
Setelah pak Sugeng sampai di hutan angker itu dia meletakan bayi perempuan pak Budi didepan pohon besar, lalu pak Sugeng menghidupkan dupa dan membaca rapalan mantra untuk memanggil makhluk gaib penunggu hutan angker itu.
Kemudian kepulan asap dupa itu berubah bentuk menjadi wujud makhluk tinggi besar yang menyeramkan, nampak makhluk itu tertawa bahagia melihat tumbal yang pengikutnya sembahkan untuk dirinya.
"Karena kau telah memenuhi syarat yang kuberikan maka kau terbebas dari hutang janjimu padaku". Seru makhluk gaib itu dengan suara beratnya.
Sementara pak Sugeng yang tidak tega melihat bayi malang itu menjadi santapan makhluk gaib memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Dia melangkahkan kaki nya dengan gontai terlihat penyesalan menyeruak didalam dirinya, tapi dia terpaksa melakukan itu semua.
Sedangkan di rumah pak Budi terjadi keributan, karena istri nya terbangun dan melihat bayi mereka sudah tidak ada didalam kotak bayi, terlihat istri pak Budi menangis histeris membangunkan suami nya dengan paksa.
"Pak bangunlah anak kita menghilang". Pekik istri pak Budi menyadarkan nya dari tidur nyenyak nya.
"Kau jangan panik dulu bu, siapa tau ibumu sedang menggendong nya". Tukas pak Budi dengan wajah bingung nya.
"Apa maksudmu pak, ibuku sedang tidak ada di rumah karena hari ini ibu sedang berkunjung ke rumah adiknya". Cetus istri pak Budi dengan berderai air mata.
Terlihat pak Budi sangat terkejut mendengar ucapan istri nya, lalu dia melompat dari tempat tidur nya mencari keberadaan puteri kecil nya yang baru berumur satu minggu, karena tidak mungkin dia bisa menghilang begitu saja.
Pak Budi memeriksa semua ruangan yang ada didalam rumah nya, tapi tidak ada tanda tanda orang yang memasuki rumah nya, karena semua pintu rumah itu masih terkunci rapat dari dalam.
Nampak pak Budi sangat frustasi, dia mengusap rambut nya dengan kasar.
Siapa yang telah mengambil bayiku, batin pak Budi didalam hati nya.
Sedangkan istri nya terlihat tidak sadarkan diri setelah mengetahui jija bayi perempuan nya tidak ada di rumah mereka.
Lalu pak Budi membopong tubuh istri nya ke atas tempat tidur nya dan berusaha meminta bantuan pada warga sekitar, dengan tergesa gesa pak Budi berlari menuju pos kampling yang disana sudah ada kedua hansip yang sedang berjaga.
"Pak tolong aku, bayiku hilang begitu saja didalam rumahku". Jelas pak Budi dengan nafas yang tersengal sengal.
"Bagaimana bisa seorang bayi hilang begitu saja Bud". Tukas pak Eko dengan menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Aku tidak tau pak yang jelas rumahku masih terkunci dari dalam tapi bayiku tidak ada di rumah". Seru pak Budi dengan mata berkaca kaca.
Setelah mendengar penjelasan pak Budi, pak Dahlan bergegas membunyikan kentongan di pos itu, memberi tanda pada warga jika ada kondisi darurat disana.
Kemudian setelah beberapa menit nampak warga berdatangan ke pos kampling itu dengan wajah kebingungan, mereka menanyakan ada kejadian apa sehingga hansip disana membunyikan kentongan ditengah malam begini.
Lalu pak Dahlan menjelaskan semua kejadian yang pak Budi alami di rumah nya, mereka semua terkejut mendengar jika bayi pak Budi menghilang begitu saja dari dalam rumah nya.
Sementara pak Sugeng yang akan melewati pos kampling itu nampak terkejut melihat kerumunan warga.
Wah gawat mereka sudah tau jika ada bayi yang hilang, aku harus berpura pura ikut membantu mereka supaya tidak ada yang mencurigaiku, batin pak Sugeng didalam hati nya.
Kemudian dia melangkahkan kaki nya mendekati kerumunan warga dan bertanga seolah olah dia tidak tau apa apa.
Lalu pak Dahlan meminta semua warga berpencar untuk mencari bayi pak Budi yang hilang, mereka membawa pentungan dan juga obor atau pun senter untuk mencari bayi itu.
Terlihat pak Sugeng menyebarkan isu jika bayi pak Sugeng bisa saja diculik wewe gombel yang sangat menyukai anak kecil.
"Wah itu bisa saja terjadi pak, jika itu benar berarti desa ini semakin tidak aman". Seru pak Sapri dengan mengernyitkan dahi nya.
"Entahlah saya hanya menduga saja". Tukas pak Sugeng bersandiwara dihadapan warga lain nya.
Semua warga berpencar di seluruh penjuru desa Rawa belatung tapi tidak ada satupun dari mereka yang dapat menemukan bayi pak Budi, nampak wajah sedih pak Budi yang tidak tau harus berkata apa pada istri nya.
"Seandainya mbah Karto sudah pulang pasti kita dapat memecahkan misteri ini". Seru pak Sapri dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Tapi mbah Karto nya belum pulang juga dari kota". Cetus pak Dahlan dengan wajah cemas nya.
*
*
Sementara di rumah Rania, simbah yang mendengar berita hilang nya anak pak Budi nampak hawatir, simbah meminta bantuan Evana supaya ikut membantu warga mencari bayi yang hilang itu.
Kemudian Evana terbang di kegelapan malam memcari keberadaan seorang bayi yang hilang begitu saja, sampai pada Evana melintasi sebuah hutan angker dia mendengar tangisan seorang bayi.
Wuuusshhh...
Evana terbang mencari asal suara tangis bayi itu, lalu dia berhenti mendadak setelah melihat ada makhluk tinggi besar yang berusaha memangsa bayi mungil itu.
Lalu Evana berusaha menghentikan makhluk menyeramkan itu yang berusaha menerkam bayi tidak berdosa yang ada dihadapan nya.
Terlihat Evana melawan dengan bersusah payah, karena bagaimanapun ilmu nya tidak sebanding dengan makhluk gaib itu.
Kemudian Evana berusaha mengambil bayi itu dengan cara menipu makhluk gaib yang ada didepan nya, nampak Evana memanggil Petter anak nya dengan telepati dan memintanya membawa kembali bayi itu ke tempat yang aman, sementara Evana akan menggiring makhluk gaib itu menjauh dari Petter yang akan membawa bayi itu kembali ke desa.
Setelah berhasil membuat makhluk gaib itu menjauh dari pohon besar itu, terlihat Petter dengan cepat membawa bayi perempuan itu kembali ke desa.
Sedangkan Evana yang sudah tidak dapat menghindar lagi menjadi sasaran kemarahan makhluk menyeramkan itu.
Braaks...
Terlihat tubuh Evana terpelanting membentur pepohonan yang ada di hutan itu, karena dia sudah kehabisan tenaga untuk melawan Evana memutuskan untuk segera melarikan diri dari hutan angker itu, karena setelah makhluk gaib itu menyadari jika calon mangsa nya sudah hilang maka makhluk gaib itu akan semakin murka dan bisa membinasakan jiwa tanpa raga nya.
Kemudian Evana terbang melarikan diri kembali ke desa nya, nampak Petter sedang berdiri kebingungan dengan menggendong bayi perempuan pak Budi.
Lalu Evana mengembalikan bayi perempuan itu di pos kampling desa dengan seluruh luka yang ada pada tubuh hantu nya.
Setelah itu Evana dibantu Petter anaknya kembali ke rumah Rania dengan tubuh yang sudah lemah, terlihat simbah Parti begitu terkejut melihat kedatangan Evana dengan luka diseluruh tubuh nya.
"Apa yang terjadi pada mamamu nak". Ucap simbah Parti dengan membulatkan kedua mata nya.
Lalu Petter menceritakan pada simbah jika mama nya telah bertarung melawan penguasa hutan angker untuk menyelamatkan seorang bayi perempuan yang akan di mangsa oleh makhluk gaib itu.
*
*
...Bersambung....