
"Sekar aku tidak menyangka jika kau bisa melakukan perbuatan rendahan macam itu, lancang sekali kau datang ke alam manusia, untuk mengancam Lala supaya dia tidak bertemu denganku lagi." seru Elang dengan membulatkan kedua matanya.
"Tapi kangmas dia telah menghianatimu, dia tidak pantas untuk bersamamu, kenapa kau masih saja membelanya." sahut Sekar dengan amarahnya.
"Apakah kau yakin jika Lala menghianatiku, kau pasti tau kebenaran nya kan, coba katakan sekali lagi padaku jika memang Lala telah menghianatiku." cetus Elang menatap tajam kedua mata Sekar.
"Ehm aku aku tidak tau, bukankah kangmas sendiri yang melihatnya." ucap Sekar gugup.
"Apakah kau yakin tidak tau apa-apa Sekar, tatap kedua mataku baik-baik, dan katakanlah jika kau tidak mengetahui apapun." tukas Elang dengan membulatkan kedua mata nya.
"Lepaskan aku kangmas, kenapa kau menjadi sangat marah padaku, hanya karena aku memperingatkan Lala, supaya dia tidak mengusikmu lagi." jelas Sekar mendengus kesal.
"Kau tau Sekar jika tujuanmu bukan untuk itu, bahkan kau tau dengan baik jika Lala tidak pernah menghianatiku, semua adalah siasatmu bersama Bagaskara, kau bersama saudara tiriku telah bersekongkol, kalian berdualah yang telah menghianatiku, dan lau mendukung semua perbuatan kuranf ajar Bagaskara, kau adalah istri tertua ku seharusnya kau selalu mendukungku, bukan nya menusukku dari belakang, dengan bersekongkol bersama saudara tiriku, aku akan memikirkan hukuman apa yang pantas untukmu Sekar, jadi ku peringatakan padamu, jauhi Lala dan jangan ganggu hidupnya lagi, jika tidak aku akan memberikanmu hukuman yang lebih berat lagi, untuk beberapa waktu kau tidak perlu kembali ke istanaku, tinggalah disini untuk merawat romo mu, akan ku pikirkan hukuman yang tepat untukmu." cetus Elang seraya melesat pergi meninggalkan Sekar sendirian.
Nampak Sekar berlinang air mata pilu, hati nya tersayat dengan ucapan Elang, terlihat amarah yang besar pada suami nya, Sekar tidak menyangka jika perbuatan nya, akan terbongkar secepar ini dihadapan suami nya, Sekar meratapi nasibnya, dia berderai air mata seraya meluapkan isi hati nya, perempuan gaib itu sangat murka, dia tidak bisa menerima jika Elang membela Lala dan menghardiknya seperti tadi, dilemparkan nya segala barang yang ada disekitarnya, Sekar murka dan berteriak histeris dengan kata-kata kasar nya, terdengar amarah Sekar ke seluruh istana itu, Abimana yang sedang menemani kakek nya, merasa ada yang janggal dengan amarah ibunda nya.
"Cucuku pergilah temui ibundamu, sepertinya dia sedang sangat terguncang, hanya kau saja yang dapat menenangkan nya, dengan kondisiku yang seperti ini, aku tidak bisa meredakan amarah nya." tukas sang raja yang terbaring lemah.
Setelah itu Abimana melesat menghampiri sang ibunda, nampak ibunda nya sedang berderai air mata, dengan amarah yang masih nampak dikedua mata nya, dengan perlahan Abimana melesat mendekati ibunda nya itu, diraih nya kedua tangan nya lalu Abimana menggenggam kedua tangan perempuan yang melahirkan nya iti.
"Ibunda jangan luapkan amarahmu seperti, itu hanya akan semakin menyakiti hatimu, lebih baik kita temani kakek yang sedang sakit, apakah ibunda mau seperti ini terus, aku tau romo datang dan memarahi ibu, tapi percayalah padaku bu, romo tetap mencintai ibunda, dia hanya kesal karena romo telah membohonginya, percayalah padaku bu, aku akan membuat hubungan ibunda dengan romo kembali seperti semula." ucap Abimana menenangkan hati sang ibu seraya memeluknya.
Nampak amarah Sekar sedikit mereda, perempuan gaib itu memeluk anaknya erat, dia mengatakan pada anaknya, jika romo nya telah mengetahui semua rahasianya.
"Romo mu sangat kecewa padaku nak, dia pasti sangat membenci ibunda, aku tidak tau lagi apa yang harus ku lakukan, untuk merebut hati nya dan mendapat kepercayaan nya huhuhu." ucap Sekar berderai air mata.
"Ibunda perlu bersandiwara sedikit, berbaik hati lah dengan ibu tiriku itu, setelah romo mempercayai jika ibunda sudah berubah, pasti romo akan memberikan kepercayaan pada ibu lagi." tukas Abimana dengan senyum liciknya.
Apakah aku bisa berpura-pura baik pada Lala, sejak lama aku sudah membenci nya, bagaimana mungkin aku bisa berbaik hati padanya, batin Sekar didalam hatinya.
"Aku tau apa yang ada didalam batin ibu saat ini, pasti susah untuk berbuat baik pada manusia yang sangat ibu benci, tapi semua yang ibu lakukan adalah demi kebahagiaan ibunda sendiri, ibu tidak perlu risau aku akan selalu membantu ibunda." jelas Abimana memberi semangat pada sang ibunda.
Sementara itu Elang yang kembali ke istana nya, nampak sangat murka dan bergegas masuk ke dalam ruangan khusus nya, Elang sudah kehabisan kesabaran, semua tragedi yang terjadi di hidupnya semua karena ulah Bagaskara, Elang berusaha menggunakan kekuatan leluhur nya, untuk mencari dimana keberadaan Bagaskara, nampak Elang bertapa di dalam ruangan yang sangat gelap tanpa penerangan, dan ketika Elang sudah masuk ke dalam sana, tidak ada yang berani menemui nya, bahkan Mekar yang mendengar kabar, jika ada masalah antara Elang dan juga istri tertua nya, tidak berani mendekati Elang sama sekali, apalagi setelah suami nya itu masuk ke dalam ruangan khusus nya.
Disaat Mekar ingin melihat melalui batin nya, nampak Senopati menghampirinya, anak sambung nya itu mengatakan padanya, jika dia memiliki firasat buruk tentang ibunda nya.
"Jika kau merasa cemas pergilah nak, temui ibundamu mungkin saja dia sedang membutuhkan bantuanmu." ucap Mekar dengan senyum ramah nya.
"Baiklah bu aku pergi dulu, sampaikan pada romo jika aku menemui ibundaku." seru Senopati seraya mengecup punggung tangan Mekar.
Wuush...
Senopati melesat ke alam manusia, dilihatnya rumah ibunda nya kosong tak berpenghuni, lalu Seno menggunakan kekuatan nya, untuk melihat dimana ibunda nya saat ini, dan setelah mengetahui keberadaan ibunda nya, Senopati bergegas melesat ke desa Rawa belatung, nampak Lala sedang membantu di dapur rumah Anto, dia tengah mengupas bawang untuk bahan masakan, lalu Senopati menampakan wujudnya dihadapan ibunda nya itu.
Senopati anakku kau datang menemui ibu nak, batin Lala dengan menyunggingkan senyum nya.
Setelah itu Lala melangkahkan kaki nya, dia berjalan ke belakang rumah itu, untuk berbicara dengan anaknya.
"Senopati anakku kau datang menemui ibu nak, ibu sangat merindukanmu." ucap Lala berlinang air mata seraya memeluk erat anak semata wayang nya.
"Ibu perasaanku tidak tenang memikirkanmu, apakah ibunda memiliki masalah, aku akan membantu ibunda jika ibu memiliki masalah dengan siapapun itu, dan wajah ibu nampak sendu apakah ibu menangis tadi, katakanlah padaku siapa yang telah menyakiti ibu?." tanya Senopati dengan mengkerutkan kening nya.
Jika aku mengatakan semuanya pada Senopati, dia pasti akan mengadu pada romo nya, dan mbakyu Sekar akan semakin murka padaku, aku tidak mau ada orang lain yang terluka, batin Lala didalam hati nya resah.
Nanpak Lala hanya menundukan kepala nya, lidahnya seakan kelu untuk mengatakan sesuatu, lalu Senopati menggenggam erat kedua tangan ibunda nya, dia meyakinkan ibunda nya jika dia tidak akan berbuat sesuatu dengan gegabah, dan meminta ibunda nya untuk membagi duka nya padanya.
"Ibunda tidak perlu ragu untuk membagi semua duka itu padaku, aku berjanji pada ibu, jika aku akan menyelesaikan semua masalah yang membebani pikiran ibu." cetus Senopati meyakinkan ibunda nya.
*
*
...Jangan lupa mampir ke Novel horor Author yang baru, Dendam Perempuan Berjubah Merah, simak dan tunggu kelanjutan cerita nya, makasi all 😉...
...Bersambung....