
Hantu perempuan itu akhirnya berdiri, mengambang dengan kepala miring hampir putus.
Maria turun dari atas rak, lalu menghampiri si hantu penunggu kios.
"Pantas isteri pak penjual nasi ayam langsung meriang lihat kamu modelannya begini amat."
Kata Maria.
Hantu itu berusaha membenarkan letak kepalanya, tapi tetap saja tidak bisa. Sepertinya sudah menjadi kehendak alam semesta ia begitu.
"Ada apa bul?"
Tanya hantu itu pula pada Maria.
"Heh, ngapa manggil aku Bul?"
Maria protes.
Dia mulus begini dipanggil Bul.
"Bule."
Sahut si hantu.
Ah iya bener juga.
Maria akhirnya mantuk-mantuk, efek beberapa waktu yang lalu tawuran dengan Gendruwo yang penuh bulu, jadi sedikit trauma dengan kata Bul.
"Itu, orang yang jualan nasi ayam di bawah, kasihan dia jadi sepi, gara-gara kamu penampakan."
Kata Maria.
"Hah, iyakah? Masa aku yang berdosa dia jualannya sepi."
Hantu itu melongok keluar.
"Lah itu pak penjualnya curhat."
"Sapa tuh ganteng amat."
Hantu penunggu kios malah gagal fokus melihat Shane yang duduk di kursi plastik menemani Pak penjual nasi ayam sedang membakar ayam pesanan Zizi.
"Jangan macam-macam, dia pacar Zizi."
"Hah!! Ngumpet Bul... Cepat."
Hantu itu tiba-tiba menarik tangan Maria.
"Apaan sih..."
Maria mengibaskan tangannya.
"Ada Zizi, kamu tadi bilang ada Zizi."
Kata hantu penunggu kios.
"Lah kamu malah tahu Zizi."
Maria bingung.
Dia tahu Zizi tapi tidak tahu Maria, kan apa banget. Pasti tidak baca Novel, ya kan. Hihihi...
"Lah kamu ngga tahu Zizi? Aku dengar, Zizi itu seekor Naga dari Gunung Slamet, kapanpun hantu ketemu dia, pasti akan disembur pake jigong apinya."
"Weeeh informasi darimana sih itu?"
Maria geleng-geleng kepala.
Benar sekali, informasi saat ini berkembang sangat pesat, tapi sumbernya banyak yang ngawur.
"Banyak hantu bicara begitu. Tiap kita kongkow-kongkow malam Jumat Kliwon, pasti ada yang bahas Zizi."
"Waw."
Maria terpana, dengan ternyata keabsurdan Zizi sudah sampai ke hantu-hantu di sepenjuru kota.
"Zizi lagi makan nasi ayam."
Kata Maria.
"Heh..."
Hantu penunggu kios itu melompat tak percaya.
"Naga... dia naga, masa naga makan nasi ayam."
Hantu itu tak percaya.
"Hadeeeh, Zizi itu anak asuhku. Sini kalau ngga percaya..."
Maria akhirnya menarik gaun hantu penunggu Kios, menyeretnya keluar kios, yang jelas saja hantu itu jadi terjengkang.
Maria melayang turun menyeret hantu penunggu kios.
Pak penjual yang baru mengangkat ayam bakar dari atas arang dan meletakkannya di atas piring di gerobak, begitu melihat hantu penunggu kios melayang dalam kondisi terseok-seok langsung pingsan.
"Lah, dia pingsan."
Kata Mintul.
Shane langsung sigap menolong pak penjual nasi ayam.
Maria melempar hantu penunggu kios ke dekat Zizi.
"Apa sih Aunty, kasihan tuh pak penjual nasi ayam jadi pingsan."
Kata Zizi.
"Lha kan gimana, itu dia ngeyel kamu itu Naga."
Kesal Maria.
Hantu dengan kepala hampir putus itu menatap Zizi sambil dolap-dolop di samping Zizi.
Ia bingung kenapa Zizi yang katanya Naga ternyata gadis cantik tapi makannya banyak.
Zizi yang kesal ditatap hantu seperti menatap apa akhirnya menonyor kepala si hantu.
"Biasa aja liatinnya, dikira Zizi bolu kukus apa gimana."
Kesal Zizi.
Mintul cekikikan.
"Kapok."
Kata Mintul.
"Dia yang ganggu pak penjual ini, bikin jualannya sepi dan isterinya meriang lihat dia juga."
Kata Maria.
Zizi sambil makan ayam melihat hantu di dekatnya itu yang takut-takut pada Zizi.
Kata Zizi.
"Aku nggak ganggu kok, cuma pengin ikut hirup aroma aja."
Hantu itu membela diri.
"Aku kan baru dipindahin ke sini sama Ki Marta."
"Sapa Ki Marta?"
Tanya Zizi.
"Itu orang yang punya Jin bantuin orang-orang Cirebon dan sekitarnya buat usir hantu dari rumah mereka. Aku tadinya di pohon besar dekat alun-alun, tapi kemudian di sana juga dia naruh satu hantu bule kayak dia."
Hantu penunggu kios menunjuk Maria.
"Enak aja nyama-nyamain."
Maria menampol tangan hantu penunggu kios.
"Eh ngga percaya. Orang dia persis kamu, cuma dia lebih cantik, hihihihi..."
Maria jelas saja tersinggung.
Walhasil ditaboklah kepala yang hampir putus itu, dan langsung sukses menggelinding ke arah pak penjual nasi ayam yang baru saja sadar.
"Hah... Hah... Aaaaaa..."
Pak penjual pingsan lagi.
Shane mendengus, di lemparnya kepala itu ke arah tubuh si hantu.
"Duh kalian ini sebetulnya apa sih, kasar banget sama hantu."
Hantu penunggu kios itu jadi baper.
"Udah pasang dulu itu kepalanya."
Maria membantu memasang kepala si hantu lagi.
"Kurang bisa nempel."
Kata Maria.
Mintul mendorong piring nasinya.
"Nih pake nasi."
Kata Mintul.
"Percaya deh, aku tuh ngga niat penampakan, tapi aku juga ngga tahu kenapa mereka pada bisa lihat aku."
Kata hantu itu.
"Kan di sini juga banyak hantu pada suka ikut makan asap bakaran ayam, tapi mereka ngga kelihatan, tapi aku kok kelihatan ya."
Kata si hantu lagi bingung.
Flashback,
Malam pertama pindah kios.
Hantu penunggu kios mencium aroma bakaran ayam yang sangat menggugah selera.
Hantu itupun merayap keluar dari loteng, lalu turun ke bawah.
Banyak hantu lain sudah berdesakan di sana menggerumut tempat penjual nasi ayam yang juga ramai pembeli.
Hantu itu akhirnya ikut mendatangi tempat itu, tapi tiba-tiba, ada seorang perempuan yang sedang makan teriak histeris.
"Hantuuuuuuuu..."
Lalu ia pingsan.
Hantu itu celingak-celinguk, dari sekian hantu hanya dia yang terlihat.
Walhasil tempat makan itu heboh.
Dua hari berikutnya, kejadiannya terulang lagi, kali itu anak kecil yang melihatnya.
Dan tempat makan itu kembali heboh.
Terus menerus begitu, sampai akhirnya yang terakhir, hantu penunggu kios yang sudah berusaha menahan diri untuk tidak tergoda aroma bakaran ayam akhirnya tak mampu menahan diri.
Hantu itu turun lagi dari loteng kios, dan berdiri di samping ibu penjual nasi ayam yang sedang bakar ayam.
Hari masih cukup sore sebetulnya karena baru saja Maghrib.
Tapi...
Ibu penjual tiba-tiba kejang begitu melihat si hantu berdiri di sampingnya dengan kepala hampir putus dan rambut menjuntai sampai trotoar.
Ibu itu pingsan.
Hantu penunggu kios benar-benar putus asa.
Mau ikut makan saja susah amat.
Flashback berakhir.
Mendengar kisah sang hantu, Zizi terbahak-bahak.
Si hantu jadi tersinggung.
Sakiiit hati, sakiiiit...
"Kamu tuh salah waktu, tiap hantu punya masa lemah energi dia, dan juga masa energi dia naik, kamu muncul pas energi lagi naik, akhirnya kelihatan."
Kata Maria.
Hantu penunggu kios melongo.
"Bedainnya gimana?"
Tanya si hantu.
"Ya kamu lah yang ngerasain, dodol."
Maria jadi kesal.
"Kayak Aunty, ketawanya suka nembus alam manusia, hahhahaha..."
Zizi terpingkal.
"Manusia pada takut, padahal hantunya galau kelihatan, hahahaa..."
Zizi makin terpingkal.
**-------------**