DESA RAWA BELATUNG

DESA RAWA BELATUNG
Jelmaan Jin Muslim.


"Aku adalah Yai Renggo dari golongan Jin Muslim yang menjaga gunung ini, aku tidak ingin orang sesat mencemari kesucian tempat ini dengan melakukan ritual ilmu hitam". Sahut buto itu seraya merubah wujud nya menjadi seorang laki-laki tua dengan jenggot putih yang panjang serta memakai sorban di kepala nya.


"Subhanallah... Assalamuallaikum Yai Renggo, maafkan atas kelancangan kami datang memasuki tempat ini tanpa ijin darimu, tapi sebelum melakukan perjalanan sampai di tempat ini kami telah berdoa dan meminta ijin pada Allah SWT". Tegas pak haji Faruk yang kini bertatap muka dengan Yai Renggo.


"Waalaikumsallam, siapakah manusia yang bersamamu wahai manusia yang beriman? aku mencium aroma gaib dari dalam tubuh nya, dan aku mengira kalian adalah dari golongan manusia yang sesat". Jelas Yai Renggo dengan menunjukan jari telunjuknya ke arah pak Jarwo yang tengah tergeletak di tanah karena sebelah tangan nya masih tertindih batang pohon.


"Begini Yai kami sedang dalam perjalanan untuk membebaskan jiwa seseorang yang tertahan di goa ngerogo sukmo, dan manusia yang kau maksud itu adalah manusia baik yang ingin membebaskan jiwa-jiwa manusia yang tidak bersalah, yang saat ini berada di hutan angker karena ditahan oleh anak penguasa gaib yaitu Sukma melati, tolong Yai lepaskan laki-laki itu dia memiliki aroma gaib setelah melakukan perjalanan ke dimensi gaib untuk melakukan pertukaran dengan Sukma melati, sesungguhnya dia adalah dari golongan manusia beriman juga sama sepertiku". Tandas pak haji Faruk menjelaskan pada Yai Renggo.


Setelah mendengar penjelasan pak haji Faruk nampak ki Renggo menerawang dengan mata batin nya, untuk mengetahui kebenaran cerita pak haji, lalu Yai Renggo terlihat mengangkat batang pohon besar itu dengan tenaga dalam nya dan berusaha mengobati tangan pak Jarwo yang tadi patah karena tertimpa batang pohon yang besar.


"Berdirilah Le, aku sudah melihat semua kebenaran nya dan aku percaya kau bukan manusia sesat, lekaslah pergi ke puncak gunung sana dan aku akan mengiringi perjalanan kalian supaya tidak ada makhluk gaib yang mengganggu perjalanan kalian". Tegas Yai Renggo dengan mengusap jenggot panjang nya.


"Terima kasih Yai Renggo kami permisi dulu". Ucap pak haji Faruk dan pak Jarwo bersamaan.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke puncak gunung itu, hampir tidak ada gangguan lagi selama perjalanan, dan tidak lama setelah itu pak haji Faruk dan pak Jarwo istirahat sejenak untuk melakukan shalat magrib dan isya bersamaan karena tadi tidak sempat melakukan shalat magrib dikarenakan terkendala oleh cuaca yang tiba-tiba gerimis.


Ternyata Yai Renggo ikut berjamaah melakukan shalat bersama pak haji dan juga pak Jarwo, setelah itu Yai Renggo menceritakan sedikit sejarah masa lalu saat anak dari Raja penguasa gunung itu hendak memperistri Sukma melati tapi Romo nya tidak memberi restu di karenakan pangeran Asopati adalah jin golongan muslim, akhirnya cinta kedua nya tidak pernah bersatu dan terjadi permusuhan di antara kedua kubu.


Semenjak lamaran pangeran Asopati ditolak oleh raja penguasa hutan angker, raja penguasa di gunung ini pun memberi perintah jika semua manusia sesat yang menganut ilmu hitam seperti keyakinan yang di anut raja hutan angker itu maka semua penunggu di gunung ini akan mencelakai bahkan menghilangkan nyawa manusia itu sendiri.


"Sebenarnya aku sudah mencium keberadaan jiwa sesat di puncak gunung ini tapi aku tidak dapat menemukan jiwa yang sesat itu, seperti ada kekuatan putih yang melindungi nya". Tukas Yai Renggo dengan tatapan nanar memandang ke arah puncak gunung.


Terlihat pak haji Faruk dan pak Jarwo saling memandang, mereka bergumam dalam hati nya masing-masing.


Pasti yang dimaksud Yi Renggo adalah Ari, suami dari Sukma melati, batin pak haji Faruk dan pak Jarwo didalam hati nya.


Lalu Yi Renggo menatap tajam pada keduanya dengan mengkerutkan kening nya yang sudah dimakan usia.


"Apa yang kalian berdua katakan didalam hati, aku tau kalian menyebut tentang Sukma melati apa kalian mengetahui tentang suami nya?". Tanya Yai Renggo dengan membulatkan kedua mata nya.


Terlihat wajah pak haji Faruk dan pak Jarwo sedikit pucat, mereka lupa untuk sesaat jika makhluk seperti Yi Renggo ini sudah pasti dapat mendengar kata hati mereka, dan dengan membulatkan tekad nya pak Jarwo berusaha mengatakan yang sebenarnya pada Yi Renggo.


"Jadi begini Yi, ada seorang warga desa yang telah bersekutu dan menikahi Sukma melati, dan semenjak itu semua warga desa sering di celakai oleh semua makhluk gaib dari hutan angker itu, bahkan beberapa jiwa warga desa itu telah di kurung oleh Sukma melati, jika kami menginginkan jiwa-jiwa tidak berdosa itu terlepas dari cengkeraman Sukma dia meminta syarat untuk mengembalikan suami nya ke alam nya, yang menjadi kendala saat ini adalah jiwa sesat di atas puncak gunung itu adalah jiwa seorang warga yang telah memperistri Sukma melati, bahkan kami sangat hawatir dengan kondisi sesepuh desa itu karena raga nya semakin lemah karena terlalu lama terpisah dari jiwa nya". Ucap pak Jarwo dengan menghembuskan nafas yang panjang.


"Jika benar seperti itu aku harus melenyapkan jiwa manusia sesat itu". Seru Yai Renggo dengan suara berat nya.


"Tolong Yi jangan musnahkan jiwa manusia itu, karena jika kami tidak menukar jiwa manusia itu dengan beberapa jiwa warga desa maka Sukma melati tidak akan melepaskan jiwa-jiwa yang tidak berdosa itu". Jelas pak Jarwo memohon pada jin muslim penjaga gunung itu.


"Kalian tidak perlu memohon padaku, karena sebenarnya manusia adalah makhluk yang paling sempurna daripada sesosok jin seperti ku, dan sekarang aku hanya bisa memberi kalian waktu sampai tengah malam nanti jika kalian belum berhasil melepaskan jiwa manusia sesat itu dari gunung ini, maka aku sendiri yang akan melenyapkan jiwa manusia sesat itu". Seru Yai Renggo.


Setelah mendengar ucapan Yi Renggo pak haji Faruk dan pak Jarwo bergegas melanjutkan perjalanan ke puncak gunung itu.


Sementara kondisi raga mbah Karto yang berada di rumah nya terlihat semakin memburuk, detak jantung mbah Karto mulai melemah dengan deru nafas yang berat, dengan berderai air mata mbah Darmi berkata jika dia sudah tidak sanggup melihat kondisi raga suami nya yang sudah tidak bisa bertahan lama lagi.


"Pri tolong bacakan ayat suci untuk mbah Karto, aku sudah tidak tega melihat kondisi fisik nya". Ucap mbah Darmi terisak karena putus asa.


"Ta tapi mbah, kita harus menunggu pak haji dan pak Jarwo dulu untuk memastikan kondisi mbah Karto". Tukas pak Sapri dengan menundukan kepala nya.


"Kau mau mendoakan suami ku atau tidak Pri". Pekik mbah Darmi membentak pak Sapri.


Dan dengan berat hati pak Sapri bersama warga yang lain nya menuruti perintah mbah Darmi untuk membacakan ayat-ayat suci.


Bismilahirrahmanirahim...


Syafakallahu saqamaka, wa ghafara dzanbaka, wa 'afaka fīidinika wa jismika ila muddati ajalika.


Entah kenapa setelah mendengar ayat suci tubuh mbah Karto bergetar hebat, keringat membanjiri wajah tua nya, terdengar mbah Darmi berteriak memanggil nama mbah Karto dengan berderai air mata.


"Bapak, bangun pak". Pekik mbah Darmi mengagetkan semua orang yang tengah membacakan ayat suci.


Kemudian mereka semua berlari ke dalam kamar mbah Karto untuk melihat kondisi beliau.


*


*


...Bersambung....