DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Melakukan perjalanan ke gunung wingit.


Perempuan itu hanya berdiri mematung tanpa ekspresi apapun lalu dari belakang nya menyusul simbah Parti yang Berusah menenangkan perempuan itu.


"Yang sabar Yu sebentar lagi semua masalah ini akan selesai, kang Karto akan segera kembali bersama mu". Ucap simbah Parti pada mbah Darmi istri dari mbah Karto.


Tanpa menjawab ucapan simbah Parti nampak mbah Darmi begitu bersedih terlihat dari kelopak mata nya yang membesar dan sembab, dengan lirih mbah Darmi mengatakan jika dia tidak ingin suami nya berususan dengan hal gaib lagi.


"Ya sudah Yu nanti dibicarakan kalau kang Karto sudah disini". Tukas simbah Parti seraya memeluk mbah Darmi yang sangat terpukul itu.


"Aku hanya ingin bahagia dengan suami ku untuk menjalani masa tua kami bersama tanpa ada urusan dengan makhluk gaib lagi Par". Terang mbah Darmi dengan berderai air mata.


Kemudian pak Jarwo datang menghampiri Kedua perempuan tua itu dan mengatakan jika dia bersedia menggantikan mbah Karto mengemban tugas di desa itu untuk menjaga semua warga desa Rawa belatung.


"Tapi apa kau sanggup Le, tugas suami ku tidak lah mudah bisa-bisa nyawa mu sendiri harus kau korbankan". Seru mbah Darmi terisak.


"InsyaAllah mbah saya siap, dan setelah mbah Karto kembali saya akan belajar lagi tentang ilmu supranatural yang beliau miliki supaya saya mampu menggantikan beliau menjaga semua warga desa". Tukas pak Jarwo dengan menganggukan kepala.


Dan setelah meyakinkan istri mbah Karto, pak Jarwo pamit untuk pergi ke balai desa menemui pak haji Faruk karena mereka berdua harus segera pergi ke puncak gunung yang ada di belakang desa.


Sesampainya di balai desa nampak semua warga sedang mengikuti acara pengajian dengan khusyuk meski saat itu sedang hujan deras tapi tidak menyurutkan semangat semua orang.


**Assalamuallaikum, sapa pak Jarwo pada semua orang.


Waalaikumsallam, sahut semua yang ada disana**.


Setelah itu pak Jarwo duduk dibarisan paling depan yang memang sudah disiapkan jika dia sudah kembali dari perjalanan gaib nya, nampak Rania dan Wati tersenyum bahagia melihat kedatangan pak Jarwo di balai desa.


"Eh Ran lihatlah pak Jarwo sudah kembali, pasti mbah Karto dan yang lain nya sudah di rumah". Bisik Wati ditelinga Rania.


"Entahlah Wat, semoga saja ucapanmu itu benar". Sahut Rania dengan menghembuskan nafas yang panjang.


Setelah acara pengajian akbar itu selesai pak Jarwo bergegas menghampiri pak haji Faruk yang sedang berbincang dengan para santri dari pondok pesantren nya.


"Assalamuallaikum pak haji". Ucap pak Jarwo dengan menepuk pundak pak haji Faruk.


"Waalaikumsallam, bagaimana pak keadaan disana". Tukas pak haji Faruk dengan mengkerutkan kening nya.


Kemudian pak Jarwo menjelaskan apa yang terjadi di dimensi gaib dan tentang pesan mbah Karto yang meminta pak haji Faruk untuk naik ke puncak gunung yang berada di belakang desa dan melepaskan jiwa Ari dari ikatan tali suci yang telah dia doakan, dan setelah mendengar semua penjelasan pak Jarwo nampak pak haji Faruk mengerti dan akan bersiap untuk melakukan perjalanan ke puncak gunung bersama pak Jarwo.


"Kalau begitu saya pulang ke rumah dulu dan membawa yang kita butuhkan siapa tau ada kendala selama di perjalanan". Terang pak haji Faruk dengan wajah cemas nya.


Dan setelah pak haji Faruk memutuskan untuk kembali ke rumah nya nampak pak Jarwo berdiri dengan mendongakan kepala nya ke atas.


Ya Allah bagaimana kami akan melakukan perjalanan ke puncak gunung jika keadaan nya masih hujan seperti ini, batin pak Jarwo didalam hati nya.


Lalu datanglah Petter yang menghambur dengan cepat ke samping pak Jarwo dan mengatakan jika terkadang cuaca di desa dan di gunung itu berbeda bisa jadi disana tidak hujan, karena dulu semasa Petter hidup dia pernah melakukan perjalanan ke gunung itu dan tejadi perbedaan cuaca disana.


"Baiklah nak jika memang seperti itu kami akan tetap melakukan perjalanan ini". Tukas pak Jarwo dengan lega.


"Bolehkah aku membantu pak, aku juga ingin menyelamatkan kedua orang tua ku". Ucap Petter dengan mata berkaca-kaca.


Setelah semuanya siap pak Jarwo dan pak haji Faruk bergegas melakukan perjalanan ke puncak gunung wingit yang berada di belakang desa itu, meski ada beberapa warga yang menawarkan bantuan untuk membantu diperjalanan ini, pak Jarwo menolak dengan tegas karena alasan keselamatan warga.


Seperti yang warga desa tau selama ini ternyata penunggu gunung dan penunggu hutan angker itu bermusuhan dan pak Jarwo tidak ingin ada warga yang celaka jika mereka ikut melakukan perjalanan ini.


Sesampainya pak Jarwo dan pak haji Faruk di perbukitan gunung itu terlihat keduanya melakukan doa bersama, dan ternyata cuaca disana memang berbeda dengan cuaca di desa Rawa belatung.


Sore itu pak Jarwo melakukan perjalanan terlebih dulu untuk memberikan jalan yang aman untuk pak haji Faruk tapi kedua nya terhenti karena mendengar suara berdeham yang kencang.


Jangan-jangan penunggu gunung ini sudah mulai menunjukan eksistensi nya, batin pak Jarwo didalam hati nya.


Ternyata ada sesosok buto tinggi besar sedang menatap tajam dengan kedua mata yang besar dan memerah dengan kuku tajam tengah menggaruk batang pohon yang ada di sebelah pak haji Faruk, buto itu hendak merubuhkan pohon besar itu untuk mencelaki pak haji Faruk.


Bruuk...


Pohon itu tumbang dan hampir menimpa tubuh pak haji Faruk, lalu dengan cepat pak Jarwo datang untuk mendorong tubuh pak haji supaya tidak tertimpa pohon besar itu.


Awww... Pekik pak Jarwo yang sebelah tangan nya terjepit batang pohon besar itu.


"Astagfirullah, pak Jarwo". Seru pak haji Faruk berlari seraya mendorong batang pohon itu.


Tapi usaha pak haji Faruk mustahil karena tenaga nya tidak cukup kuat untuk menggeser batang pohon besad itu, sementara buto dengan kuku tajam itu berusaha menggapai tubuh pak haji Faruk yang sedang berjongkok di tanah karena ingin menolong pak Jarwo.


"Awas pak haji menyingkirlah". Teriak pak Jarwo dengan membulatkan kedua mata nya.


Dan disaat buto itu menyentuh tubuh pak haji dan mengangkat nya ke ketinggian nampak buto itu tertawa dengar air ludah yang berpercikan seperti air hujan, lalu pak haji Faruk berpasrah diri pada Allah dengan memejamkan kedua mata nya beliau membacakan ayat-ayat suci.


Bismilahirahmanirahim...


Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir.


Untuk sejenak suasana disana menjadi hening dan terdengar suara berat yang ikut membacakan ayat-ayat suci.


Allahumma inni a’udhu bika min zawali ni’matik, wa tahawwuli‘ afiyatik, wa fuja’ati niqmatik, wa jami’i sakhatik.


Setelah mendengar bacaan ayat suci itu pak haji Faruk mendongakan kepala nya ke atas dan nampak terkejut setelah mengetahui jika buto itulah yang membaca ayat suci tadi.


"Subhanallah, siapakah kau sebenarnya". Pekik pak haji Faruk dengan membulatkan kedua mata nya.


*


*


...Bersambung....


...Mari kak tinggalkan jejak like, hadiah atau vote nya dan bantu Author untuk rate bintang ⭐ lima semoga menjadi berkah di awal ramadhan ini kak, selamat menunaikan ibadah puasa untuk kakak readers yang menjalankan nya, maaf lahir batin ya kalau Author ada kesalahan dalam penulisan 😊🙏...