
"Loh bapak kok belum berangkat to, nanti keburu imsyak lho". Seru seorang perempuan paruh baya.
"Ini lho bu mau ambil air buat wudhu kok malah banyak ceceran darah disini". Sahut laki-laki itu.
Kemudian perempuan itu berjalan menghampiri suaminya, dan betapa terkejutnya setelah dia melihat darah yang tercecer disana.
"Astagfirullohaladzim darah siapa ini pak". Seru perempuan itu.
"Ya mana bapak tau bu, aku datang kesini sudah ada banyak darah, malah bapak kira ini darah ayam bu". Tukasnya.
"Mana mungkin darah ayam sebanyak ini pak, lagipula siapa yang pagi buta potong ayam disini, kok ibu jadi mikir yang tidak-tidak ya pak". Ujar ibu itu.
"Memang tidak biasanya sih bu, ada apa ya sebenarnya". Tukas bapak itu seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kemudian ibu itu memandang ke segala arah karena perasaan nya tidak enak, dan terlihat tidak jauh dari sana ada bekas darah yang berceceran ke suatu tempat.
"Pak pak lihatlah disana seperti ada bekas darah yang mengarah ke suatu tempat, tanda ditanah itu seperti ada sesuatu yang diseret kesana juga". Ucap ibu itu dengan mengarahkan jari telunjuknya.
"Wah iya bu kau benar sekali, bekas seretan apa ya itu kok besar sekali, kalau ayam yang diseret tidak mungkin sebesar itu bu". Tukas bapak itu.
"Ya ibu juga tau pak, sudah pasti itu bukan ayam yang disembelih tapi kan kita harus sholat dulu pak, lebih baik kita ke mushola dulu, ibadah itu nomer satu pak". Seru istrinya.
Setelah itu sepasang suami itu pergi ke mushola, sementara pak Rahmat yang menyadari kebodohan nya teringat sesuatu ditengah perjalanan nya.
Sial kenapa aku lupa untuk menghilangkan bekas-bekas darah Pardi yang tertinggal disana, aku harus kembali kesana dan menghilangkan semua tanda itu, supaya tidak ada bukti jika ada sebuah kejadian disana, tapi kalau sudah ada warga yang tau bagaimana ini, aah sudahlah lebih baik aku kembali untuk menghilangkan semua bukti itu, dan jika ada warga yang curiga padaku, aku kan bisa berdalih, batin pak Rahmat didalam hatinya seraya memutar kembali sepeda motornya.
Sesampainya di perkebunan itu pak Rahmat berjalan perlahan, supaya dia tidak menimbulkan bunyi dari langkah kaki nya, nampak kedua matanya sigap memandang ke segala arah, hawatir jika ada seseorang yang mengetahui keberadaan nya.
Untung saja tidak ada orang disini, aku harus segera menyiram darah inj sebelum kering dan susah disiram, batin pak Rahmat seraya menimba air di sumur dan menyiram bekas darah Pardi yang berceceran.
Setelah selesai dengan urusan menyiram darah, pak Rahmat bergegas menghilangkan bekas seretan mayat Pardi dengan menimbun nya dengan tanah yang baru, dengan susah payah pak Rahmat meraup tanah di tempat lain dan menutupnya dibekas tanah seretan Pardi.
Untung jejak ini sudah ku tutup menggunakan tanah, sekarang aku harus mengikuti jejak seretan yang lain nya dan menimbun nya dengan tanah yang baru, supaya warga tidak melihat jejak seretan tubuh Pardi, dan perbuatanku akan aman, gumam pak Rahmat pada dirinya sendiri.
Setelah itu pak Rahmat menutupi semua bekas kejahatan nya, dia nampak lega karena belum ada warga yang mengetahui perbuatan nya disana, lalu pak Rahmat mengusap peluh dikeningnya seraya berjalan tertatih, tanpa pak Rahmat sadari didepan sana ada beberapa warga yang baru pulang dari mushola.
"Assalamualaikum, bapak mau kemana?". Sapa salah satu warga.
Sial aku tidak melihat jika banyak orang yang baru saja pulang dari mushola, batin pak Rahmat dengan mengkerutkan keningnya.
"Ehm anu pak, sa sayaa ingin membeli sayuran langsung dari petani". Sahut pak Rahmat berdalih.
"Jam segini masih belum ada di kebun pak, mungkin ada yang bisa saya bantu, kebetulan saudara saya juga petani disini". Jelas bapak itu tanpa curiga.
Kemudian bapak itu mengajak pak Rahmat ke rumah, nya untuk bertemu dengan saudaranya yang petani sayur.
Sementara pasangan suami istri tadi, yang baru saja kembali dari muhshola nampak heran, karena bekas darah di dekat sumur dan juga di jalanan setapak itu sudah menghilang.
"Loh pak kok sudah tidak ada ya bekas darah disini, dan bekas ceceran darah di jalan itu sudah hilang". Seru ibu itu pada suaminya.
"Iya bu semuanya sudah hilang, sebenarnya ada apa ya bapak jadi curiga". Ucap laki-laki itu.
Tapi tiba-tiba ponsel laki-laki itu berdering, ada panggilan telepon dari saudaranya, yang memberitau jika ada pembeli yang ingin memborong hasil kebun nya.
"Baiklah mas aku akan segera ke rumahmu". Sahutnya.
Kemudian laki-laki itu berpamitan pada istrinya, karena saudara nya memberi kabar kalau ada pembeli yang akan memborong hasil kebun nya.
Setelah itu laki-laki itu pergi ke rumah saudaranya, yang ternyata adalah warga yang mengajak pak Rahmat ke rumahnya.
"Assalamuallaikum". Serunya.
"Waalaikumsalam Ceng, sini duduk dulu". Sahut pak Kardi.
"Ada apa mas Kardi memintaku kesini?". Tanya Aceng dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Ini loh Ceng, pak Rahmat ini mau memborong hasil kebunmu, karena dia ada pesanan banyak untuk dagangan nya". Jelas pak Kardi dengan senyum ramahnya.
Kemudian Aceng berkenalan dengan pak Rahmat, mereka berbincang tentang has kebun yang melimpah di tahun ini, setelah itu Aceng mengatakan sesuatu pada pak Kardi tentang dadah yang ada disekitar sumur tadi.
"Aku dan istriku melihat sendiri mas, banyak darah berceceran dan juga bekas sesuatu yang diseret ditanah, tapi disaat kami ingin menyelidikinya, kami teringat jika harus ke mushola, tapi disaat kami kembali kesana semua bekas darah itu sudah hilang, bahkan bekas seretan sesuatu itu juga tidak ada lagi, kami jadi takut kalau itu ada hubungan nya dengan perbuatan kriminal seseorang". Jelas Aceng dengan wajah yang cemas.
Nampak pak Rahmat berkeringat dingin setelah mendengar cerita Aceng, wajahnya berubah pucat karena dia sangat ketakutan.
Ternyata mereka sudah mengetahui semuanya, apa yang harus aku lakukan, batin pak Rahmat cemas didalam hatinya.
Nampak pak Rahmat mengusap peluh dikeningnya, lalu pak Kardi pun menatapnya dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Pak Rahmat tidak usah cemas begitu, ini hanya dugaan Aceng saja mudah-mudahan tidak ada yang berbuat kriminal disini". Ucap pak Kardi dengan suara beratnya.
"Oh iya pak, saya jadi cemas berada disini lama-lama setelah mendengar ceritanya". Tukas pak Rahmat dengan menghembuskan nafasnya panjang.
"Maaf ya pak baru pertama berkunjung malah saya cerita yang tidak-tidak, ngomong-ngomong bapak butuh berapa kilo sayuran nya?". Tanya Aceng seraya bangkit dari duduknya.
"Saya beli enam kilo dulu pak, kalau setiap hari pesanan banyak saya akan kembali kesini lagi". Ujar pak Rahmat seraya berpamitan pada pak Kardi.
Kemudian pak Rahmat bersama Aceng berjalan ke kebun sawi nya, terlihat pak Rahmat sangat ketakutan, hawatir jika Aceng mencari tau apa yang telat dilihatnya tadi.
"Sebenarnya aku masih penasaran dengan cerita pak Aceng tadi, memang darah yang bapak lihat sudah pasti bukan darah binatang". Ucap pak Rahmat bertanya pada Aceng.
"Aku juga kurang tau pak, itu hanya dugaanku saja, kalau memang darah binatang masa iya binatangnya diseret ke jalan setapak, kenapa tidak langsung di angkat saja". Jelas Aceng yang sibuk memetik hasil kebun nya.
"Kalau binatangnya besar macam kerbau ya pasti diseret to pak, bisa encok pinggang kalau di angkat". Seloroh pak Rahmat berusaha mencairkan suasana.
"Wah benar juga ya pak, mungkin itu darah kerbau atau sapi yang diseret pemiliknya hahaha". Gurau Aceng membalas candaan pak Rahmat.
Dan setelah selesai mengambil hasil kebun nya, pak Rahmat segera membayar sayuran yang dibelinya.
"Saya permisi dulu ya pak, ini uang nya silahkan diterima dengan sedikit tips dari saya, karena pak Aceng sudah repot-repot mengambilkan sayuran di pagi buta begini". Tukas pak Rahmat seraya menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah.
Lalu Aceng pun menerima uang yang diberikan pak Rahmat, nampak kedua mata Aceng membulat karena melihat noda darah di lengan baju pak Rahmat, tapi Aceng sungkan untuk bertanya dan hanya bisa menerka-nerka dengan pikiran nya.
Kenapa ada noda darah di pakaian pak Rahmat ya, apa jangan-jangab ada hubungan nya dengan dia, toh ini pertama kalinya dia datang kesini, batin Aceng didalam hatinya penuh tanya.
*
*
...Yuk kak berikan dukungan pada Author dengan memberikan Vote dan hadiahnya, selain itu kalian berkesempatan mendapatkan giveaway dari Author loh, terima kasih semua yang bersedia mendukungku 💕...
...Bersambung....