulu habis ziarah to kamu". Seru bude Walimah seraya berjalan kembali ke dapur.
Setelah itu Rania berjalan ke kamarnya untuk mengambil baju ganti, tapi tiba-tiba Petter bersama kedua orang tuanya datang melesat mengagetkan nya yang sedang melamun.
"Astagfirullahaladzim, kalian mengagetkanku saja". Celetuk Rania dengan memegangi jantungnya yang berdetak kencang.
Kemudian Evana dan Jansen menanyakan tentang apa yang dia katakan tadi pada Petter.
"Oh iya aunty aku hampir saja melupakan nya, kalian semua masih mau kan membantuku untuk mencari tau dimana keberadaan Lala". Tukas Rania memandangi ketiga hantu yang ada dihadapan nya.
Lalu Evana pun menjawab jika mereka semua akan selalu membantu Rania kapan pun itu selama mereka semua mampu.
"Jadi begini aunty bisakah kalian semua kembali ke desa Randu garut dan berpencar disekitar hutan yang ada disana, karena tadi aku benar-benar melihat Lala disana, yang masih membuatku bingung kenapa Lala tidak kembali ke rumahnya jika memang dia sudah berhasil keluar dari alam gaib itu". Seru Rania dengan menghembuskan nafas yang panjang.
Setelah itu Evana meminta Petter untuk tetap tinggal di rumah bersama Rania, karena Evana dan Jansen saja yang akan mencari tau kebenaran itu, nampak Evana sudah tidak ingin membahayakan jiwa anak semata wayangnya.
Wuuussh...
Evana dan Jansen sudah melesat meninggalkan kamar Rania, dan Petter pun tetap tinggal disana.
Sementara itu mbah Karto yang sudah berada di rumahnya, nampak terduduk lesu dengan wajah yang sendu.
"Sudah to pak, jangan dipikirkan terus ikhlaskan saja semuanya, sudah menjadi takdir Wongso untuk menerima semua karma buruknya". Ucap mbah Darmi pada suaminya.
Lalu pak Jarwo bersama Anto dan pak Dahlan membantu merapikan rumah mbah Karto untuk dipakai tahlilan di malam hari nya.
"Maaf mbah aku tidak bisa berlama-lama disini, karena di rumah Kasmi dan bapak mertuaku sendirian pasti mereka sedang sangat bersedih". Tukas pak Jarwo pada mbah Karto dan juga mbah Darmi.
"Iya Le tidak apa-apa kami mengerti dengan kondisimu, setelah ini kembali lah ke rumah mertuamu, aku akan membantumu membebaskan Lala dari alam gaib setelah tujuh hari kematian Wongso selesai". Jelas mbah Karto dengan memijat pangkal hidungnya.
Kemudian pak Jarwo berpamitan pada semua orang, dan segera kembali ke desa Randu garut di antar oleh Anto menggunakan sepeda motornya.
Dan disepanjang perjalanan nampak pak Jarwo merasakan jika ada makhluk halus yang mengikutinya, lalu pak Jarwo yang duduk di belakang boncengan Anto nampak memejamkan kedua matanya untuk melihat siapa yang sedang mengikutinya.
Bukankah itu hantu yang selalu bersama Rania, kenapa mereka berdua mengikutiku kembali ke desa Randu garut, batin pak Jarwo dengan mengkerutkan keningnya.
Setelah itu pak Jarwo meminta Anto untuk menghentikan laju sepeda motornya, karena pak Jarwo ingin berkomunikasi dengan kedua hantu yang sedang mengikutinya itu.
"Sebentar ya To, kau tunggu disini dulu ada hal penting yang harus aku lakukan". Cetus pak Jarwo seraya berjalan agak menjauh dari Anto.
*
*
...Author ingin mengucapkan terima kasih banyak pada semua pembaca yang selalu setia memberikan dukungan, baik itu dengan Vote hadiah atau sekedar membaca dari bab awal sampai akhir, terus dukung karya ku ya sampai akhir cerita ini terima kasih semuanya 😊🙏...
...Bersambung....