Zizi

Zizi
121. Oooh Ternyata Dia


Mobil Shane yang melaju kencang akhirnya sampai di sebuah perempatan besar.


Shane mengambil arah kiri dan langsung menambah kecepatan saat di depan terlihat sebuah tembok tinggi Shane justeru menabraknya.


Ali saking syoknya memejamkan matanya dan...


Plaaas!!


Tiba-tiba mobil mereka berada di parkiran bawah gedung Rumah Sakit Alpha Centauri.


Ali celingak-celinguk.


"Apa ini?"


Ali takjub luar biasa.


"Dunia kita dan dunia mereka berkebalikan, apa yang terlihat ditutup di sana berarti di manusia adalah jalan, begitu juga sebaliknya. Itu kenapa mereka bisa menembus dinding dan lain-lain, sebetulnya karena di dunia mereka dinding kita di sana tidak ada."


Jelas Zizi pada Ali.


Zizi tiba-tiba seperti seorang senior yang baik yang mengajari juniornya menyikapi perbedaan dua alam yang mau tidak mau memang harus diketahui Ali.


Shane mencari tempat yang leluasa untuk memarkirkan mobilnya, setelah mobil parkir dengan baik, Zizi dan Ali turun lebih dulu, sedangkan Shane menyusul kemudian.


Ali berjalan dengan Zizi beriringan.


"Jika kau benar berpasangan dengan kak Shane, aku yakin anak-anak kalian akan sangat istimewa Kak Zizi."


Kata Ali.


"Macam kau dan Lori?"


Zizi melirik Ali yang terlihat tertawa kecil.


"Kenapa bahas dia tiba-tiba?"


Zizi merangkul Ali.


"Tak apa, hanya ingat saja."


Ujar Zizi.


Mereka baru akan masuk ke dalam bangunan utama Rumah Sakit, manakala ada sekelebat bayangan yang tiba-tiba Zizi lihat melintas cepat.


Zizi seketika langsung menatap ke arah bayangan tadi menembus dinding tempat parkir.


"Siapa tadi Kak Seng?"


Tanya Zizi pada Shane yang baru menyusul mereka.


"Perempuan, wajahnya tak terlihat, tertutup rambut, tapi bajunya saya merasa seperti tak asing."


Kata Shane.


Zizi meneruskan langkahnya bersama Ali menuju lift.


"Apa hantu perawat?"


Tanya Zizi.


Shane menggeleng.


"Bukan perawat, pakaian biasa, tapi sepertinya saya pernah melihatnya Nona."


Ujar Shane.


Zizi dan Ali masuk ke dalam lift, begitupun dengan Shane.


Saat pintu lift akan menutup, terlihat hantu seorang gadis seolah melayang menuju mereka dengan wajah ketakutan.


"Kau lihat tadi Kak?"


Tanya Ali yang posisinya paling bisa melihat jelas sosok hantu itu.


"Gadis?"


"Ya, gadis dengan seragam zombie hotel."


Kata Ali.


Zizi begitu mendengar langsung menatap Ali.


"Serius?"


Tanya Zizi.


Ali mengangguk.


"Tentu saja aku serius Ka."


Kata Ali, dan...


"Ah, Zombie hotel bukankah milik Paman Zion? Apa..."


Ali belum selesai bicara manakala Zizi tiba-tiba dengan kekuatannya menghentikan Lift dan memutar arah lift untuk turun lagi.


"Waw."


Ali melongo.


Pulang dari Merapi kakak sepupunya kini semakin keren. Batin Ali.


Jelas keputusannya untuk pergi ke Indonesia menemui Zizi nyatanya adalah keputusan yang terbaik.


Begitu sampai di bawah lagi Zizi menendang pintu lift memaksanya terbuka.


Pintu lift terbuka dan Zizi langsung melompat keluar dari lift.


Shane mengikuti di belakangnya begitu juga Ali.


"Ampuun... Ampuun..."


Terdengar suara rintihan seperti suara seorang gadis di sekitar tempat parkir yang luasnya seperti perumahan Othor tinggal.


Zizi berlarian ke sana ke mari, Shane juga melompat ke atas beberapa mobil untuk mencari sosok yang suaranya begitu menghiba itu.


"Heeey, di mana kau?"


Tanya Zizi setengah berteriak.


Suara itu seolah terbawa angin.


Hingga...


"Itu Kak di sana!"


Teriakan Ali membuat Zizi sontak menoleh ke arah Ali yang menunjuk ke arah menuju keluar parkiran.


Zizi dan Shane segera mengejar hantu gadis dengan seragam hotel zombie yang kini diseret hantu perempuan yang wajahnya tertutup rambut.


"Ah yah... Zizi ingat Kak."


Kata Zizi sambil terus mengejar.


Begitu nyaris sampai keluar parkiran, keduanya berpapasan dengan rombongan mobil Zia dan Zion yang dikawal dua mobil pengawal mereka.


Zizi tanpa peduli main lompat saja menginjak mobil-mobil itu dan tetap keluar dari parkiran, sedangkan Shane jelas saja tak bisa melakukan hal sebar-bar itu.


Shane terlihat menyempatkan diri membungkuk memberi salam pada Zia dan Zion yang melongok dari mobil, baru setelah itu Shane kembali melesat mengejar Zizi yang mengejar kedua hantu tadi.


Ali yang tertinggal tampak menyerah, nafasnya tersengal-sengal.


Lelah.


Rombongan mobil Zia dan Zion akhirnya berhenti dan parkir di tempat yang tak jauh dari mobil Zizi.


Ali berjalan mendekati Paman dan Bibinya yang baru turun dari mobil.


"Ada apa Ali, kenapa itu Zizi dan Shane main kejar-kejaran?"


Tanya Zia bingung.


"Bibi tidak lihat tadi ada hantu memakai seragam zombie hotel diseret hantu lain?"


Tanya Ali.


Zia melongo.


"Benarkah?"


Tanya Zia.


Ali mengangguk.


Sementara itu Zizi yang terus mengejar hantu yang menyeret hantu karyawan zombie hotel itu terlihat melompat di atas atap-atap gedung dengan lincah.


Zizi terus mengawasi pergerakan hantu itu hingga akhirnya begitu sampai di dekat taman kota Zizi segera melompat ke atas pohon dan menerjang hantu yang menyeret hantu karyawan zombie hotel.


Hantu karyawan Zombie hotel yang tak lain adalah Dewi itupun terlepas dari cengkeraman si hantu perempuan yang wajahnya tak jelas karena tertutup rambut.


Hantu Dewi ditangkap Shane, sementara Zizi mengurus si hantu wajah tak jelas.


"Baju ini, rok ini, aku masih ingat betul kau siapa."


Kata Zizi yang kemudian menjambak rambut si hantu perempuan yang rambutnya menutupi wajahnya.


Dan begitu rambut yang menutupi wajah itu disingkap Zizi, tampaklah wajah yang jelas makin tak asing pula untuk Zizi dan Shane.


"Mayat yang memangku boneka di Gunung Salak, ternyata benar ini kau."


Zizi menyeringai.


Hantu perempuan itu balas menyeringai.


Matanya yang terlihat basah oleh darah mendelik ke arah Zizi membuat Zizi jadi kesal.


Plak!!


Zizi menabok kepala hantu itu.


"Biasa saja ngelihatinnya."


Kata Zizi.


Hantu itu meringis, tabokan Zizi pada kepalanya sungguh-sungguh seperti nyaris bakal membuat kepalanya copot.


"Dia membunuhku Nona... dia membunuhku dan terus saja memburuku."


Kata hantu Dewi menunjuk hantu perempuan yang kini dalam cengkraman Zizi.


Zizi yang mendengar pernyataan hantu Dewi jelas saja langsung melirik si hantu mayat yang memangku boneka itu.


"Dia lebih dulu yang membunuhku."


Kata si hantu itu.


Zizi gantian menoleh ke arah hantu Dewi lagi.


Hantu Dewi menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat, seperti rem nya doll.


Shane langsung menekan kepala hantu Dewi agar bisa berhenti menggeleng.


Hantu Dewi matanya muter-muter melihat banyak bintang di depannya.


"Kau merebut tunanganku, lalu kau membujuknya membunuhku!!"


Hantu itu berteriak nyaring sambil menunjuk hantu Dewi.


"Mengaku saja Wi...!!"


Kata hantu itu lagi, tepat saat UFO othor lewat dan anginnya membuat rambut hantu itu menutupi wajahnya lagi dan rambutnya juga jadi ada yang masuk mulut.


"Huaaaah... jhuaaaaah..."


Hueeek... hantu itu muak sendiri mulutnya kemasukan rambutnya yang bau.


"Tidak, itu fitnah!! Fitnah lebih kejam dari pembunuhan!! Dan kau sudah membunuhku, jadi kau sungguh kejam kuadrat!!"


Kata Dewi.


Haiish... Zizi mendesis.


**--------------**


Malah pada ribut dewek, ya wislah Othor mau bikin kopi.